Masih Ada Pelangi di Balik Jeruji

Oleh Anggi Nur Cahya Trivi

(Relawan Sahabat Kapas/Mahasiswa Psikologi UNS)

(Valeria Boltneva/pexels.com)

Siang itu, suasana Kantor Sahabat Kapas tiba-tiba berubah semarak dan ceria. Salah seorang relawan Kapas, Rahayu, membagikan kabar gembira bahwa salah seorang anak didik lembaga pemasyarakatan (andikpas) yang kami dampingi telah bebas. “Ax sudah keluar loh… sekarang dia jadi guru mengaji di rumahnya!” seru Rahayu yang ditimpali dengan tepuk tangan dan tawa gembira dari seluruh relawan yang hadir.

Rasa haru dan gembira selalu merayapi hati kami kala mendengar andikpas yang kami dampingi dapat menghirup udara bebas, termasuk Ax. Ia adalah andikpas Wonogiri yang rajin mengikuti kegiatan pendampingan oleh Sahabat Kapas. Dari sekian banyak andikpas, perbincangan dengan Ax meninggalkan kesan mendalam bagi saya.

Respons yang Berbeda

Perjumpaan pertama saya dengan Ax terjadi pada 13 Maret 2018. Kala itu, saya kebagian tugas untuk melakukan kegiatan pendampingan di Lapas Wonogiri. Saat menyapa dan memperkenalkan diri, respons andikpas sangat pasif dan cenderung menutup diri. Saya sama sekali tidak terkejut dengan respons “dingin” mereka. Bahkan, sejak jauh-jauh hari, Mbak Dian Sasmita sudah mengingatkan bahwa anak-anak kadang akan bersikap sangat tertutup terhadap orang yang baru dikenalnya. Saya ingat Mbak Dian pernah menyampaikan, “Respons tersebut merupakan salah satu bentuk pertahanan diri yang umum andikpas lakukan saat pertama kali bertemu. Ini dikarenakan kondisi khusus yang mereka alami, agar tidak “dimanfaatkan” oleh orang asing.” Oleh karena itu, saya tetap bersikap welcome dan berusaha menempatkan diri sebagai observer, sementara pendamping lain melakukan kegiatan.

Saat kegiatan tengah berlangsung sekira 50 menit, ada seorang andikpas yang meminta izin bergabung mengikuti kegiatan. Melihat wajah baru, saya pun memperkenalkan diri kembali. Tak dinyana, saya mendapat respons hangat dan sebuah senyuman dari andikpas tersebut. Ya, dialah Ax, seorang andikpas yang merespons saya dengan cukup berbeda. Bahkan ia menjawab dengan antusias ketika saya bertanya apakah Ax masih bersekolah. Tanpa malu-malu, ia menjawab masih duduk di bangku kelas IX salah satu SMP negeri di Wonogiri.

Ia juga mengaku tetap ingin melanjutkan pendidikannya setelah bebas dari lembaga pemasyarakatan nantinya. Sikap antusiasme Ax meninggalkan kesan mendalam bagi saya.

Ax sebelumnya memohon maaf karena terpaksa datang terlambat kegiatan pendampingan karena harus menyelesaikan tugas sebagai tahanan pendamping (tamping) terlebih dahulu. Tamping adalah sebuah tugas yang disematkan bagi narapidana yang memiliki penilaian baik. Tugas tamping adalah membantu petugas dalam aktivitas sehari-hari di dalam lapas, misalnya mengerjakan tugas dapur, kegiatan ibadah, dan kegiatan lainnya.

Tetap Belajar agar Lulus Ujian

Kali kedua melakukan pendampingan di Lapas Wonogiri, para andikpas sudah cukup terbuka dengan saya. Mereka mulai banyak bercerita mengenai keluarga dan kehidupan yang mereka jalani sebelum terpaksa mendekam di dalam lapas. Sayangnya, tidak semua andikpas mengikuti kegiatan pendampingan saat itu. Salah seorang yang absen adalah Ax yang ternyata tengah mengikuti ujian nasional di SMP tempatnya bersekolah dahulu.

