Ajak Anak Cegah Bullying Melalui Film

Oleh Muhammad Rizki Budi Rampdan*

Perundungan (bullying) merupakan salah satu masalah yang paling sering muncul di lingkungan anak, terutama di sekolah. Melihat fenomena tersebut, tim magang Sahabat Kapas dari Sosiologi UNS dan Psikologi UMS mengadakan edukasi pencegahan bullying dengan medium film kepada anak-anak usia  6-8 tahun di GKI Sangkrah Solo pada Selasa (11/2/2020). Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada anak mengenai tindakan bullying dan cara pencegahannya.

Tidak hanya dari tim magang Sahabat Kapas, kegiatan juga dibantu oleh kakak-kakak pembimbing dari GKI Sangkrah. Kerja sama yang baik dapat membuat kegiatan edukasi pencegahan bullying berjalan lancar. Sebelum menonton film, anak-anak diajak bermain bersama untuk membangun semangat dan ketertarikan mereka terhadap kegiatan.

Film Pendek Jagoan Cilik

Film pendek berjudul Jagoan Cilik dianggap dapat mewakili pesan-pesan yang ingin disampaikan kepada anak.  Film ini menceritakan tentang sekelompok anak yang melakukan bullying kepada temannya dengan mengambil uang dan makanan yang dimiliki sang teman. Namun seiring perkembangan cerita, anak-anak yang melakukan bullying mengetahui latar belakang dari teman tersebut yang tengah kesulitan ekonomi. Melihat hal tersebut, timbul dalam benak mereka bahwa apa yang dilakukan selama ini merupakan tindakan yang tidak baik. Pada akhirnya, mereka pun tak lagi melakukan bullying dan malah membantu sang teman.

Refleksi Diri dengan Berbagi Cerita

Setelah selesai menonton film, anak-anak diajak untuk bercerita mengenai pengalaman menonton mereka. Anak-anak dibagi menjadi beberapa kelompok kecil dan diminta untuk berbagi cerita mengenai apa yang mereka pelajari dari film pendek Jagoan Cilik. Saat sesi diskusi kelompok, anak-anak diberi waktu untuk menggambar dan mewarnai bertema kegiatan bersama teman sehari-hari. Mereka juga diajak berbagi apa yang telah dipelajari dari kegiatan edukasi pencegahan bullying di depan teman-temannya. Salah satu anak mengatakan bahwa dia sangat senang dengan kegiatan tersebut karena bisa belajar melalui film dan menggambar.

Pelatihan Master Trainer Gender Transformative Approach (GTA)

Oleh Anindyanari Mukti Retnodewati*

 

Dua perwakilan Sahabat Kapas mengikuti Pelatihan Master GTA yang dilaksanakan oleh Rutgers WPF Indonesia. Pelatihan ini dilaksanakan pada tanggal 3 hingga 5 Februari 2020 dan bertempat di Hotel Novotel Solo. Gender Transformative Approach (GTA) ini senantiasa mengubah norma gender yang kaku serta ketidakseimbangan relasi kuasa yang selama ini tejadi dalam kehidupan masayarakat. Pelaksanaan GTA diaharapkan mampu meningkatkan Hak dan Kesehatan Seksual Reproduksi dan menurunkan kekerasan berbasis gender. Sebagai contoh, sebanyak 888 kekerasan dalam rumah tangga terjadi dalam triwulan ketiga pada tahun 2019 menurut Humas Pemerintah Jawa Tengah. Dengan banyaknya kasus tersebut, terlihat urgensi dalam pecegahan kekerasan berbasis gender di Indonesia ini.

 Pendekatan Berbasis HAM

Dalam melaksanakan pelatihan ini, Rutgers menggunakan pendekatan berbasis HAM (Human Rigths-Based Approach). Pendekatan ini dianggap sebagai suatu alat yang berguna untuk menegakkan hak-hak manusia khususnya perempuan dan anak perempuan yang dilanggar ketika kekerasan berbasis gender terjadi. Semua ras, agama, jenis kelamin, etnis, maupun latar beakang budaya mereka sebenarnya memiliki hak yang sama dan itu dibawa semenjak seseorang dilahirkan. Dengan begitu, hak asasi manusia tidak bisa dicabut oleh siapapun karena tidak dapat diambil maupun dilepaskan oleh orang lain.

