Belajar Social Enterprise : Peningkatan Kapasitas Untuk Jadi Wirausaha Sosial

Kegiatan yang akrab disebut dengan usaha sosial ini adalah sebuah usaha atau bisnis yang dilakukan untuk menyelesaikan masalah sosial dimana laba yang diperoleh semua atau mayoritas diinvestasikan untuk menjalankan misi- misi sosial tersebut. Nah Sahabat Kapas juga punya usaha sosial loh!

Melalui progam Gerobak Kopi Onjel, Sahabat Kapas menjalankan mengkolaborasikan antara skema kewirausahaan muda dan usaha reintegrasi anak pasca penjara. Keterlibatan anak dampingan Sahabat Kapas dalam melakukan usaha sosial ini, mendorong pendamping untuk lebih keras lagi dalam meningkatkan kapasitasnya untuk mengembangkan usaha sosial meskipun banyak sekali tantangan yang dihadapi.

Pada 17-20 Juni 2019 lalu, salah satu tim dari Sahabat Kapas yakni Kak Yukarisa berkesempatan mengikuti kegiatan training Active Citizen for Social Enterprise (ACSE) yang diadakan oleh British Council yang bertempat di Creative Hub Fisipol UGM. Bertemu dengan pemuda pemudi lain yang sedang maupun akan menggerakkan kegiatan usaha sosial, kak Risa bersama-sama belajar tentang bagaimana menjadi wirausahawan sosial. Dalam kegiatan tersebut banyak hal yang dipelajari antara lain pentingnya menjalankan dan mengelola usaha sosial dengan mengedepankan Unique Selling Point, dengan tetap memperhatikan dampaknya terhadap lingkungan, sosial, dan budaya. Dan yang paling penting adalah, apa visi utama yang menjadikan usaha sosial ini harus dijalankan! So inspiring! Semoga ONJEL sebagai usaha sosial Kapas bisa semakin berkembang dan bermanfaat ya!

Terima kasih untuk @britishcouncil @chubfisipol @tamboid

Picture taken by: @semenitberdua

Penghargaan Menteri Hukum dan HAM untuk Sahabat Kapas

Pada 25 Maret 2019 lalu, Sahabat Kapas diundang untuk menerima penghargaan dari Menteri Hukum dan HAM RI kepada mitra LPKA sebagai bentuk apresiasi atas dukungan dan partisipasi Kapas dalam program pemenuhan hak Anak di LPKA, khususnya LPKA Kutoarjo.

Sahabat Kapas mulai berkegiatan di LPKA Kutoarjo sejak akhir 2014 dan hingga sekarang rutin melakukan pendampingan setiap dua minggu sekali. Dengan menggunakan pendekatan psikososial, Sahabat Kapas memberikan layanan konseling, pengembangan diri, dan pelatihan ketrampilan yang bernilai ekonomis untuk anak- anak. Bekerjasama dengan petugas LPKA Kutoarjo, Sahabat Kapas juga mengembangkan instrumen yang bisa digunakan untuk memudahkan asesmen kebutuhan dan perubahan anak.

Bagi Direktur Sahabat Kapas, Dian Sasmita, penghargaan ini adalah bentuk apresiasi yang  paling tepat diberikan kepada semua tim Sahabat Kapas. “Ini semua adalah hasil dedikasi, kerja keras dan kebahagiaan individu- individu di Kapas yang mendampingi remaja- remaja di LPKA dengan penuh semangat dan cinta.”

Selain Sahabat Kapas, Menteri Hukum dan HAM RI juga memberikan penghargaan kepada lembaga perwakilan pemerintah dan organisasi masyarakat yang turut serta dalam upaya besar pemenuhan hak anak di LPKA- LPKA di Indonesia. Semoga dengan adanya penghargaan ini, sinergi antara pemerintah dan organisasi masyarakat dalam mewujudkan pemenuhan anak di Indonesia semakin solid ke depannya.

#PawonOnjel dan #GerobakOnjel Siap Diluncurkan

 

Sahabat Kapas siap dengan gebrakan baru. Kapas kini memiliki unit usaha anyar bernama #GerobakOnjel dan #PawonOnjel. #GerobakOnjel Kapas mengadaptasi model bisnis kopi keliling dengan memanfaatkan gerobak.  Bermitra dengan Kayuhan Amal (Kamal), #GerobakOnjel siap berkeliling dan menyapa para penikmat kopi di berbagai acara di Solo dan sekitarnya. Dalam waktu dekat, kami juga akan secara resmi meluncurkan #GerobakOnjel di kantin Kampus ISI Surakarta.

Selain gerobak kopi, kami kini juga tengah berjibaku merintis #PawonOnjel. Unit usaha ini adalah dapur produksi makanan dan minuman yang dipasarkan secara online maupun secara langsung. Untuk sementara ini, #PawonOnjel meluncurkan produk berupa sirop jahe. Untuk sirop jahe, kami jual dengan harga Rp25.000,- untuk kemasan botol kaca (300 ml) dan Rp35.000,- untuk kemasan jeriken kecil (500 ml).

