Exemple

“Ketika kita berbohong di depan anak, maka kita telah mengajarkan kepada anak kita untuk menjadi pembohong. Ketika kita marah di depan anak, maka telah kita ajari anak kita untuk jadi pemarah.”

Kalimat itu sering saya dengar dari Pak Hadi Utomo, salah satu pejuang hak anak Indonesia, dalam berbagai acara bertema perlindungan anak. Kalimat Pak Hadi tersebut, secara jelas tergambar dalam sebuah video karya National Association for Prevention of Child Abuse and Neglect (NAPCAN) dan menjadi viral di Indonesia beberapa waktu lalu. Video berjudul Children see, children do tersebut menjadi teguran bagi orang dewasa di sekitar anak, orang tua khususnya, untuk bisa lebih bijaksana dalam berperilaku dan memilih kata-kata mereka di depan anak.

Anak meniru apa yang mereka lihat. Bobo doll experiment[1] yang dilakukan oleh Albert Bandura menunjukkan hal tersebut. Eksperimen yang dilakukan pada tahun 1961 dan 1965 tersebut menjadi bukti bahwa anak yang melihat orang dewasa melakukan perilaku agresif akan meniru perilaku agresif tersebut.

Mengobservasi, meniru/mengimitasi dan menjadikan orang dewasa di sekitar menjadi contoh/panutan adalah cara anak belajar tentang berbagai hal. Termasuk belajar berperilaku dan bersikap. Anak cenderung menjadikan orang yang mengasuhnya, idealnya orang tua, sebagai model/panutan. Oleh sebab itu, pola asuh yang diterapkan oleh orang tua menjadi hal yang mempengaruhi pembentukan kepribadian anak.

Pola asuh adalah sikap dan cara orang tua dalam mempersiapkan anggota keluarga yang lebih muda termasuk anak agar dapat mengambil keputusan dan bertindak  sendiri, sehingga mengalami perubahan dari keadaan bergantung kepada orang tua menjadi berdiri dan bertanggung jawab sendiri.[2]

Tiga tipe pola asuh yang paling sering dibahas adalah pola asuh permisif, otoriter dan demokratis. Pola asuh permisif terlihat dari longgarnya aturan dan tidak adanya tuntutan dari orang tua terhadap anak. Tidak ada kedisiplinan dalam pola asuh ini. Orang tua cenderung menuruti kemauan anak. Orang tua dengan pola asuh ini akan menghasilkan anak yang cenderung impulsif, agresif dan tidak memiliki kontrol diri.

Sebaliknya, pola asuh otoriter adalah pola asuh dimana orang tua menerapkan aturan yang ketat disertai ancaman dan hukuman. Selain itu, orang tua dengan pola asuh otoriter menerapkan tuntutan yang tinggi terhadap anak. Anak menjadi menarik diri, takut dan tidak memiliki tujuan ketika tumbuh dan berkembang dengan pola asuh ini.

Pola asuh demokratis dipandang sebagai pola asuh yang paling ideal. Orang tua menerapkan aturan dan menentukan tuntutan yang sesuai dengan situasi dan kondisi anak. Pola asuh ini akan menghasilkan anak yang memiliki kepercayaan diri dan kontrol diri, bersahabat dengan lingkungan dan bahagia.

Indonesia sebenarnya memiliki pola asuh yang lebih sesuai untuk diterapkan oleh warganya. Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional Republik Indonesia, telah merumuskan semboyan yang selama ini digunakan dalam pendidikan di Indonesia : “Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani”. Ternyata, semboyan ini cocok untuk diterapkan dalam pola asuh orang tua terhadap anak. Pengetahuan mengenai pola asuh ala Indonesia ini baru saya ketahui setelah membaca buku ParenThink karya Mona Ratuliu.[3]

Pada fase awal kehidupan anak, yaitu 0-5 tahun, orang tua berperan sebagai figur yang selalu diamati, diobservasi dan ditiru oleh anak. Orang tua diharapkan mampu menjadi contoh bagi anak. Apapun yang dilakukan oleh orang tua, baik atau buruk, akan ditiru oleh anak. Orang tua yang menunjukkan kasih sayang satu sama lain akan membuat anak mampu meniru ekspresi kasih sayang tersebut. Begitu pula ketika orang tua melakukukan kekerasan, seperti membanting barang misalnya. Maka jangan heran jika anak tidak segan membanting mainan-mainannya. Orang tua yang menginginkan anaknya menjadi anak yang jujur, sopan dan taat beragama, harus mencontohkan hal tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Orang tua harus Ing Ngarso Sung Tuladha, di depan menjadi contoh.