Lalu apa hubungannya dengan GTA ini? Ini dilihat dari outcome yang diinginkan oleh Rutgers bahwa adanya kesetaraan gender serta seimbang dan terpenuhinya hak-hak seksual dan reproduksi. Agar pendekatan ini dapat berjalan maksimal, semua pemangku kewajiban perlu untuk diberikan pemahaman atau bekal untuk mempertahankan hak tersebut.

Ketimpangan Relasi Kuasa

Kekerasan berbasis gender yang selama ini terjadi tidak lepas dari seseorang yang lebih merasa berkuasa dibandingkan yang lainnya. Menurut Rutgers, ada 3 bentuk kekuasaan yang berbeda. Pertama adalah kekuasaan yang terlihat. Kekuasaan yang terlihat ini mengacu pada seseorang atau institusi yang lebih kuat dan bisa memengaruhi pemikiran atau tindakan orang-orang yang ada di bawahnya. Konotasi yang diberikan pada kekuasaan ini cenderung negatif karena berbentuk seperti dominasi, pelecehan, penindasan pada orang lain, dan pemaksaan.

Bentuk kekuasaan kedua adalah kekuasaan tersembunyi yang sering digunakan oleh suatu pihak yang memiliki hak-hak istimewa untuk mempertahankannya. Kekuasaan ini biasanya digunakan dalam proses politik, tempat kerja, maupun komunitas. Kekuasaan ini dilaksanakan dengan menciptakan berbagai hambatan-hambatan kepada orang lain untuk berpartisipasi semisal tidak diizinkannya seseorang (dikarenakan usia, jenis kelamin, maupun status sosial tertentu) untuk bersuara dalam suatu keadaan yang seharusnya mereka memiliki hak untuk bersuara.

Yang terakhir adalah kekuasan yang tak terlihat. Kekerasan ini merupakan sebuah bentuk kekuasaan yang melekat pada diri seseorang dikarenakan norma, nilai, maupun agama, yang telah diterima oleh masyarakat pada umumnya. Karena sudah melekat pada orang-orang, kekuasaan ini terbilang sulit untuk diatasi dan telah terjadi secara tidak sadar. Sebagai contoh, pada seorang wanita yang merasa harus patuh pada laki-laki karena ia telah meninternalisasi bahwa perempuan lebih rendah dibandingkan laki-laki meskipun secara finansial ia memiliki keuntungan yang lebih dibandingkan laki-laki tersebut.

Dukung Kami untuk Penyediaan Wadah Sabun dan Wadah Air Bersih

Halo teman-teman yang baik, kali ini Sahabat Kapas berkolaborasi dengan Omah Badran ingin mengajak teman-teman semua untuk menekankan kesadaran pentingnya menjaga Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Menjaga kesehatan dan kebersihan adalah cara termudah yang bisa kita lakukan untuk menghadapi situasi saat ini.

Kami mengajak teman-teman semua untuk bangkit dari keterpurukan. Bagaimana pun hal baik yang dilakukan oleh banyak orang juga akan membawa dampak baik yang lebih besar. Sebagai makhluk sosial yang peduli terhadap sesama dan mencintai kehidupan itu sendiri, mari kita saling peduli dan mengingatkan yang lain untuk kehidupan yang lebih baik.

Nah, saat ini Omah Badran sedang memproduksi sabun cair mandiri untuk menunjang kesadaran hidup bersih dan sehat ini. Sabun cair ini lalu dibagikan kepada warga sekitar secara cuma-cuma. Untuk itu teman-teman yang baik, kami butuh dukungan kalian untuk membantu menyediakan pengadaan wadah sabun cair dan wadah air bersih untuk diberikan kepada warga. Jika kamu berkenan silakan hubungi kontak di bawah ini. Dan kalau kamu peduli, kamu boleh juga menyebarkan pesan ini. Ayo bantu sesama!

Hubungi mas Dani di nomor 081228930833 (whatsapp).