Semua unit usaha ini melibatkan remaja-remaja pascalapas dan/atau remaja putus sekolah. Mereka terlibat sebagai operator gerobak dan dapur. Uniknya, anak-anak ini tidak hanya sekadar menjalankan usaha. Mereka yang terlibat juga mendapatkan pendampingan psikososial untuk mendukung kepercayaan dirinya dan resiliensi. Selain itu, usaha ini nantinya akan menempatkan remaja pascalapas sebagai mitra. Mereka dapat menjalankan usaha secara mandiri (tanpa dampingan Sahabat Kapas) ketika sudah siap secara mental dan kemampuan wirausaha.

Keuntungan penjualan produk #GerobakOnjel dan #PawonOnjel digunakan sebesar-besarnya untuk memberi kesempatan kedua bagi remaja-remaja hebat pascalapas. Mari nikmati bersama kehangatan segelas kopi atau sirop jahe, sembari memberi peluk hangat dan senyum untuk anak-anak kita.

Untuk informasi pemesanan silakan hubungi Dian (08562810170).

 

Pendampingan Psikososial & Pelatihan Asertif Bagi Anak Korban Kekerasan Seksual

Rombongan Sahabat Kapas beserta anggota Dinas PPKB dan P3A Kabupaten Wonogiri tiba pukul 09.30 WIB. Hari itu (5/11), kami mengunjungi salah satu sekolah dasar di Kabupaten Wonogiri untuk memberikan pendampingan psikososial dan pelatihan asertif bagi anak-anak korban kekerasan seksual.  Sesuai informasi yang kami dapat dari Dinas PPKB dan P3A Wonogiri, anak-anak yang akan kami temui mengalami kekerasan seksual yang dilakukan oleh guru olahraga mereka sendiri. Anak-anak yang akan mengikuti pendampingan bersama kami hari itu berjumlah 22 orang anak perempuan yang berasal dari dua sekolah berbeda.

Sesampainya di lokasi, kami disambut oleh para guru dari perwakilan sekolah. Dari penuturan salah seorang guru, kami mendapat informasi bahwa pihak sekolah merasa cukup kesulitan ketika harus memberikan pendampingan psikososial bagi anak-anak. Guru juga merasa tidak memiliki banyak alternatif kegiatan maupun sarana-prasarana yang memadai untuk mengalihkan perhatian anak-anak dari peristiwa sedih yang menimpa mereka. Salah seorang guru mengungkapkan bahwa sekolah tidak memiliki buku-buku yang cukup memadai. Oleh karenanya, sekolah sangat berterima kasih apabila ada pihak-pihak yang dapat memberikan buku bacaan sebagai sarana pengalihan positif anak-anak dari peristiwa yang menimpa mereka.

Pihak sekolah berharap adanya kegiatan pendampingan dan pelatihan asertif yang dilakukan oleh Dinas PPKB dan P3A bersama Sahabat Kapas, bisa sedikit mengurangi beban psikososial yang ditanggung oleh anak-anak. Pihak sekolah juga ingin agar ke depannya terdapat panduan khusus yang ditujukan bagi sekolah-sekolah untuk penanganan kasus kekerasan sekolah yang dialami oleh peserta didiknya. Dengan adanya panduan tersebut, guru dapat menindaklanjuti program pendampingan psikososial secara mandiri dan bisa memberikan perhatian khusus yang dibutuhkan oleh anak-anak.

 

Berani Mengatakan “TIDAK”

Kami memulai kegiatan hari itu dengan berdoa dan bernyanyi “Nyanyian Jari”

Anak-anak yang didampingi sekitar empat orang guru menyambut kedatangan kami di masjid sekolah. Mereka tampak sedikit malu-malu.  Setelah pembukaan singkat dari perwakilan Dinas PPKB dan P3A Wonogiri, Ibu Rodhiyati, acara dilanjutkan dengan perkenalan dan pemaparan ringkas mengenai kegiatan hari itu. Anak-anak menyimak dengan tertib penjelasan yang diberikan dan terlihat antusias untuk mengikuti kegiatan.

Untuk  membangun suasana ceria, kami memulai kegiatan dengan mengajak anak-anak menyanyikan dan memperagakan “Nyanyian Jari”. Setelah kami rasa anak-anak bisa menerima kehadiran kami, kegiatan kami lanjutkan dengan bermain peran (role play).Kami membagi anak-anak dalam beberapa kelompok, setiap kelompok terdiri atas 5-6 anak yang akan didampingi oleh satu orang relawan Kapas. Kami sengaja membuat kegiatan berkelompok untuk melatih kerja sama antaranak dan membangun kedekatan satu sama lain.