Ing Madya Mangun Karsa, di tengah memberi semangat. Ketika anak berusia 6-12 tahun, anak sedang senang berinteraksi dengan orang lain. Anak menjadi lebih senang berteman. Teman adalah sosok yang dipersepsikan anak sebagai orang menyenangkan dan mampu mengerti. Sehingga tidak jarang, anak lebih memilih temannya untuk berbagi cerita daripada orang tua. Di sini lah peran orang tua sebagai sosok yang menyenangkan dan mengerti anak diperlukan. Orang tua diharapkan menjadi si pemberi semangat untuk anak. Sehingga anak akan datang kepada orang tua ketika dia membutuhkan teman bercerita dan nasihat bagi permasalahannya.

Terakhir, di usia 12 tahun ke atas, orang tua diharapkan menjadi sosok yang mampu mendukung kemandirian anak. Tut Wuri Handayani, di belakang memberi dorongan. Ketika anak telah mendapatkan contoh yang baik dan sosok menyenangkan yang selalu memberikan semangat, anak membutuhkan dorongan untuk dapat menjadi pribadi yang mantap dalam menjalani tantangan dari dunia luar. Mona Ratuliu menggambarkan orang tua sebagai kamus dalam fase usia anak 12 tahun ke atas. “Persis seperti kamus, yang diam saja disimpan di rak buku saat tidak digunakan dan selalu siap memberikan informasi saat diminta.” (Hal. 72) Karena anak biasanya telah memiliki kewenangan atas diri dan lingkungannya sendiri pada usia ini.

Setiap keluarga akan memiliki pola asuhnya sendiri. Pola asuh menjadi hal yang sangat personal dan khas bagi masing-masing keluarga. Tidak semua keluarga cocok menerapkan satu pola asuh. Orang tua dituntut untuk bisa memilih dan menerapkan pola asuh yang paling sesuai dengan kondisi anak.

Saya kembali mengingat satu-persatu cerita anak di Lapas/Rutan/LPKA. Pola asuh yang kurang tepat menjadi hal yang sering saya dengar: Orang tua yang terlalu sibuk mencari uang sehingga mengabaikan kebutuhan anak akan sosok yang menyenangkan dan mampu memahami anak. Kekerasan sebagai bentuk perilaku yang dipilih untuk mendisiplinkan anak. Pembiaran atau justru pembelaan ketika anak melakukan kesalahan. Ternyata, pola asuh yang kurang tepat, jika tidak bisa dikatakan salah, ikut mengantarkan anak-anak tersebut ke Lapas/Rutan/LPKA.

Ditulis oleh Febi Dwi S. (Relawan Sahabat Kapas).

Referensi:

[1] Bobo Doll Experiment, http://www.simplypsychology.org/bobo-doll.html, diakses 29 September 2016, jam 22.00.

[2] Ny.  Y.  Singgih D. Gunarsa dan Gunarsa, Singgih  D, Psikologi Remaja, Gunung Mulia, Jakarta, 2007, cet. 16, hlm. 109.

[3] Mona Ratuliu, ParenThink, Noura Books, Jakarta Selatan, 2015, cet. 2, hlm.57.

Penyuka panda, pantai dan percakapan. Selalu ingin membuat terobosan menarik dan kreatif dalam pekerjaan dan kehidupan sehari- hari. Mantra mujarab: Things get tough and shi*s happen, but you’ll survive.

Read More →
31142634

Sumber : goodreads.com

Judul buku : Genduk
Pengarang : Sundari Mardjuki
Tahun terbit : 2016
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Jumlah halaman : 219 halaman
ISBN : 978-602-03-3219-2

 

 

 

Pengarang dalam menulis novel Genduk terinspirasi kisah kecil ibunya yang ayahnya meninggal pada saat ibu pengarang masih berumur 3 tahun. Pengarang menulis buku ini selama kurang lebih 4 (empat) tahun. Penulisan dimulai dari riset ke latar tempat yang dipakai sampai cara pengolahan tembakau.

