Para Penyelinap Jeriji Bui

 

Di pojok ruangan aula LPKA Kutoarjo, tampak boks plastik berukuran tidak terlalu besar. Dari luar, samar-samar bisa dilihat bahwa isinya tak terlalu penuh. Mungkin hanya separuhnya, bisa jadi lebih sedikit.

Beberapa orang yang berada di sekitarnya mungkin tidak akan tahu apa isi boks tersebut. Kecuali mereka mau berpayah membuka tutupnya dan meluangkan waktu untuk melongok sebentar ke dalam boks. Malah, bisa jadi, karena tak pernah disentuh, di atas boks seringkali dijejali beragam benda. Membuatnya semakin terhimpit dan tak terlihat.

Begitulah kadang kondisi boks-boks plastik wadah buku yang sengaja kami tinggal di LPKA, rutan, dan lapas. Buku-buku yang kami tinggal—agar anak di lapas leluasa meminjam dan tertarik meluangkan waktu untuk membaca—butuh waktu lebih lama untuk menemui pembacanya.

Tak selalu berhasil memang, seringkali anak-anak bilang bahwa bukunya tak menarik, membosankan, atau paling sering mereka ogah membaca karena rasa malas kadung menggelayut. Meski demikian, kami tak gentar terus membawa buku-buku baru. Hampir setiap dua minggu sekali, ketika kami berkunjung ke lapas, buku-buku kami ganti dengan judul yang baru. Memutarnya dari satu lapas ke lapas lain. Karenanya, program ini kami beri nama Buku Muter (berputar).

 

Mulanya Penuh Kendala
Putaran buku Kapas tak selalu berjalan mulus. Mulanya, ketika kami membawa buku-buku bacaan ke lapas, para petugas berkeras agar buku-buku dibawa kembali, “Jangan ditinggal, nanti hilang,” kira-kira begitu ucap mereka khawatir. Para petugas hanya tak bisa menjamin bahwa buku-buku yang kami bawa akan tetap utuh, cemas bukunya akan rusak, tak terawat, bahkan raib tak berjejak. Seperti yang sudah-sudah mungkin terjadi di lapas.

Kami tak bisa menyalahkan para petugas atas hal tersebut. Justru kami berterima kasih atas perhatian yang diberikan, tapi tekad kami bulat, buku tidak kami bawa hanya untuk dibawa kembali pulang. Dari awal kami sudah meniatkan diri, buku-buku akan kami tinggal agar anak binaan bisa mendapat alternatif kegiatan dan memiliki akses terhadap buku bacaan.

 

Sesudahnya, dengan beragam cara kami yakinkan para petugas bahwa ketika anak-anak diberi kepercayaan, merawat buku misalnya, mereka bisa bertanggung jawab. Kami berikan tanggung jawab ke anak-anak untuk merawat dan menjaga buku-buku tersebut. Ada yang bertugas mencatat peminjaman, menagih pengembalian, merapikan buku-buku, dan sebagainya. Dengan itu, kami mengajarkan cara bertanggung jawab dan memberikan mereka kesempatan untuk membuktikan diri bahwa mereka bisa diberi tanggung jawab.

Dan ya, tak semudah yang dibayangkan! Ada saja buku-buku yang halamannya robek, dipenuhi corat-coret, bahkan tak bisa dilacak keberadaannya. Kami sepenuhnya paham ini akan terjadi, dan yang kami lakukan adalah sekali lagi menaruh rasa percaya bahwa mereka adalah anak-anak yang bisa diberi tanggung jawab. Setelahnya, buku-buku yang raib kembali dengan sendirinya, buku tak lagi dipenuhi coretan, meski satu dua buku kumal dan koyak di beberapa halaman. Tapi, kami justru bahagia, artinya buku-buku tersebut tak lagi teronggok diam, namun perlahan berputar menemui para pembacanya. Justru, kami terharu, lambat laun dan dengan proses panjang, anak-anak mulai membaca buku-buku yang kami bawa. Setidaknya buku-buku tersebut bisa menemani mereka membunuh waktu.

 

Mengapa membaca
Hari-hari yang anak-anak di penjara jalani tak selalu berwarna. Terkadang, mereka bahkan hanya harus terus melakukan satu hal berulang-ulang. Selain dilanda kebosanan, anak juga pasti diserang kebingungan apa yang harus mereka lakukan untuk merintang-rintang waktu. Padahal, di usia remaja, anak harus terus mengembangkan kemampuan berimaji dan daya kreativitasnya. Anak-anak seharusnya terus mendapat asupan ilmu dan dukungan literasi.