Peluncuran Modul Konseling Kelompok Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender untuk Anak Laki-Laki di LPKA Disambut Antusias

Bertempat di Hotel Redtop, Jakarta Pusat pada hari Kamis (19/12) 2019, Sahabat Kapas meluncurkan “Modul Konseling Kelompok Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender untuk Anak Laki-Laki di LPKA”. Kegiatan ini secara resmi dibuka oleh Direktur Bimbingan Kemasyarakatan dan Pengentasan Anak, Direktorat Jenderal Pemasyarakatan, Kemenkumham RI, Budi Sarwono. Secara simbolis, Dian Sasmita selaku Direktur Yayasan Sahabat Kapas menyerahkan modul kepada Bapak Budi Sarwono disaksikan puluhan undangan yang hadir.

Peluncuran modul ini merupakan tindak lanjut dari kerja sama antara Sahabat Kapas, Ditjen PAS, dan Rutgers WPF Indonesia dalam upaya merespons tingginya kasus kekerasan seksual pada anak. Dimulai pada tahun 2018, Sahabat Kapas telah melakukan proyek percontohan implementasi modul di dua LPKA, yakni LPKA Tangerang dan LPKA Kutoarjo selama kurang lebih 4 bulan. Proyek percontohan tersebut melibatkan para konselor yang merupakan petugas LPKA. Sebelumnya, para petugas yang menjadi konselor juga telah mengikuti pelatihan konseling dan psikoedukasi terkait isu kekerasan serta kesehatan seksualitas dan reproduksi.

Pelaksanaan kegiatan konseling kelompok di LPKA Kutoarjo.

Dari kegiatan konseling kelompok selama 13 sesi bersama anak di LPKA, banyak luaran positif yang dihasilkan. Untuk itu, pada tahun 2019 kegiatan konseling kelompok ini direplikasi di LPKA Yogyakarta. Modul yang digunakan dalam konseling kelompok ini merupakan sumbangsih bersama dari para pegiat anak, pakar konseling, spesialis bidang gender dan kesehatan reproduksi, serta telah direvisi berdasarkan input selama implementasi program, peserta anak, petugas konselor LPKA, dan pihak lain terkait.

Penuh Semangat dan Antusias

“Modul ini diharapkan bisa menjadi salah satu alternatif bagi petugas LPKA atau pendamping anak untuk melakukan intervensi dan rehabilitasi bagi AKH dengan kasus kekerasan seksual yang mempunyai riwayat seksual aktif dan berisiko,” terang Evi Baiturohmah selaku Manajer Program Sahabat Kapas. Dalam kesempatan yang sama, perwakilan Ditjen PAS dalam paparan presentasinya menyatakan tentang harapan agar implementasi modul konseling kelompok ini bisa dilakukan di 33 LPKA di Indonesia pada tahun 2020 nanti. Dengan demikian, persentase anak yang mendapatkan layanan konseling dalam proses rehabilitasi pun akan meningkat.

Diskusi tentang praktik konseling dan rehabilitasi anak.

Selain mendiskusikan mengenai modul konseling kelompok, para peserta yang hadir juga diajak untuk saling berbagi mengenai praktik-praktik konseling dan rehabilitasi di masing-masing LPKA. Kegiatan ini pun dilakukan dengan penuh semangat dan antusias oleh seluruh peserta. Kegiatan kemudian ditutup dengan diskusi dan pemberian rekomendasi terhadap Ditjen PAS terkait inovasi yang perlu dilakukan dan dorongan untuk peningkatan kualitas pembinaan di LPKA.

Cegah Kekerasan Seksual dengan Konseling Kelompok Berbasis Gender

Kekerasan seksual menjadi salah satu isu hangat yang terus diperbincangkan. Isu kekerasan seksual, terutama yang melibatkan anak, terus-menerus menyedot perhatian berbagai pihak. Pasalnya, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pada tahun 2017 mencatat 1.234 anak laki-laki dan 1.064 anak perempuan terlibat kasus pornografi dan kekerasan seksual baik menjadi korban maupun pelaku.

Pelaku kekerasan seksual yang berstatus anak (rentang usia 14-18 tahun) atau dalam istilah psikologi disebut remaja, harus mempertanggungjawabkan perbuatannya dengan menjalani pembinaan di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA). Metode pembinaan remaja yang selama ini dilaksanakan di LPKA pun masih tergolong general, meliputi pemberian alternatif pendidikan sekolah formal maupun kejar paket, pelaksanaan kegiatan minat-bakat, dan klinik kesehatan.