Rasa penasaran menghinggapi perasaan saya, bagaimana bisa ia mempersiapkan mengikuti ujian nasional dalam keadaan yang serba terbatas? Rasa penasaran tersebut terjawab ketika pada kegiatan pendampingan berikutnya Ax datang mengikuti kegiatan Kapas. Saya pun dengan antusias menanyakan jalannya ujian nasional yang sempat ia ikuti tempo hari. Ax menceritakan bagaimana guru tempat ia bersekolah tetap membantunya belajar dengan membawakan buku pelajaran dan materi UNBK. Ia juga sempat bercerita mengenai kondisi di dalam sel saat Ax harus belajar sedangkan teman sekamarnya sedang bermain. Selain itu, Ax juga selalu menyempatkan belajar di sela-sela kesibukan sebagai tamping kantin lapas.

Tak Ingin Orang Tua Makin Kecewa

Semua usaha dan kerja keras tersebut Ax lakukan semata-mata karena ia sangat ingin lulus sekolah menengah pertama. Ia mengaku tidak ingin makin mengecewakan kedua orang tuanya. Selain ingin lulus sekolah, Ax juga terus berusaha untuk memperbaiki diri. Ia tidak menyia-nyiakan kesempatan beribadah di bulan Ramadan. Di kala teman-temannya membatalkan puasa Ramadan karena berbagai godaan, Ax berusaha untuk menjalankan ibadah puasa penuh dan sungguh-sungguh. Ia banyak meluangkan waktu untuk membaca Alquran sembari menunggu waktu berbuka puasa.

Sebenarnya, sama seperti andikpas lain, Ax menyadari bahwa menjalankan ibadah puasa di lapas tidak benar-benar bisa dijalankan dengan khusyuk. Ada banyak godaan yang merintangi ibadah puasa mereka, misalnya banyak napi dewasa yang kedapatan merokok, harumnya masakan kantin, dan waktu berbuka yang dirasa sangat lama karena tidak ada kegiatan yang dapat mereka lakukan selagi menunggu azan magrib. Namun, saat ditanya apakah ia tergoda untuk membatalkan puasa, Ax dengan tegas menjawab tidak.

“Perbuatanku dulu mengakibatkan aku berada dan berkumpul dengan orang-orang yang kurang baik Mbak. Aku enggak ingin mengecewakan orang tuaku lagi dengan mengikuti kebiasaan-kebiasaan buruk teman-teman di sini,” ujar Ax dengan tegas.

Menurut saya, Ax mengajarkan kita banyak hal. Ia berusaha tetap membuka diri dengan orang yang baru dikenalnya, ia bahkan berusaha bersikap positif dan ramah. Di tengah segala keterbatasan akses belajar, ia tetap berusaha mempersiapkan ujian nasional dengan sebaik-baiknya. Ia bahkan bertekad lulus sekolah dan tidak menambah kekecewaan orang tuanya akan kondisinya. Keinginan kuat dan semangat yang ditunjukkan Ax membuat saya bergumam dalam perjalanan pulang sore itu, “Ya, masih ada pelangi di balik jeruji.”

Menggaungkan Pentingnya Pendekatan Psikososial bagi AKH hingga Makassar

Oleh Evi Baiturohmah

(Manajer Program Rehabilitasi AKH Sahabat Kapas)

 

Direktur Sahabat Kapas, Dian Sasmita, dalam acara penguatan kapasitas tentang Buku Panduan Reintegrasi AKH bagi Penyedia Layanan yang diselenggarakan oleh Yayasan BaKti dan UNICEF Indonesia di Makassar. (Evi Baiturohmah)

 

Sahabat Kapas berkesempatan turut serta dalam dua kegiatan terkait isu anak berkonflik dengan hukum (AKH) pada akhir November 2017 di Makassar, Sulawesi Selatan. Mewakili Sahabat Kapas, Dian Sasmita selaku Direktur Sahabat Kapas menjadi salah satu narasumber dalam lokakarya “Pengembangan Layanan Perlindungan Khusus Anak (PKA) Terpadu di Lapas Kelas II Kabupaten Maros” yang diselenggarakan oleh Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinas PPPA) Provinsi Sulawesi Selatan. Selain itu, di Makassar, Sahabat Kapas juga turut menghadiri peningkatan kapasitas tentang Buku Panduan Reintegrasi AKH bagi Penyedia Layanan yang diselenggarakan oleh Yayasan BaKti dan UNICEF Indonesia.