Masa anak-anak dan remaja adalah saat kondisi kognitif serta memori berkembang. Dengan menyediakan akses bacaan, kami berharap dapat menanamkan kebiasaan baru pada anak-anak sehingga nantinya mereka bisa meneruskan kebiasaan tersebut di luar lapas. Syukur-syukur mereka bisa jatuh cinta dengan buku dan menyebarkan virus membaca kepada orang lain. Semoga.

Dengan membaca buku, kami harap anak-anak terhibur, bisa mendapat inspirasi, dan berpikiran terbuka terhadap berbagai hal. Kami tak bisa terus menemani mereka, aktivitas pendampingan pun hanya kami lakukan dengan waktu terbatas. Tapi, kami harap buku-buku yang ada dapat mewakili kami menemani hari mereka. Meski harus dibatasi dinding lapas, kami harap mereka bisa ‘berkelana kemana saja’ dengan membaca buku. Kami ingat bahwa Bung Hatta pernah berujar, “Aku rela dipenjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.”

 

Terus Berputar

Kami kini terus merentas jalan ini, terus menularkan virus membaca sambil berharap dukungan dari berbagai pihak. Sejak tahun 2014, saat Buku Muter secara resmi terbentuk, begitu banyak dukungan yang diberikan, baik dari dalam maupun luar lapas. Dukungan penuh kepada program literasi Kapas diberikan salah satunya oleh Eko Bekti Susanto, yang kala itu dengan gigih memperjuangkan berdirinya perpustakaan di Lapas Kelas IIB Klaten.

 

Dengan semangat literasi, Pak Eko yang saat itu menjabat sebagai Kalapas menembusi berbagai pihak untuk mendukung gagasannya mendirikan perpustakaan di dalam lapas. Gayung bersambut, gagasan Pak Eko mendapat respons positif, donasi berupa buku pun didapat dari berbagai pihak, termasuk dari masyarakat umum. Kini, para warga binaan di Lapas Kelas IIB Klaten dapat mengisi kegiatannya dengan membaca buku di perpustakaan.

 

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Hukum dan HAM juga memberi sinyal positif mengenai gerakan literasi dari dalam penjara. Kemenkumham tengah menggodok program remisi literasi yang mengadaptasi aturan Brazil tentang pemberian insentif kepada narapidana yang gemar membaca buku. Di Brazil, bagi mereka yang berhasil menyelesaikan membaca sebuah buku akan mendapatkan potongan masa hukuman 4 hari. Dalam setahun, apabila bisa menyelesaikan 12 buku, mereka bisa bebas 48 hari lebih cepat dari masa tahanan.

Uniknya, sistem yang mulai diberlakukan tahun 2012 ini tak sekadar meminta narapidana membaca, tapi juga menulis ulasan buku yang dibaca. Para petugas akan menilai tulisan tersebut untuk memutuskan pengurangan masa hukuman. Program yang diberi tajuk “Redemption Through Reading” tersebut ingin narapidana tak hanya menghabiskan waktu merenungi kesalahannya, melainkan juga membawa kebiasaan baik saat menghirup udara bebas nanti. Peter Murphy yang menulis untuk Reuters.com mewawancarai Andre Kehdi, pengacara yang mengepalai proyek sumbangan buku untuk penjara di Brazil. Kehdi mengatakan, “(Dengan membaca) seseorang akan meninggalkan penjara dengan pencerahan dan pandangan lebih luas terhadap dunia.”

Sistem yang diterapkan Brazil tersebut menjadi cara kreatif menularkan virus membaca, terutama bagi mereka yang terpaksa tinggal di dalam lapas dengan aktivitas yang terbatas. Usaha menumbuhkan kegemaran membaca tersebut tentu membutuhkan proses panjang dan berliku. Proses yang berjalan juga mungkin berputar-putar, seperti buku-buku yang kami putarkan di setiap perjumpaan dengan anak-anak di lapas. Namun, sekali lagi, kami percaya hal baik akan selalu menemui jalannya. Seperti buku-buku kami yang akhirnya bisa menyelinap di antara jeriji bui dan di hati anak-anak.

Bukankah Dia Anak yang Kuat?