Selama proses pembinaan, LPKA belum secara khusus memberikan pelayanan rehabilitatif bagi remaja pelaku kekerasan seksual. Hal tersebut salah satunya dikarenakan belum tersedianya sarana prasana penunjang proses rehabilitasi, seperti klinik ramah anak, ruang khusus konseling, atau ekstrakulikuler sesuai minat bakat. Selain itu, minimnya proses rehabilitasi juga dikarenakan sumber daya manusia yang tersedia belum memadai, terutama terbatasnya kemampuan petugas LPKA dalam proses rehabilitasi anak pelaku kekerasan seksual.

Memutus Rantai Perilaku Kekerasan

Bekerja sama dengan Rutgers WPF Indonesia dan Ditjen PAS, Sahabat Kapas memberikan pendampingan psikologis bagi AKH dengan mengadakan program konseling kelompok berbasis gender. Kegiatan konseling kelompok tersebut mulai dilaksanakan pada awal Agustus 2019 lalu dengan mengambil dua lokasi, yakni LPKA Kutoarjo dan LPKA Yogyakarta.

Setiap minggunya, dua orang konselor dari Sahabat Kapas dan dua konselor dari LPKA melakukan konseling terhadap 10 remaja di masing-masing LPKA. Peserta konseling tersebut adalah para remaja yang mempunyai pengalaman kekerasan terutama kekerasan seksual, aktif dalam aktivitas seksual, dan bersedia sukarela mengikuti konseling rutin selama 3 bulan.

Konseling kelompok berbasis gender ini dilakukan dengan tujuan menurunkan pengulangan tindak kekerasan seksual ketika anak kembali ke masyarakat. Selain itu, konseling kelompok berbasis gender ini merupakan salah satu upaya pencegahan dan penanganan untuk memutus rantai perilaku kekerasan.

Mengapa Konseling Kelompok?

Terdapat berbagai metode mencegah atau menghentikan perilaku kekerasan, di antaranya sosialisasi, nasihat, konseling baik secara individu maupun kelompok, psikoterapi. Bahkan, metode pencegahan dan penghentian kekersan seksual dapat dilakukan dengan pengobatan medis (psikiatri) bagi individu yang mempunyai indikasi gangguan medis.

Bagi remaja di dalam penjara dengan segala konflik di dalamnya, tindakan preventif yang tepat sasaran adalah konseling kelompok. Natawijaya dalam bukunya Pendekatan-Pendekatan Penyuluhan Kelompok, mendefinsikan konseling kelompok sebagai upaya bantuan kepada individu dalam suasana kelompok yang bersifat pencegahan dan penyembuhan. Lebih lanjut, disebutkan pula bahwa interaksi dalam konseling kelompok dapat menjadi media terapeutik.

Dalam pelaksanaan konseling berpanduan pada modul konseling kelompok kekerasan berbasis gender yang dibuat oleh tim Sahabat Kapas, Rutgers WPF Indonesia, dan Ditjen PAS. Pendekatan yang digunakan sebagai dasar pembuatan modul tersebut adalah kesetaraan gender untuk mencegah perilaku kekerasan. Selain itu, materi dalam modul juga mengangkat tema Hak Kesehatan Seksual Reproduksi (HKSR) dan relasi sehat.

Modul Konseling Kelompok Kekerasan Berbasis Gender telah diaplikasikan dalam pilot project konseling kelompok di tahun 2018 kepada 10 remaja LPKA Kutoarjo dan 10 remaja LPKA Tangerang. Dalam pelaksanaannya, sebanyak 3 petugas LPKA Kutoarjo dan 3 petugas LPKA Tangerang dilibatkan sebagai konselor anak.

Mengubah Perspektif Penyelesaian Konflik

Adanya kegiatan konseling kelompok ini diakui memberikan manfaat dalam proses rehabilitasi anak. Petugas pun mendapatkan tambahan pengetahuan mengenai cara berperilaku ramah remaja. Selain itu, petugas LPKA juga dapat melihat penyelesaian konflik beberapa remaja peserta konseling di dalam LPKA tidak lagi langsung menggunakan kekerasan melainkan lebih kepada komunikasi asertif.