Setiap kelompok memiliki nama-nama tersendiri, kami memutuskan untuk memberi nama kelompok dengan kelompok Perahu Biru, Perahu Ungu, Perahu Hijau, dan Perahu Merah. Masing-masing perahu nantinya akan mendapatkan tugas memainkan peran dengan tema berbeda. Perahu Biru mendapat tema mencontek; Perahu Hijau memperoleh tema pemerasan di lingkungan sekolah; Perahu Ungu bermain peran dengan tema pemalakan dalam bentuk makanan di sekolah; dan Perahu Merah bermain peran bertema tindakan curang. Semua kelompok diberi waktu untuk mendiskusikan peran yang akan dimainkan. Masing-masing kelompok nantinya mendapat waktu sekitar 10 menit untuk menampilkan dramatisasi peran yang telah direncanakan.

Kegiatan bermain peran ini menjadi salah satu media melatih asertivitas anak. Dengan pelatihan asertif ini, anak diharapkan memiliki kemampuan mengomunikasikan apa yang diinginkan, dirasakan, dan dipikirkan pada orang lain namun tetap menjaga serta menghargai hak-hak serta perasaan orang lain. Dengan bermain peran, anak ditempatkan pada sebuah kondisi di mana mereka harus berani mengomunikasikan keinginannya dan berani mengatakan TIDAK atas hal-hal yang tidak diinginkannya. Terutama, anak harus berani menolak perlakuan atau hal-hal yang membuat mereka merasa tidak nyaman.

Dari peran yang dimainkan oleh Perahu Biru, anak-anak kami latih untuk berani menolak perbuatan mencontek dan memilih tindakan jujur. Anak-anak menyadari bahwa perbuatan mencontek adalah tindakan yang tidak baik. Oleh karenanya, mereka harus berani menolak perbuatan yang tidak baik tersebut. Sebaliknya, mereka harus membiasakan diri berbuat jujur. Sikap berani menolak terhadap tindakan buruk ini kami harapkan tidak hanya digunakan pada situasi mencontek, tapi pada situasi-kondisi lainnya yang membutuhkan keberanian anak untuk menolak. Seperti peran yang dimainkan Perahu Biru, kelompok Perahu Merah juga memainkan peran yang menuntut anak-anak untuk berbuat jujur. Selain itu, anak bisa belajar saling memaafkan pada teman yang berbuat curang.

Di lain sisi, peran yang dimainkan oleh kelompok Perahu Hijau dan Perahu Ungu menitikberatkan pada keberanian untuk melawan tindakan perundungan—yang mungkin dialami di sekolah. Perundungan dapat membuat anak-anak merasa rendah diri dan tertekan. Karenanya, anak-anak harus menghindari perbuatan merundung. Di sisi lain, ketika mereka menjadi objek perundungan, mereka harus berani untuk melawan. Anak-anak perlu diajarkan untuk berani mengatakan “Tidak!” ketika seorang perundung meminta mereka melakukan sesuatu yang tidak ingin mereka lakukan. Anak perlu diberi tahu para perundung cenderung memilih anak-anak yang tidak mau membela diri. Jika anak-anak terbiasa melakukan apa yang dikatakan seorang perundung, mereka mungkin akan terus-menerus ditindas.

 

Mencintai Diri Sendiri

Setelah selesai bermain peran dan menyelami pesan moral dari peran tersebut, kami mengajak anak-anak untuk menggambar sosok diri mereka sendiri pada selembar kertas. Kegiatan ini termasuk dalam terapi seni, yakni penggunaan teknik-teknik kreatif seperti menggambar, melukis, atau mewarnai, untuk membantu anak mengekspresikan diri mereka secara artistik dan memeriksa kondisi psikologis serta emosional dalam seni mereka. Kami minta anak untuk menggambar sesuai keinginan mereka, tanpa takut untuk dinilai bahwa gambar mereka jelek. Mereka bebas mengeskpresikan gambaran diri mereka pada kertas tersebut. Kegiatan ini kami lakukan agar anak bisa lebih mengenal dan mencintai diri mereka sendiri.

Beberapa hasil gambar diri dari anak-anak yang mengikuti pendampingan psikososial

Terapi seni dengan menggambar sejatinya adalah bentuk komunikasi nonverbal. Untuk anak-anak yang mungkin tidak mampu mengartikulasikan pikiran, emosi, persepinya dengan verbal, menggambar adalah cara terbaik untuk mengomunikasikan perasaannya. Bagi anak-anak yang pernah mengalami pelecehan, menggambar adalah salah satu cara untuk “mengatakan tanpa berbicara”; ketika mereka tidak dapat atau takut untuk berbicara tentang peristiwa atau perasaan tertentu.

Selain menggambar, anak-anak juga kami minta untuk menceritakan tentang diri mereka pada kelompoknya masing-masing. Antaranak kami minta bertanya mengenai pelajaran yang disukai, keterampilan yang dimiliki, atau hobi yang biasa mereka lakukan. Hal ini untuk membangun kepercayaan diri anak atas potensinya dan menumbuhkan persepsi bahwa mereka dapat diterima oleh lingkungan dengan potensi yang dimiliki. Anak-anak perlu dilatih untuk mengenali diri mereka sendiri sehingga mereka dapat tumbuh dengan rasa percaya diri.