Bella Melindha Hadi

Mahasiswa Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta/Relawan Magang Kapas

 

Hidup sebagai anak rantau menumbuhkan kebanggaan tersendiri bagiku. Aku merasa memiliki kemandirian di atas teman-teman lain yang hingga saat ini masih tinggal bersama orang tuanya. Kemandirian dan kepercayaan yang ditanamkan oleh kedua orang tuaku membuatku merasa kehadiran mereka tidak selalu kubutuhkan.

Ternyata, banyak teman tak merasakan “kenikmatan” yang sama ketika menjadi anak rantau. Bahkan, banyak di antara mereka yang seringkali memilih pulang ke rumah apabila ada kesempatan.  “Ah manja kamu! Cuma pusing sampai ingin pulang ke rumah,” ejekku pada salah satu teman kosku dulu.  Padahal hampir tiap minggu Continue reading “Bukankah Dia Anak yang Kuat?”

Menabur Benih Cinta untuk Anak-Anak LPKA

Oleh Denis Kusuma

(Sekretaris dan Keuangan Sahabat Kapas)

 

Ketika Anda memberi, entah perhatian, waktu, tenaga, uang pada orang yang membutuhkan, Anda sedang menabur benih cinta, dan cinta tak pernah gagal.

(Rum Martani)

 

Kutipan cantik dari buku Karena Hidup Sungguh Berharga karya Rum Martani tersebut menjadi bekal aktivitas saya hari ini. Mengawali aktivitas pukul empat dini hari, setelah melaksanakan doa pagi dan bersiap-siap, saya bergegas menuju titik kumpul keberangkatan di Stasiun Balapan Solo. Pagi ini saya bersama relawan Sahabat Kapas lainnya akan melakukan perjalanan menuju Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kutoarjo. Kami harus menempuh kurang lebih 2,5 jam perjalanan dengan kereta dan dilanjutkan mengendarai angkutan umum untuk sampai tujuan. Continue reading “Menabur Benih Cinta untuk Anak-Anak LPKA”

Masih Ada Pelangi di Balik Jeruji

Oleh Anggi Nur Cahya Trivi

(Relawan Sahabat Kapas/Mahasiswa Psikologi UNS)

(Valeria Boltneva/pexels.com)

Siang itu, suasana Kantor Sahabat Kapas tiba-tiba berubah semarak dan ceria. Salah seorang relawan Kapas, Rahayu, membagikan kabar gembira bahwa salah seorang anak didik lembaga pemasyarakatan (andikpas) yang kami dampingi telah bebas. “Ax sudah keluar loh… sekarang dia jadi guru mengaji di rumahnya!” seru Rahayu yang ditimpali dengan tepuk tangan dan tawa gembira dari seluruh relawan yang hadir.

Rasa haru dan gembira selalu merayapi hati kami kala mendengar andikpas yang kami dampingi dapat menghirup udara bebas, termasuk Ax. Ia adalah andikpas Wonogiri yang rajin mengikuti kegiatan pendampingan oleh Sahabat Kapas. Dari sekian banyak andikpas, perbincangan dengan Ax meninggalkan kesan mendalam bagi saya.

Respons yang Berbeda

Perjumpaan pertama saya dengan Ax terjadi pada 13 Maret 2018. Kala itu, saya kebagian tugas untuk melakukan kegiatan pendampingan di Lapas Wonogiri. Saat menyapa dan memperkenalkan diri, respons andikpas sangat pasif dan cenderung menutup diri. Saya sama sekali tidak terkejut dengan respons “dingin” mereka. Bahkan, sejak jauh-jauh hari, Mbak Dian Sasmita sudah mengingatkan bahwa anak-anak kadang akan bersikap sangat tertutup terhadap orang yang baru dikenalnya. Saya ingat Mbak Dian pernah menyampaikan, “Respons tersebut merupakan salah satu bentuk pertahanan diri yang umum andikpas lakukan saat pertama kali bertemu. Ini dikarenakan kondisi khusus yang mereka alami, agar tidak “dimanfaatkan” oleh orang asing.” Oleh karena itu, saya tetap bersikap welcome dan berusaha menempatkan diri sebagai observer, sementara pendamping lain melakukan kegiatan.