Genduk merupakan buku ketiga karangan Sundari Mardjuki setelah Papap, I Love You (2012) dan Funtastic Fatin (2013). Royalti dari buku ini akan disumbangkan kepada komunitas Cendikia Mandiri yang merupakan sebuah komunitas belajar yang membantu pendidikan anak-anak putus sekolah di lereng Gunung Sumbing-Sindoro, Temanggung, Jawa Tengah.

Buku yang bertema utama lokalitas ini menceritakan pencarian jati diri seorang gadis kecil bernama Anisa Nooraini atau biasa dipanggil Genduk. Sejak kecil Genduk sudah ditinggal ayahnya dan tidak tahu dimana keberadaan Bapaknya. Genduk tinggal bersama Ibunya di sebuah desa paling puncak gunung Sindoro bernama Ringinsari. Rasa penasaran akan identitas dan keberadaan bapaknya membuat Genduk semakin bertanya-tanya hingga dia memutuskan untuk keluar desa untuk mencarinya.

Cerita dalam buku ini menggunakan alur campuran dimana sebagian utama cerita menggunakan alur maju disertai beberapa flashback ketika menceritakan tentang Bapak Genduk. Walau menggunakan alur campuran, kita dapat dengan mudah membedakan mana yang merupakan cerita masa lalu dan cerita masa kini. Hampir semua kisah masa lalu merupakan cerita yang didengar Genduk dari orang lain, seperti Kaji Bawon, mengenai Bapak Genduk.

Cerita Genduk menceritakan kehidupan petani tembakau di Gunung Sindoro pada tahun 1970an. Dimana ketika jaman itu masih banyak tengkulak yang melakukan praktek penipuan kepada para petani tembakau gurem atau kecil. Hal ini membuat para petani kecil harus berjuang menyambung hidupnya yang mau tidak mau harus berhadapan dengan para tengkulak.

Sundari Mardjuki dalam menceritakan kisah Genduk menggunakan sudut pandang orang pertama tokoh utama dengan ditandai penggunaan kata ganti “aku” untuk tokoh utamanya, yaitu Genduk. Penulis menggunakan bahasa setiap karakter untuk percakapan-percakapan yang dilakukan para tokohnya. Terdapat beberapa kata yang menggunakan Bahasa Jawa atau bahkan kata yang hanya dimengerti oleh orang Temanggung, tapi sudah diberi penjelasan pada bagian catatan kaki.

Amanat yang dapat kita ambil dari cerita ini adalah kita tidak boleh menyerah untuk memenuhi keingintahuan kita walaupun mungkin hasilnya bakal tidak sesuai dengan harapan kita. Hal-hal yang tidak benar dalam suatu sistem perlu kita ubah seperti sistem tengkulak yang diceritakan dalam cerita ini.

Kelebihan dari novel ini adalah penulis mampu membawa para pembacanya merasuk pada era 1970an sambil membayangkan bagaimana kehidupan para petani tembakau di Gunung Sindoro pada masa tersebut. Selain itu melalui cerita para petani tembakau, pembaca dapat mengetahui beberapa nilai yang dianut oleh petani tembakau seperti anak-anak rela bolos sekolah ketika masa panen tembakau untuk membantu para orang tuanya. Selain itu alur cerita yang susah ditebak pembaca membuat penasaran seperti pada menjelang akhir cerita, Genduk akhirnya mengetahui bahwa bapaknya benar-benar sudah meninggal seperti perkataan ibunya. Padahal pembaca sudah digiring sedemikian rupa oleh penulis untuk berharap bahwa bapak Gendhuk masih hidup di luar sana.

Genduk merupakan sebuah novel yang menarik untuk dibaca terutama bagi yang ingin menyelam pada era tahun 1970an di sebuah desa penghasil tembakau. Cerita disertai konflik pribadi dan sosial tokoh utama membuat pembaca lebih mengerti permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh kaum menengah ke bawah pada era tersebut.

Ditulis oleh Agastyawan N. (Relawan Sahabat Kapas).

Penyuka panda, pantai dan percakapan. Selalu ingin membuat terobosan menarik dan kreatif dalam pekerjaan dan kehidupan sehari- hari. Mantra mujarab: Things get tough and shi*s happen, but you’ll survive.

Read More →