Rangkaian kegiatan hari itu kami akhiri dengan menari bersama diiringi lagu “Baby Shark” versi Jawa (“Culoboyo”) yang dipandu oleh semua relawan Kapas. Sekira pukul 12.40 WIB, semua kegiatan selesai dilakukan dan ditutup oleh Ibu Rodhiyati. Dengan bersemangat, anak-anak mengaku senang dengan kegiatan yang diberikan dan ingin kembali bermain bersama para relawan di kemudian hari.

Tidak hanya anak-anak yang merasa senang hari itu, kami sebagai relawan juga sangat senang bisa membuat mereka ceria dan tertawa lepas. Kami juga merasa gembira anak-anak dapat menerima kehadiran kami dengan senang hati. Kami harap apa yang kami lakukan hari itu bisa sedikit membantu meredam kesedihan, membantu mereka menatap hari-hari ke depan dengan lebih percaya diri.

 

Ditulis oleh M. Rusydi Shabri

Relawan Kapas/Mahasiswa Psikologi UMS 2015

Betapa Anehnya Dunia Orang Dewasa

Judul Film            : The Little Prince  Musik            : Hans Zimmer
Genre                   : Animation, Fantasy Produksi        : On Entertaiment, Onyx Films, Orange Studio
Sutradara            : Mark Osborne MPAA             : BO (Bimbingan Orang tua)
Skenario              : Irena Brignull, Bob Persichetti Durasi             : 106 Menit

 

Film The Little Prince merupakan adaptasi dari novela Le Petit Prince karya seorang pilot asal Perancis, Antoine de Saint-Exupéry. Exupéry menulis dan mengilustrasikan manuskrip The Little Prince selama musim panas dan musim gugur tahun 1942 dalam pengasingannya di Amerika. Dalam membuat karakter Little Prince, Exupéry terinspirasi dari kisahnya sendiri dan orang-orang di sekitarnya. Hasil karyanya tersebut telah diterjemahkan ke dalam lebih dari 265 bahasa di seluruh dunia dan terpilih menjadi buku terbaik abad ke-20 di Perancis.

Adaptasi The Little Prince garapan Mark Osborne memiliki sedikit plot berbeda dengan apa yang ada di buku. Namun, perbedaan tersebut tidak meninggalkan garis besar cerita Exupéry. Bahkan, ilustrasi dan pengisahannya dikemas dengan baik dalam film ini.

Film ini diawali oleh narator, pilot bernama The Aviator, yang menceritakan kisah masa kecilnya. Kala itu, ia tengah menggambar seekor ular boa yang memakan seekor gajah. Saat menunjukkan hasil karyanya itu kepada orang dewasa, ia bertanya apakah mereka takut dengan gambar ular yang dia buat. Namun, jawaban yang diterimanya membuatnya kecewa. Para orang dewasa yang melihat gambar tersebut malah tertawa dan menganggap bahwa gambar yang ia buat adalah sebuah topi.

The Aviator tak menyerah begitu saja. Ia membuat gambar lain yang memperlihatkan seekor gajah di dalam perut ular secara lebih jelas. Setelah ditunjukkan ke orang dewasa, mereka malah menyuruhnya untuk berhenti menggambar dan fokus belajar ilmu lain yang dianggap lebih baik untuk masa depannya. Pada satu titik tertentu, Aviator berhenti untuk menggambar dan menaruh perhatiannya ke hal lain. Ia pun mulai memikirkan dan menaruh minatnya pada pesawat terbang. Bagian pembuka ini secara jelas berusaha menyampaikan topik penting dalam keseluruhan cerita, yaitu betapa tidak dapat dimengertinya orang dewasa.

“Apa yang paling penting bukan apa yang terlihat oleh mata, tapi apa yang dapat dirasakan oleh hati.”

Dibuka dengan plot yang hampir sama dengan cerita di novela, kisah Little Prince mulai sedikit berbeda ketika pada bagian berikutnya muncul seorang gadis kecil yang tengah disibukkan dengan persiapan ujian masuk sebuah sekolah bergengsi, Werth Academy. Gadis kecil itu memiliki kehidupan yang serba disiplin dan sangat terencana. Ibu gadis kecil itu bahkan membuat jadwal hal-hal apa saja yang harus dilakukan gadis kecil setiap harinya. Dalam film ini, kisah sang gadis kecil merepresentasikan kehidupan masyarakat sekarang, di mana orang tua merasa memiliki hak penuh untuk mengatur masa depan anak mereka. Akibatnya, anak tidak diberi ruang atau kesempatan untuk menentukan pilihannya sendiri. Bahkan, akibat orang tua yang terlalu mengatur kehidupan anak, mereka tak bebas menikmati masa kanak–kanaknya untuk bermain.