Saat kegiatan tengah berlangsung sekira 50 menit, ada seorang andikpas yang meminta izin bergabung mengikuti kegiatan. Melihat wajah baru, saya pun memperkenalkan diri kembali. Tak dinyana, saya mendapat respons hangat dan sebuah senyuman dari andikpas tersebut. Ya, dialah Ax, seorang andikpas yang merespons saya dengan cukup berbeda. Bahkan ia menjawab dengan antusias ketika saya bertanya apakah Ax masih bersekolah. Tanpa malu-malu, ia menjawab masih duduk di bangku kelas IX salah satu SMP negeri di Wonogiri.

Ia juga mengaku tetap ingin melanjutkan pendidikannya setelah bebas dari lembaga pemasyarakatan nantinya. Sikap antusiasme Ax meninggalkan kesan mendalam bagi saya.

Ax sebelumnya memohon maaf karena terpaksa datang terlambat kegiatan pendampingan karena harus menyelesaikan tugas sebagai tahanan pendamping (tamping) terlebih dahulu. Tamping adalah sebuah tugas yang disematkan bagi narapidana yang memiliki penilaian baik. Tugas tamping adalah membantu petugas dalam aktivitas sehari-hari di dalam lapas, misalnya mengerjakan tugas dapur, kegiatan ibadah, dan kegiatan lainnya.

Tetap Belajar agar Lulus Ujian

Kali kedua melakukan pendampingan di Lapas Wonogiri, para andikpas sudah cukup terbuka dengan saya. Mereka mulai banyak bercerita mengenai keluarga dan kehidupan yang mereka jalani sebelum terpaksa mendekam di dalam lapas. Sayangnya, tidak semua andikpas mengikuti kegiatan pendampingan saat itu. Salah seorang yang absen adalah Ax yang ternyata tengah mengikuti ujian nasional di SMP tempatnya bersekolah dahulu.

Rasa penasaran menghinggapi perasaan saya, bagaimana bisa ia mempersiapkan mengikuti ujian nasional dalam keadaan yang serba terbatas? Rasa penasaran tersebut terjawab ketika pada kegiatan pendampingan berikutnya Ax datang mengikuti kegiatan Kapas. Saya pun dengan antusias menanyakan jalannya ujian nasional yang sempat ia ikuti tempo hari. Ax menceritakan bagaimana guru tempat ia bersekolah tetap membantunya belajar dengan membawakan buku pelajaran dan materi UNBK. Ia juga sempat bercerita mengenai kondisi di dalam sel saat Ax harus belajar sedangkan teman sekamarnya sedang bermain. Selain itu, Ax juga selalu menyempatkan belajar di sela-sela kesibukan sebagai tamping kantin lapas.

Tak Ingin Orang Tua Makin Kecewa

Semua usaha dan kerja keras tersebut Ax lakukan semata-mata karena ia sangat ingin lulus sekolah menengah pertama. Ia mengaku tidak ingin makin mengecewakan kedua orang tuanya. Selain ingin lulus sekolah, Ax juga terus berusaha untuk memperbaiki diri. Ia tidak menyia-nyiakan kesempatan beribadah di bulan Ramadan. Di kala teman-temannya membatalkan puasa Ramadan karena berbagai godaan, Ax berusaha untuk menjalankan ibadah puasa penuh dan sungguh-sungguh. Ia banyak meluangkan waktu untuk membaca Alquran sembari menunggu waktu berbuka puasa.

Sebenarnya, sama seperti andikpas lain, Ax menyadari bahwa menjalankan ibadah puasa di lapas tidak benar-benar bisa dijalankan dengan khusyuk. Ada banyak godaan yang merintangi ibadah puasa mereka, misalnya banyak napi dewasa yang kedapatan merokok, harumnya masakan kantin, dan waktu berbuka yang dirasa sangat lama karena tidak ada kegiatan yang dapat mereka lakukan selagi menunggu azan magrib. Namun, saat ditanya apakah ia tergoda untuk membatalkan puasa, Ax dengan tegas menjawab tidak.

“Perbuatanku dulu mengakibatkan aku berada dan berkumpul dengan orang-orang yang kurang baik Mbak. Aku enggak ingin mengecewakan orang tuaku lagi dengan mengikuti kebiasaan-kebiasaan buruk teman-teman di sini,” ujar Ax dengan tegas.