Bagi remaja peserta konseling, kegiatan ini membuka wawasan dan pengetahuan baru terkait HKSR, gender, kekerasan, dan relasi sehat. Mereka juga mulai melihat bahwa tidak semua masalah dapat diselesaikan dengan jalan kekerasan. Tentunya, program ini juga membantu mereka menumbuhkan asa baru untuk masa depan yang lebih baik.

Seksualitas Tak Boleh Lagi Dianggap Tabu

“Bagaimana sikap yang harus kami ambil atau apa yang harus kami lakukan ketika saat patroli keliling kamar anak, kami mendapati anak yang sedang onani?”

Pertanyaan menarik tersebut dilontarkan oleh salah satu petugas LPKA Klas I Kutoarjo dalam kegiatan refleksi tentang Hak Kesehatan Seksualitas dan Reproduksi yang diadakan pada awal Agustus lalu. Kegiatan refleksi tersebut diselenggarakan oleh Sahabat Kapas dengan dukungan dari Rutgers WPF Indonesia. Pada kesempatan tersebut, Sahabat Kapas menggandeng dosen Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Yogyakarta, Aditya Putra Kurniawan, sebagai narasumber utama.

Sebelum menjawab pertanyaan yang dilontarkan, Aditya menjelaskan tentang pandangan masyarakat umum yang mengganggap bahwa seksualitas itu tabu untuk dibicarakan secara terbuka. Meskipun sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari, membicarakan seksualitas bukanlah hal yang dapat dilakukan dengan leluasa. Padahal, Aditya berpendapat edukasi seksual sudah seharusnya dikenalkan kepada anak sedini mungkin (sejak batita).

Seksualitas harus dianggap sebagai hal yang lumrah untuk dibicarakan agar anak lebih terbuka. Orang tua dapat memulai edukasi seksual dengan hal-hal yang sederhana. Misalnya, mengenalkan anak dengan nama organ kelaminnya. Seperti vagina milik anak perempuan dan penis milik anak laki-laki. Tidak boleh orang tua mengganti istilah penis dengan burung karena akan membingungkan anak.

Suasana pelatihan Sahabat Kapas di LPKA Kutoarjo

Peran Petugas dalam Edukasi Seksual Anak-Anak di LPKA

Petugas LPKA Klas I Kutoarjo dalam hal ini juga memiliki peran selayaknya orang tua dalam edukasi seksual anak. Anak-anak yang tinggal di LPKA Kutoarjo berhak mendapatkan pendidikan seksualitas tersebut. Dengan edukasi seksual dan reproduksi yang tepat, anak-anak tersebut dapat memperoleh informasi yang terpercaya dan lebih terbuka terhadap seksualitasnya. Petugas memiliki peran yang sangat besar untuk menyampaikan edukasi seksual kepada anak-anak (remaja) di LPKA supaya mereka bijak dalam berhubungan seksual maupun melakukan aktivitas reproduksi.

Kehidupan homogen di LPKA dapat membuat hubungan seksual-reproduksi menjadi sangat berisiko. Hasrat untuk menyalurkan syahwat yang tidak bisa dikontrol akan menimbulkan beberapa masalah lain. Misalnya, kemungkinan praktik sodomi antarremaja laki-laki karena mereka tidak tahu bagaimana mengekspresikan keinginan dan kebutuhan dengan benar dan tepat. Padahal, risiko penyakit akan timbul jika salah satu ada yang mengalami infeksi.

Kembali ke pertanyaan awal, lalu apa yang harus dilakukan ketika mendapati seorang anak tengah melakukan aktivitas seksualnya? Menjawab pertanyaan ini, Aditya menerangkan ada 3 hal yang harus dilakukan. Pertama, jika melihat hal itu terjadi, jangan dihentikan. Biarkan sampai anak selesai dengan aktivitasnya. Di hari berikutnya, petugas bisa mengajak anak berbicara secara langsung dan melakukan pendekatan untuk eksplorasi lebih lanjut. Ketika melakukan hal ini, petugas harus memastikan anak dalam kondisi yang aman dan nyaman. Petugas juga harus mendapatkan kepercayaan anak, agar ia lebih bebas dan terbuka untuk bercerita.