Kehidupan teratur gadis kecil itu perlahan-lahan berubah. Ia bertemu dengan tetangga sebelahnya yang ternyata adalah seorang kakek tua yang tidak lain adalah sang pilot. Awalnya, gadis kecil itu tidak menyukai sang kakek tua yang dianggapnya sangat aneh. Lambat laun, gadis kecil dan sang kakek tua pun berteman. Kakek tua pun menceritakan kisah menakjubkan tentang pangeran cilik (Little Prince) kepada gadis kecil. Ia mendongengkan kisah pertemuan sang pilot dan pangeran cilik, dari mana mereka berasal, hingga kisah perjalanan pangeran cilik. Dalam perjalanannya, pangeran cilik bertemu dengan seorang raja “penguasa” alam semesta, seorang gila hormat yang senang apabila dipuji, serta seorang pebisnis yang selalu sibuk menghitung bintang. Masing-masing pertemuan tersebut menggambarkan absurditas orang dewasa yang umum kita jumpai sehari-hari, mulai dari sindrom kekuasaan dan kepemilikan. Lagi-lagi, kita akan disuguhi gambaran betapa anehnya dunia orang dewasa.

Sang sutradara, Mark Osborne, bersama penulis naskah,  Irena Brignull dan Bob Persichetti,  memang tidak mengadaptasi persis kisah Little Prince seperti yang tertera di novela karya Exupéry. Namun, mereka jelas menyisipkan pesan penting dengan menambahkan sudut pandang kekinian dengan eksekusi yang baik tanpa melupakan kisah aslinya. Kelebihan lain dalam film ini adalah penyampaian pesan yang mendalam untuk terus berusaha dalam meraih mimpi yang kita inginkan. Selain itu, film ini juga mengajak kita untuk melihat sesuatu sebagaimana seorang anak kecil melihat dunia dengan polos, indah, dan apa adanya. Karena dengan begitulah kita justru akan jadi dekat dengan kedewasaan yang sesungguhnya.

 

Ditulis oleh Ajeng Jati Kusuma

(Mahasiswa Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta/Relawan Magang Kapas)

Bukankah Dia Anak yang Kuat?

Bella Melindha Hadi
Mahasiswa Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta/Relawan Magang Kapas

 

Hidup sebagai anak rantau menumbuhkan kebanggaan tersendiri bagiku. Aku merasa memiliki kemandirian di atas teman-teman lain yang hingga saat ini masih tinggal bersama orang tuanya. Kemandirian dan kepercayaan yang ditanamkan oleh kedua orang tuaku membuatku merasa kehadiran mereka tidak selalu kubutuhkan.

Ternyata, banyak teman tak merasakan “kenikmatan” yang sama ketika menjadi anak rantau. Bahkan, banyak di antara mereka yang seringkali memilih pulang ke rumah apabila ada kesempatan.  “Ah manja kamu! Cuma pusing sampai ingin pulang ke rumah,” ejekku pada salah satu teman kosku dulu.  Padahal hampir tiap minggu Continue reading “Bukankah Dia Anak yang Kuat?”

Pojok Baca Lapas Klaten, Favorit di Pagi Hari

Teng Teng Teng Teng

Lonceng berbunyi di pagi hari, di Lapas Klaten. Ini berarti ada kesempatan selama satu setengah jam untuk menikmati hawa segar di luar sel. Berbagai kegiatan dilakukan, mulai dari senam, olah raga pagi bernyanyi bersama, membersihkan lingkungan, duduk- duduk di bawah matahari pagi.

Selain kegiatan-kegiatan tersebut,  berkunjung ke Sanggar Baca menjadi salah satu favorit di pagi hari. Beberapa rak dipenuhi buku-buku hasil donasi dari berbagai pihak seperti Perpustakaan Nasional, Kick Andy, Tupperware serta sumbangan dari rekan-rekan Mahasiswa.

Warga Binaan dapat meminjam buku atau membacanya di dalam Pojok Baca.

Buku menjadi jendela untuk melihat dunia luar
Buku menjadi jendela untuk melihat dunia luar
Aktivitas favorit 08.00-09.30 WIB, menyambangi Pojok Baca
Aktivitas favorit 08.00-09.30 WIB, menyambangi Pojok Baca

Aplikasi Tik Tok dan Taktik Mencegah Dampak Negatifnya

Oleh Witri Setyani

(Relawan Sahabat Kapas/Mahasiswa Administrasi Negara UNS)

 

Beberapa bulan terakhir ini, kalangan remaja dan anak-anak tengah dihebohkan dengan kemunculan aplikasi Tik Tok. Dilansir dari laman BBC Indonesia, Tik Tok menjadi aplikasi yang paling banyak diunduh dari App Store seluruh dunia dan aplikasi paling banyak diunduh nomor 7 di seluruh dunia sepanjang kuartal pertama 2018 menurut SensorTower. Aplikasi yang berasal dari Tiongkok tersebut merupakan aplikasi pembuat video pendek yang disertai dengan fitur-fitur lucu dan unik. Hal inilah yang membuat banyak orang, terutama remaja dan anak-anak, menggandrungi aplikasi ini. Dengan aplikasi Tik Tok, pengguna dapat membagikan foto atau video yang menghadirkan polah tingkah yang dinilai “lucu”.