Menurut saya, Ax mengajarkan kita banyak hal. Ia berusaha tetap membuka diri dengan orang yang baru dikenalnya, ia bahkan berusaha bersikap positif dan ramah. Di tengah segala keterbatasan akses belajar, ia tetap berusaha mempersiapkan ujian nasional dengan sebaik-baiknya. Ia bahkan bertekad lulus sekolah dan tidak menambah kekecewaan orang tuanya akan kondisinya. Keinginan kuat dan semangat yang ditunjukkan Ax membuat saya bergumam dalam perjalanan pulang sore itu, “Ya, masih ada pelangi di balik jeruji.”

Perjalanan Hari Ini

Deru mesin lokomotif dan peluit penjaga stasiun mulai terdengar di Stasiun Kutoarjo. Panasnya terik matahari di kota yang baru sekali kukunjungi ini terasa menembus sampai ke dalam tulang. Pikiranku siang ini melayang entah kemana, hal yang aku alami pagi ini benar-benar di luar batas logikaku.

Terdengar kembali panggilan untuk penumpang tujuan Solo untuk segera bersiap di jalur satu. Aku bergegas mendekati kereta yang sudah butut namun ditunggu banyak orang ini. Keadaan kereta yang masih kosong membuatku leluasa untuk memilih tempat duduk di pojok dekat toilet.

Perlahan kereta mulai meninggalkan Stasiun Kutoarjo, kembali pikiranku melayang ke kejadian yang aku alami. Pengalaman pertama pendampingan di sebuah tempat bernama Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kutoarjo. Kegiatan yang belum pernah aku lakukan sebelumnya. Sungguh tak pernah kubayangkan, hari ini aku masuk dan mendengar banyak cerita dari mereka.

Siapa mereka? Mereka adalah teman-teman baruku yang menjadikanku seakan gila hari ini. Mereka adalah anak-anak yang tinggal di LPKA Kutoarjo. Mereka telah sukses membuatku kagum, sehingga kekaguman itu membuatku menjadi seperti orang gila yang terus memikirkan kegiatan tadi. Mereka tak segan bermain dengan penuh keceriaan tanpa ada batas denganku, orang baru yang pastilah asing bagi mereka.

Tak terasa perjalananku sudah memasuki kota kesenian Yogyakarta, terdengar pengumuman bahwa kereta telah sampai di Stasiun Tugu. Bertambahnya penumpang membuat lamunanku dipaksa buyar seketika.

Ketika kereta melewati perlintasan dan membunyikan klakson, tiba-tiba aku teringat pada salah satu anak di LPKA Kutoarjo yang menitipkan kertas kepadaku. Penasaran, kubuka satu lembar kertas yang dilipat dengan rumit. Seperti sengaja agar tidak sembarang orang bisa membukanya. Seperti disambar petir di siang hari, aku membaca beberapa larik puisi di sana.

“Maafkan Aku”

Tuhan, maafkan aku yang tak pernah menjalankan kewajibanku

Ayah dan Ibu, maafkan aku yang tak pernah mendengarkan perkataanmu

Semua ini terjadi karena kesalahanku

Maafkan aku.

Aku mengulang beberapa kali membaca puisi sederhana yang sangat mengena itu, hingga air mataku benar-benar menetes. Aku menangis karena aku menginggat benar ceritanya. Teman baruku ini sangat merindukan ayah ibunya. Ayahnya telah lama pergi. Hanya ada ibunya yang tinggal seorang diri di rumah. Di sebuah kota dengan jarak ratusan kilometer dari Kutoarjo.

Membaca puisi ini aku jadi merasakan apa yang dirasakannya di LPKA. Membaca puisi ini aku teringat banyaknya kesalahanku kepada orang tuaku dan Tuhan. Mungkin lewat teman baruku ini Tuhan memberikan banyak teguran untukku.

“Kereta jurusan Solo akan segera berangkat”

Wah, ternyata sudah hampir meninggalkan Klaten. Aku kembali tersadar. Tak berhenti merasa bersyukur atas pengalaman hari ini. Semoga ada lain waktu untukku bertemu mereka lagi. Anak-anak remaja yang tengah berjuang menghadapi konsekuensi perbuatannya.

Ditulis oleh Haidar Fikri (Relawan Sahabat Kapas).

Kabar dari Seorang Teman

Layang Kangen 1Hari ini aku kangen banget sama teman-temanku di rumah.
Aku ingin pulang segera dan aku pasti berkumpul bersama kalian lagi.
Di sini aku hanya bisa berharap dan berharap.
Tapi aku Alhamdulillah bisa sabar, gak seperti aku saat masih di luar bersama kalian.
Di luar aku gak bisa bersabar, tapi hanya bisa minta dan harus dituruti.
Dari sini aku bisa belajar bersabar dan aku selalu dihibur sama teman-temanku.