Kedua, pada saat pembimbingan berlangsung, petugas sebaiknya mengeksplorasi sejauh mana dorongan seksual itu muncul, misalnya bagaimana perasaan anak mengenai aktivitas seksual. Petugas harus menunjukkan sikap bahwa ia memahami kondisi dan perasaan anak tersebut. Dengan menunjukkan sikap memahami, petugas akan lebih leluasa untuk menyampaikan informasi mengenai aktivitas seksual dan dampaknya. Misalnya, petugas dapat menyampaikan pada anak dampak dari onani/masturbasi yang berlebihan. Ketika dorongan seksual muncul, petugas juga dapat membantu anak mencari alternatif pengalih kegiatan. Terakhir, petugas dapat menghubungi psikolog agar anak bisa memperoleh perawatan dan bimbingan lebih lanjut.

 

Dampak Minimnya Edukasi Seksual

50% remaja yang didampingi oleh Sahabat Kapas adalah mereka yang melakukan kekerasan seksual ataupun pelecehan seksual. Yang menarik adalah meskipun beberapa anak yang masuk ke LPKA bukan karena kasus seksual, sebagian besar mereka mengaku telah aktif melakukan kegiatan seksual maupun reproduksi. Perilaku seksual berisiko yang dilakukan oleh remaja sebelum 18 tahun ini justru membuat mereka tinggal dalam dinginnya dinding bui. Kurangnya edukasi tentang seksualitas reproduksi menjadikan anak mencari tahu sendiri tentang hal tersebut di internet. Karena hampir seluruh anak tidak mau menanyakan langsung pada orang dewasa yang ia kenal. Akhirnya, mereka lari ke internet, namun hasil pencarian justru menampilkan informasi, gambar, atau video tentang pornografi.

Seksualitas dan reproduksi merupakan pengetahuan yang berhak diakses oleh seluruh manusia, tak terkecuali anak. Membicarakannya pun bukan sesuatu yang tabu, jika kita menempatkannya sebagai informasi wajib untuk disampaikan agar orang tak lagi menganggapnya sebagai hal yang saru (jawa: memalukan). Sedangkan posisi laki-laki yang seringnya menjadi pelaku kekerasan seksual. Hal tersebut membuat remaja laki-laki membutuhkan intervensi lebih tentang edukasi seksualitas reproduksi yang positif.

Belajar Social Enterprise : Peningkatan Kapasitas Untuk Jadi Wirausaha Sosial

Kegiatan yang akrab disebut dengan usaha sosial ini adalah sebuah usaha atau bisnis yang dilakukan untuk menyelesaikan masalah sosial dimana laba yang diperoleh semua atau mayoritas diinvestasikan untuk menjalankan misi- misi sosial tersebut. Nah Sahabat Kapas juga punya usaha sosial loh!

Melalui progam Gerobak Kopi Onjel, Sahabat Kapas menjalankan mengkolaborasikan antara skema kewirausahaan muda dan usaha reintegrasi anak pasca penjara. Keterlibatan anak dampingan Sahabat Kapas dalam melakukan usaha sosial ini, mendorong pendamping untuk lebih keras lagi dalam meningkatkan kapasitasnya untuk mengembangkan usaha sosial meskipun banyak sekali tantangan yang dihadapi.

Pada 17-20 Juni 2019 lalu, salah satu tim dari Sahabat Kapas yakni Kak Yukarisa berkesempatan mengikuti kegiatan training Active Citizen for Social Enterprise (ACSE) yang diadakan oleh British Council yang bertempat di Creative Hub Fisipol UGM. Bertemu dengan pemuda pemudi lain yang sedang maupun akan menggerakkan kegiatan usaha sosial, kak Risa bersama-sama belajar tentang bagaimana menjadi wirausahawan sosial. Dalam kegiatan tersebut banyak hal yang dipelajari antara lain pentingnya menjalankan dan mengelola usaha sosial dengan mengedepankan Unique Selling Point, dengan tetap memperhatikan dampaknya terhadap lingkungan, sosial, dan budaya. Dan yang paling penting adalah, apa visi utama yang menjadikan usaha sosial ini harus dijalankan! So inspiring! Semoga ONJEL sebagai usaha sosial Kapas bisa semakin berkembang dan bermanfaat ya!