Setelah cukup populer di Indonesia, aplikasi Tik Tok makin viral diberitakan di media massa setelah Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) memblokir akses aplikasi tik tok. Pemblokiran ini karena ditemukan banyak konten negatif di aplikasi tersebut. Selain itu, Tik Tok juga dinilai melakukan banyak pelanggaran dan berdampak negatif, terutama terhadap anak-anak. Dikutip dari laman VOA Indonesia, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menerima hampir tiga ribu pengaduan mengenai perilaku dan konten Tik Tok, yang sebagian dinilai mengandung unsur pornografi serta pelecehan norma sosial dan agama.

Namun demikian, pemblokiran yang dilakukan oleh Kominfo tidak berlangsung lama. Sebelumnya, pengembang aplikasi Tik Tok mengadakan pertemuan dengan pihak Kominfo untuk membahas pemblokiran. Dalam pertemuan tersebut disepakati bahwa pengembang Tik Tok harus menjamin konten-konten negatif tidak bermunculan lagi setelah blokir terhadap aplikasi dibuka.

Penggunaan aplikasi Tik Tok di kalangan remaja maupun anak-anak menimbulkan pro kontra di kalangan masyarakat umum. Banyak yang menganggap bahwa aplikasi ini berdampak negatif bagi perkembangan anak, tapi tidak sedikit yang beranggapan bahwa aplikasi Tik Tok dapat mengasah kreativitas anak.  Sebenarnya, aplikasi Tik Tok dan aplikasi lain secara umum ibarat sebilah pisau. Pisau yang digunakan dengan fungsi semestinya akan memberikan bermanfaat, sebaliknya pisau dapat membahayakan apabila digunakan di luar peruntukannya.

Aplikasi Tik Tok dan sejenisnya sebenarnya sah-sah saja dimainkan oleh anak-anak dengan beberapa catatan. Yang pertama dan utama adalah aplikasi tersebut digunakan dengan benar dan semestinya tanpa melanggar norma kesopanan/norma agama. Anak-anak boleh menggunakan aplikasi tersebut untuk ajang kreativitas dan ajang pertemanan. Namun, penggunaan aplikasi ini harus dibatasi dan di bawah pengawasan orang tua. Dalam hal ini, aplikasi Tik Tok memang tidak memiliki fasilitas pemeriksaan pengguna di bawah batas usia. Padahal, penggunaan aplikasi Tik Tok yang berlebihan dan tanpa pengawasan orang tua justru akan berdampak negatif bagi anak-anak. Hal ini karena anak-anak belum mampu menyaring mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak boleh dilakukan.

Peran orang tua maupun orang dewasa lainnya sangat penting dalam pengawasan terhadap penggunaan aplikasi telepon pintar. Para orang tua harus menanamkan pada anak mengenai pentingnya pemahaman literasi digital. Misalnya, terkait batasan penggunaan sebuah aplikasi, pencegahan kecanduan bermain gawai, dampak negatif dan positif penggunaan media sosial, dan sebagainya.  Seiring perkembangan teknologi yang semakin canggih, masyarakat diharapkan lebih selektif dalam memilih aplikasi yang digunakan. Selain itu, orang dewasa terutama orang tua, harus selalu mengawasi penggunaan beragam aplikasi oleh anak-anak untuk mengurangi pengaruh negatif dari aplikasi tersebut.

Menabur Benih Cinta untuk Anak-Anak LPKA

Oleh Denis Kusuma

(Sekretaris dan Keuangan Sahabat Kapas)

 

Ketika Anda memberi, entah perhatian, waktu, tenaga, uang pada orang yang membutuhkan, Anda sedang menabur benih cinta, dan cinta tak pernah gagal.

(Rum Martani)

 

Kutipan cantik dari buku Karena Hidup Sungguh Berharga karya Rum Martani tersebut menjadi bekal aktivitas saya hari ini. Mengawali aktivitas pukul empat dini hari, setelah melaksanakan doa pagi dan bersiap-siap, saya bergegas menuju titik kumpul keberangkatan di Stasiun Balapan Solo. Pagi ini saya bersama relawan Sahabat Kapas lainnya akan melakukan perjalanan menuju Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kutoarjo. Kami harus menempuh kurang lebih 2,5 jam perjalanan dengan kereta dan dilanjutkan mengendarai angkutan umum untuk sampai tujuan.

Setiap dua minggu sekali secara rutin, saya dan relawan Sahabat Kapas lainnya melakukan kegiatan pendampingan di LPKA Kutoarjo. Saat ini, di satunya-satunya lapas khusus anak di Jawa Tengah tersebut menampung kurang lebih 70 narapidana anak yang berusia antara 14 hingga 18 tahun. Berdasarkan data pendampingan Sahabat Kapas, pada 2016, 70% dari anak yang menjalani hukuman di LPKA Kutoarjo melakukan tindak pidana asusila, sisanya melakukan tindakan pencurian, penganiayaan, penggunaan obat-obatan terlarang, hingga kasus pembunuhan.