Di sini ada perkumpulan dari Sahabat Kapas.
Semua orangnya menurutku baik semua. Dia juga selalu menghiburku.
Walaupun gak setiap hari dia ke sini.
Sahabat Kapas lah yang memberi semangat selama aku di sini.
Aku suka dengan kegiatan-kegiatan yang mereka berikan kepadaku.
Aku masuk di sini juga karena salahku sendiri.
Sebenarnya sih salah semua, tapi aku sadar aku itu laki-laki yang harus bisa tanggung jawab atas semua perbuatanku.
Aku juga sadar gara-gara pergaulan bebas aku bisa masuk sini.
Aku berjanji akan hidup lebih baik agar bisa menyenangkan kedua orang tuaku.

Buat Sahabat Kapas terima kasih telah selalu memberiku semangat.
Aku gak bisa membalas dengan apa-apa.
Aku hanya bisa membalas dengan kata terima kasih.
Tapi kata terima kasih ini bukan sembarang terima kasih. Terima kasihku yang kuucapkan dari lubuk hatiku yang paling dalam.
Aku gak tahu apa jadinya aku apabila gak ada kalian semua yang menghiburku.

Buat teman-temanku, aku juga bisa membalas dengan terima kasih saja.
Semoga kalian tak lupa kepadaku.
Aku di sini yang rindu kalian.
Pokoknya aku sayang kalian semua.
Terima kasih sekali lagi teman.

Buat orang tuaku, aku minta maaf kepada kalian.
Aku yang bisa menyusahkan kalian saja.
Tapi aku berjanji akan hidup lebih baik setelah pulang dari sini.
Aku di sini pasti selalu berdoa untukmu semua agar sehat selalu.
Di sini, aku yang lagi kangen kalian semua.

Yang lagi dihukum penjara.
Ttd.

Ditulis oleh salah satu anak dampingan di Lapas Klas II B Klaten.

Surat Cinta dari Balik Terali Besi

Bulan Februari adalah bulan yang identik dengan cinta. Valentine yang dirayakan tiap tanggal 14 di bulan tersebut menjadi momen yang menginspirasi Sahabat Kapas untuk mengambil tema cinta di kegiatan dalam Lapas Klas II B Klaten tanggal 21 Februari lalu.

Seperti apa ya anak-anak di lapas mempersepsikan cinta? Apa jadinya jika mereka diminta untuk mengungkapkan perasaan cinta untuk orang tersayang dalam bentuk surat cinta?

Surat CintaAwalnya, anak-anak mengutarakan keberatan mereka ketika diminta menulis surat cinta. Mereka berpendapat bahwa surat cinta sudah sangat kuno di zaman serba canggih seperti sekarang ini. Telepon, sms, WA, dan berbagai aplikasi chatting lainnya menjadi pilihan yang lebih praktis dan mudah sebagai sarana untuk mengungkapkan perasaan cinta.

Penolakan mereka luntur setelah mendengar penjelasan dari para pendamping. Ungkapan cinta dalam bentuk surat dengan tulisan tangan sendiri akan mampu menyentuh hati orang yang dituju. Usaha penulis surat ketika memilih dan menuliskan tiap kata dalam surat cinta membuat surat cinta dengan tulisan tangan sendiri terkesan lebih personal.

Akhirnya, anak-anak pun bersemangat melalui proses menuliskan perasaan cinta mereka untuk orang tersayang. Apalagi setelah mereka melihat beberapa film tentang cinta yang mampu menggugah perasaan cinta dalam diri mereka.

Penasaran dengan isi surat cinta mereka? Dua orang anak mengijinkan kami memposting surat cinta mereka di blog ini.

Here they are…

Surat Cinta 2Bapak ibuku tercinta,
Ibu, aku minta maaf kalau selama ini aku tidak pernah menurut pada perkataanmu dan aku selalu tidak menurut. Makasih ibu yang semenjak kecil mendidik dan membesarkanku dan aku yang selalu tidak menurut. Mungkin kalau boleh aku pulang dari sini, akan memperbaiki semua sifatku dan tidak akan mengulangi lagi.
Dan buat adikku, jangan nakal seperti kakakmu ini yang hanya bisa membuat susah kepada orang tua. Terima kasih banyak ibuku yang selalu berkorban kepadaku. Maafkanlah kesalahan anakmu ini selama sejak kecil sampai sekarang.
I love you mom. Anakmu tercinta, hehehe…
Pengen kembali dan berkumpul bersama lagi dan tidak akan mengulangi lagi kesalahanku.