Terima kasih untuk @britishcouncil @chubfisipol @tamboid

Picture taken by: @semenitberdua

Penghargaan Menteri Hukum dan HAM untuk Sahabat Kapas

Pada 25 Maret 2019 lalu, Sahabat Kapas diundang untuk menerima penghargaan dari Menteri Hukum dan HAM RI kepada mitra LPKA sebagai bentuk apresiasi atas dukungan dan partisipasi Kapas dalam program pemenuhan hak Anak di LPKA, khususnya LPKA Kutoarjo.

Sahabat Kapas mulai berkegiatan di LPKA Kutoarjo sejak akhir 2014 dan hingga sekarang rutin melakukan pendampingan setiap dua minggu sekali. Dengan menggunakan pendekatan psikososial, Sahabat Kapas memberikan layanan konseling, pengembangan diri, dan pelatihan ketrampilan yang bernilai ekonomis untuk anak- anak. Bekerjasama dengan petugas LPKA Kutoarjo, Sahabat Kapas juga mengembangkan instrumen yang bisa digunakan untuk memudahkan asesmen kebutuhan dan perubahan anak.

Bagi Direktur Sahabat Kapas, Dian Sasmita, penghargaan ini adalah bentuk apresiasi yang  paling tepat diberikan kepada semua tim Sahabat Kapas. “Ini semua adalah hasil dedikasi, kerja keras dan kebahagiaan individu- individu di Kapas yang mendampingi remaja- remaja di LPKA dengan penuh semangat dan cinta.”

Selain Sahabat Kapas, Menteri Hukum dan HAM RI juga memberikan penghargaan kepada lembaga perwakilan pemerintah dan organisasi masyarakat yang turut serta dalam upaya besar pemenuhan hak anak di LPKA- LPKA di Indonesia. Semoga dengan adanya penghargaan ini, sinergi antara pemerintah dan organisasi masyarakat dalam mewujudkan pemenuhan anak di Indonesia semakin solid ke depannya.

#PawonOnjel dan #GerobakOnjel Siap Diluncurkan

 

Sahabat Kapas siap dengan gebrakan baru. Kapas kini memiliki unit usaha anyar bernama #GerobakOnjel dan #PawonOnjel. #GerobakOnjel Kapas mengadaptasi model bisnis kopi keliling dengan memanfaatkan gerobak.  Bermitra dengan Kayuhan Amal (Kamal), #GerobakOnjel siap berkeliling dan menyapa para penikmat kopi di berbagai acara di Solo dan sekitarnya. Dalam waktu dekat, kami juga akan secara resmi meluncurkan #GerobakOnjel di kantin Kampus ISI Surakarta.

Selain gerobak kopi, kami kini juga tengah berjibaku merintis #PawonOnjel. Unit usaha ini adalah dapur produksi makanan dan minuman yang dipasarkan secara online maupun secara langsung. Untuk sementara ini, #PawonOnjel meluncurkan produk berupa sirop jahe. Untuk sirop jahe, kami jual dengan harga Rp25.000,- untuk kemasan botol kaca (300 ml) dan Rp35.000,- untuk kemasan jeriken kecil (500 ml).

Semua unit usaha ini melibatkan remaja-remaja pascalapas dan/atau remaja putus sekolah. Mereka terlibat sebagai operator gerobak dan dapur. Uniknya, anak-anak ini tidak hanya sekadar menjalankan usaha. Mereka yang terlibat juga mendapatkan pendampingan psikososial untuk mendukung kepercayaan dirinya dan resiliensi. Selain itu, usaha ini nantinya akan menempatkan remaja pascalapas sebagai mitra. Mereka dapat menjalankan usaha secara mandiri (tanpa dampingan Sahabat Kapas) ketika sudah siap secara mental dan kemampuan wirausaha.

Keuntungan penjualan produk #GerobakOnjel dan #PawonOnjel digunakan sebesar-besarnya untuk memberi kesempatan kedua bagi remaja-remaja hebat pascalapas. Mari nikmati bersama kehangatan segelas kopi atau sirop jahe, sembari memberi peluk hangat dan senyum untuk anak-anak kita.

Untuk informasi pemesanan silakan hubungi Dian (08562810170).