Terlepas dari kesalahan yang mereka lakukan, di mata kami, mereka tetaplah seorang anak. Mereka adalah anak-anak yang rindu berkumpul bersama keluarga dan teman-temannya, rindu untuk bermain, bersenda gurau, dan tertawa bersama. Namun demikian, tak banyak dari mereka yang bisa dijenguk secara rutin oleh anggota keluarganya. Tak heran, kehadiran Sahabat Kapas selalu ditunggu oleh anak-anak LPKA. Mereka mengaku menantikan saat-saat bermain games bersama kami, menanti buku-buku yang kami bawa, foto yang selalu tak lupa mereka minta dicetakkan sekadar untuk dipasang di dinding kamar mereka, hingga diskusi-diskusi seru bersama kami.

Hari ini kami berdiskusi seputar tradisi puasa serta lebaran di keluarga dan daerah mereka masing-masing. Kami juga berdiskusi mengenai tantangan-tantangan yang mereka hadapi selama menjalankan ibadah puasa di LPKA. Beragam cerita disampaikan oleh anak-anak LPKA kepada kami, mulai dari masakan khas, seperti menu wajib lontong opor dan sambal goreng, permainan membunyikan petasan, tradisi menaikkan lampion, hingga berziarah ke makam leluhur. Bahkan, anak-anak tak segan bercerita bagaimana mereka secara sembunyi-sembunyi membeli es teh di warung agar tidak ketahuan orang tua. Seru, lucu, dan pastinya berkesan.

Meski seru, tidak semua anak mau merespons kami dengan baik dan kami sangat memahami tindakan tersebut. Kehidupan mereka yang keras, tak jarang di jalanan membuat mereka kehilangan rasa simpati. Mereka tidak mudah percaya pada seseorang. Bahkan, mungkin mereka tidak biasa menerima bentuk perhatian lebih seperti yang kami berikan. Berangkat dari hal inilah Sahabat Kapas berusaha setidaknya bisa menjadi teman bagi mereka. Kami ingin menjadi teman bermain, berbagi cerita, dan yang terpenting adalah mempersiapkan mereka ketika nanti tiba saatnya mereka harus kembali ke masyarakat. Bagi anak-anak LPKA tak mudah menghadapi stigma masyarakat terhadap status mereka yang mantan narapidana. Kondisi ini yang kerap membuat mereka kembali ke lingkungan komunitas mereka dahulu, karena hanya di sana mereka merasa bisa diterima. Sungguh sangat disayangkan memang, tapi itulah kenyataan yang terjadi di masyarakat kita.

Meski tak banyak yang kami lakukan namun kami percaya, ketika kami berangkat dengan ketulusan hati untuk memberi entah itu perhatian, tenaga, materi, kami sedang menabur benih cinta, dan sekali lagi bahwa cinta tak pernah gagal. Demikian yang saya dan Sahabat Kapas harapkan untuk anak-anak di LPKA Kutoarjo, semoga benih cinta yang kami tabur boleh bertumbuh di hati mereka. Terlepas sebesar apapun kesalahan yang mereka perbuat, tetap akan ada kesempatan untuk mereka berubah menjadi yang lebih baik.

Inilah yang membuat kami tetap semangat untuk terus menabur benih cinta dan melakukan semuanya dengan sukacita….

Pelabelan Negatif Halangi Langkah Reintegrasi Anak

Oleh Sri Rahayu

(Relawan Sahabat Kapas/Mahasiswa Pendidikan PKn UNS)

 

Para anak didik lapas (andikpas) Wonogiri hampir selalu menyambut kegiatan pendampingan yang diadakan oleh Sahabat Kapas dengan gembira. Salah seorang andikpas yang selalu antusias mengikuti kegiatan pendampingan adalah Y. Ia andikpas yang sangat kooperatif dalam setiap kegiatan yang diadakan oleh Sahabat Kapas. Y sejatinya adalah anak yang sangat sopan, bahkan dengan para relawan Kapas ia menjaga unggah-ungguh dengan menggunakan bahasa Jawa Krama ketika berinteraksi dengan kami.

Selain sopan, Y juga cukup terbuka dengan kami. Ia memanfaatkan waktu pendampingan untuk bercerita mengenai berbagai hal yang terjadi selama ia di lapas. Ia juga sering menceritakan keinginan-keinginan yang ingin diwujudkannya apabila telah keluar dari lapas nantinya. Dari cerita-cerita tersebut, saya melihat Y benar-benar ingin berubah menjadi anak yang lebih baik. Ia pun berjanji pada dirinya sendiri untuk tak melakukan hal yang dapat merugikan orang lain.