Surat Cinta 1

Aku yang lagi kangen.
Buat orang yang aku sayang. Semoga kalian di sana tidak lupa padaku. Aku di sini selalu mengingat kenangan-kenangan bersamamu. Jujur aku di sini sedih gak bisa bersama-sama kalian lagi.
Rasanya aku ingin cepat kembali berkumpul bersama kalian lagi.
Pokoknya aku sayang kalian. Aku rindu kalian.
Dari saya yang lagi dihukum.

Ditulis oleh Febi Dwi S. (Relawan Sahabat Kapas)

Mari Hentikan “Cap Negatif” pada Anak di Lapas

Pameran

Satu dari banyak cerita menarik dari Mbak Siswi dan Mbak Dian ketika mengikutkan karya anak di Lapas Klas II B Klaten pada pameran yang diselenggarakan di Semarang beberapa waktu lalu, membuat saya tersentak. Ternyata, masih ada saja orang yang “takut” terlihat berhubungan dengan anak di dalam lapas.

Dalam pameran tersebut, berbagai produk #OnJail dipamerkan dan dijual kepada khalayak umum. Jelas, tujuan kami mengikuti pameran adalah agar lebih banyak orang melihat karya anak di lapas sehingga masyarakat sadar bahwa meskipun di dalam lapas, dengan fasilitas yang jelas tidak selengkap di luar, anak-anak masih bisa berkarya. Karya mereka sangat layak disandingkan dengan karya anak-anak pada umumnya. Perjuangan dan karya mereka patut untuk mendapatkan dukungan dari semua elemen masyarakat.

Akan tetapi, pada kenyatannya tidak semua orang mampu berpikir seperti itu. Masih saja ada orang yang “takut” secara terang-terangan mendukung perjuangan anak di lapas. Entah “takut” karena apa. “Takut” dicap sebagai orang yang “pro” kepada narapidana, mungkin? Entahlah.

“Kalau Anda beli produk kami, nanti kami akan foto Anda dan meng-upload-nya ke facebook kami.”

“Baik, baik. Saya beli ini.”

Tak berapa lama, pembeli tersebut datang lagi ke stand kami…

“Mbak, mbak… Setelah saya pikir-pikir, lebih baik foto saya jangan di-upload di facebook. Jangan ya mbak.”

Kenyataan itu membuat saya sadar, stigma yang berkembang di masyarakat mengenai narapidana maupun tahanan anak masih sedemikian negatifnya. Ternyata di luar sana, masih banyak orang yang “takut”, bahkan untuk sekedar “terlihat” membeli karya anak di lapas.

Banyak orang tidak paham bahwa sebagian besar anak yang mereka tuding sebagai pencuri, pencopet, dan penjambret itu adalah anak-anak dengan kesulitan ekonomi. Anak-anak tersebut mengambil benda-benda yang mereka inginkan hanya agar mereka bisa memiliki benda-benda yang juga dimiliki oleh teman-teman main/sebaya mereka. Kebanyakan, orang tua mereka sangat jarang bisa memberikan perhatian terhadap kebutuhan mereka. Jangankan untuk memenuhi kebutuhan materi, sekedar meluangkan waktu untuk dihabiskan bersama dengan mereka pun terkadang tidak bisa dilakukan oleh orang tua mereka.

Banyak orang yang tidak mau peduli dengan fakta bahwa kebanyakan anak dengan dakwaan pelecehan seksual itu adalah anak-anak yang sebenarnya melakukan free seks, pacaran yang “kebablasan”. Mereka adalah anak-anak di usia puber yang sudah selazimnya mulai berkenalan dan mencari tahu tentang segala hal mengenai kebutuhan seksual mereka. Sayangnya, mereka tidak mendapatkan cukup bimbingan untuk memuaskan rasa ingin tahu mereka dengan cara yang benar.

Jadi, selalu ada sebab di balik perilaku “menyimpang” anak.

Kami, para relawan, tidak pernah sekalipun mendukung tindakan salah yang dilakukan oleh anak-anak di lapas. Kami mendengarkan mereka, mencoba memahami mereka, dan akhirnya mengajak mereka untuk mau berkarya dan berjuang bersama untuk menjadi orang-orang yang lebih baik. Kami merangkul mereka, bukan membenarkan perbuatan salah yang pernah mereka lakukan. Kami senantiasa berharap semoga lebih banyak orang yang tergerak hatinya untuk tidak menghakimi anak-anak di lapas. Paling tidak, berhenti memberikan “cap negatif” terhadap mereka.

Ditulis oleh Febi Dwi S. (Relawan Sahabat Kapas)

Behind The Scene : Cabe, Harga Sebuah Kebebasan

Juli adalah bulan istimewa untuk anak di Indonesia. Tak terkecuali #AnakdiLapas.
Mereka punya karya yg hendak di bagikan ke masyarakat luas.
FILM.

Cerita ini berasal dari aktifitas keseharian mereka, dibuat oleh mereka sendiri, dan ditujukan untuk anak-anak Indonesia.
Menarik.
Pesan nan sederhana dari balik tembok penjara tentang arti kebahagiaan.
Tayangan ini hanya cuplikan dari film CABE.

Nantikan film utuhnya ya…
Selamat Hari Anak Nasional

Kebahagian Bersama: Sebuah Pengalaman dalam Lapas

Kebahagian Bersama: Sebuah Pengalaman dalam Lapas

 IMG_1991

Saya adalah salah satu anak yang merasa senang dalam kegiatan kemaren bersama Sahabat Kapas dan kru Trans7. Kegiatan kemaren ada yang sangat beda dan membuat saya heran. Kegiatan kemaren adalah penampilan mbak Bungsu yang saya lihat sangat beda dari sebelumnya. Dia cantik dan indah jika dipandang, dan tentu saja tak akan pernah terlupakan.

Ada pengalaman yang berarti bagi saya yakni pengalaman yang mempertemukan saya dengan seorang dengan artis terkenal. Dia adalah Shahnaz Haque, seorang artis yang memperkenalkan namanya dan menyapaku serta berjabat tangan denganku.

Kegiatan syuting kemaren sangat membuat saya lelah dan ingin segera mengakhiri kegiatan itu. Namun saya juga merasa senang dalam kepedihan di dalam hatiku ini. Sebelumnya saya merasakan sedih, rindu, berfikir yang tidak- tidak, ingin bertemu kedua orangtua dan adikku, namun semua rasa itu terasa hilang saat aku menjalani kegiatan itu. Semua kepedihanku terasa hilang saat kebahagiaan datang menghampiri.

Ada seorang kru Trans7 yang menanyakan sebuah pertanyaan kepadaku dan tanpa keberatan aku menjawab semua pertanyaan itu. Sebuah jawaban yang jujur harus aku sampaikan padanya tanpa ada kebohongan saat aku menjawab semua pertanyaan itu. Tak terasa saat aku menjawab pertanyaan salah seorang kru, saya merasakan ada setetes air mata yang hinggap pada pipi kanan dan kiriku, air itu adalah air mata yang keluar dari mataku. Sebuah penyesalanlah dan kerinduan akan semua orang yang selalu membuat saya bahagia dan tertawa yang membuat air mata ini keluar. Aku rindu akan semua yang pernah berkata bijak padaku dan menasehatiku dalam amanah jiwa.

Tak lupa juga kedua orangtuaku yang sekarang ini masih setia menyayangiku meski semua terasa berbeda. Di penjaralah saat ini saya hidup dan sebuah kekecewaanlah yang aku berikan pada kedua orangtuaku. Ibuku pernah berkata kepadaku, “belajarlah dari sebuah sejarah, hidup ini tak akan lengkap tanpa ada sejarah dan perlu sejarah untuk menatap masa depan.” Dari sebuah sejarahlah saya belajar untuk lebih baik dari sebelumnya.

Kemaren adalah sejarah

Saat ini adalah pengalaman

Esok hari adalah masa depan

 

Dan saya harus menepati janjiku padanya, pada seorang kru Trans7, janji saya adalah harus lebih baik dari kemaren. Saat ini aku harus lebih baik dan menjadi seorang kakak dari adik- adikku serta menjadi contoh yang lebih baik.

Makasih dari saya seorang anak yang selalu ingin menjadi lebih baik.