Sayangnya, ketika Y dinyatakan bebas pada April 2018 lalu, ia tak memenuhi janji tersebut. Tak lama setelah menghirup udara bebas dan pulang ke rumah, ia tidak bisa mengontrol diri dan sempat melampiaskan emosinya pada orang yang dulu membuatnya harus mendekam di lapas. Ia melakukan hal tersebut lantaran sakit hati dan belum bisa menerima kenyataan bahwa keluarga korban ternyata belum memaafkan perbuatannya. Selain itu, ia rupanya juga jengkel kepada masyarakat sekitar di desa tempat tinggal korbannya. Warga belum bisa menerima Y dengan baik dan terus menerus menganggapnya sebagai anak “nakal”.

Pelampiasan emosi yang dilakukan Y memang tidak bisa dibenarkan. Namun, bukan berarti kejadian tersebut sepenuhnya kesalahannya sendiri. Setiap perbuatan yang dilakukan manusia pasti beralasan, termasuk tindakan Y. Ia cenderung memilih tindakan yang salah karena dia belum bisa diterima dengan baik oleh masyarakat sekitar. Padahal, dengan dukungan dari keluarga dan masyarakat sekitar, sebenarnya Y kemungkinan besar bisa memperbaiki sikapnya dan tidak akan kembali melakukan kesalahan.

Adanya stigma yang disematkan oleh masyarakat bagi AKH pada akhirnya menjadi salah satu hal yang mendorong anak kembali melakukan perbuatan negatif. Masyarakat masih menganggap anak yang keluar dari penjara adalah “anak nakal” yang kehadirannya akan membawa dampak negatif bagi lingkungan. Sedikit dari mereka yang mau memahami lebih lanjut mengapa anak bisa melakukan pelanggaran terhadap norma masyarakat atau norma hukum. Padahal, penerimaan dari masyarakat sangat dibutuhkan dalam upaya reintegrasi anak.

Pelabelan “nakal” yang dilakukan masyarakat bisa menjadi salah satu faktor yang memicu anak berbuat kesalahan. Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh teori penjulukan atau labelling theory. Perilaku penyimpangan dan perilaku menuju penyimpangan dapat dipicu dari mereka yang memberikan label dan reaksi pada pihak lain sebagai pelaku penyimpangan.

Prakoso (2013) menyatakan bahwa hubungan-hubungan ditentukan oleh arti yang diberikan masyarakat pada umumnya dan karakteristik-karakteristik yang oleh individu diatributkan kepada yang lain. Oleh karenanya, masyarakat harus mengetahui dampak yang muncul dari label yang disematkan pada diri seseorang. Terutama, label yang diberikan kepada seorang anak. Kondisi psikis yang belum stabil dapat memperburuk kondisi anak dan mendorong anak untuk melakukan tindakan yang menyimpang dari norma masyarakat/hukum.

Dalam kondisi demikian, masyarakat seharusnya membantu proses reintegrasi anak yang berbuat kesalahan. Misalnya, dengan memberikan nasihat secara langsung kepada anak yang bersangkutan. Masyarakat diharapkan dapat mendorong anak tersebut meninggalkan kegiatan yang tidak sesuai dengan seperangkat norma yang berlaku, yakni norma hukum, agama, susila, dan sosial (Sudarsono, 2012).

Pelabelan “nakal” pada seorang anak adalah tindakan yang tidak tepat.

Sebaliknya, langkah yang seharusnya dilakukan adalah menerima dan membantu anak untuk kembali ke masyarakat. Anak yang telah menjalani proses rehabilitasi dengan mendekam di lembaga pemasyarakatan selama waktu tertentu, sejatinya telah menjalani hukuman yang tidak ringan. Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga, anak-anak yang telah selesai menjalani hukumannya, masih harus menerima beban pelabelan oleh masyarakat.

Proses yang harus dilalui anak untuk membentuk sikap (kepribadian) adalah proses panjang dan berliku. Proses ini membutuhkan waktu yang tidak singkat serta membutuhkan dukungan dari pihak lain, termasuk dari lingkungan sekitarnya. Anak yang tidak mendapatkan dukungan, akan merasa sulit untuk mengubah perilaku yang seharusnya tidak ia lakukan. Kami percaya bahwa tidak ada anak yang “nakal”, yang ada hanyalah anak yang salah dalam mengambil keputusan. Oleh karenanya, agar anak bisa mengambil keputusan dengan benar, perlu adanya penguatan secara moral untuk mereka, bukan sebaliknya memperburuk kondisi anak dengan memberikannya label negatif. Perlu dukungan yang luar biasa dari orang-orang terdekat anak serta masyarakat untuk merangkul anak bersama-sama berbuat kebaikan.

 

Pustaka:

Prakoso, Abintoro. 2013. Pembaruan Sistem Peradilan Pidana Anak.Yogyakarta: Laksbang Grafika.

Sudarsono. 2012. Kenakalan Remaja, (Prevensi, Rehabilitasi, dan Resosialisasi). Jakarta: Rineka Cipta.