Tak Sekadar Pembekalan Keterampilan

Dalam kesempatan berbicara di depan pemegang kebijakan dan penyedia layanan anak di Makassar, Dian menjelaskan praktik menjanjikan Sahabat Kapas yang sudah dilaksanakan di empat lokasi di rutan/lapas/LPKA di Jawa Tengah. Selama tujuh tahun mendampingi anak yang berhadapan dengan hukum, Dian melihat bahwa tren pendampingan anak yang ada selama ini lebih difokuskan pada pelatihan keterampilan bernilai ekonomis. Hal ini dilakukan dengan harapan anak memiliki bekal keterampilan yang akan membantu untuk proses reintegrasi di masyarakat dan dapat digunakan untuk memperbaiki kualitas ekonomi anak. Akan tetapi, banyak ditemui kasus di mana anak tetap melakukan tindakan residivisme pasca bebas meskipun telah mendapat pembekalan keterampilan.

Dari pengalaman dan observasi lebih mendalam, Sahabat Kapas melihat kurangnya porsi pemulihan psikologis anak di dalam lapas/rutan/LPKA. Mayoritas anak yang melanggar hukum adalah mereka yang mempunyai latar belakang disfungsi keluarga. Banyak dari AKH hidup dan tumbuh di lingkungan yang keras dan minim kasih sayang sehingga mereka akhirnya membuat pilihan yang salah. Kondisi psikologis anak yang terluka inilah yang sebenarnya memicu tindakan anak menyimpang dari norma hukum dan masyarakat. Akan tetapi, dalam konteks rehabilitasi anak, praktik di lapangan menunjukkan bahwa hanya sedikit penyedia layanan yang kemudian memberi intervensi pada masalah luka batin (psikologis) anak. Padahal, anak-anak tersebut telah kehilangan banyak afeksi dari orang terdekat, sehingga anak asing dengan nilai-nilai positif dan norma yang berlaku di masyarakat.

Dengan mempertimbangkan situasi tersebut, sejak akhir tahun 2015, Sahabat Kapas menekankan pendampingan anak melalui pendekatan psikososial, yakni memberi porsi lebih pada pemulihan psikis dan peningkatan keterampilan psikososial anak. Selama dua tahun lebih berjalan, banyak hasil positif yang dapat dilihat pada anak dampingan, seperti perubahan positif perilaku anak dan kesiapan anak kembali ke masyarakat (resiliensi).

Menyentuh Hati dengan Hati

Berinteraksi langsung dengan para penyedia layanan perlindungan anak di Makassar, Dian juga menggarisbawahi pentingnya bekerja dengan prinsip kepentingan terbaik bagi anak dengan mengesampingkan ego sektoral. Penyedia layanan mempunyai peran vital untuk membangun sistem perlindungan anak yang komprehensif. Dengan adanya sistem layanan yang kuat serta buku panduan sebagai pelengkap, diharapkan anak-anak ini bisa pulih dan kembali sebagai anggota masyarakat yang baik. Namun demikian, di atas aspek birokrasi dan prosedural, ada yang lebih penting dan harus dijaga oleh para pendamping anak, yakni kesehatan hati. Dian menyampaikan bahwa kerja perlindungan anak bukan hanya kerja birokrasi melainkan kerja hati.

Untuk mengubah perilaku anak, kita harus menyentuh hati mereka, dan untuk menyentuh hati hanya bisa dilakukan oleh hati.

Selama di Makassar, Dian dan Evi Baiturohmah selaku Manajer Program Rehabilitasi AKH Sahabat Kapas juga berkesempatan bertemu dan berinteraksi langsung dengan anak-anak di Lapas Kelas II Maros sekaligus mengunjungi layanan yang tersedia di sana. Masalah yang ditemui di Lapas Maros tidak jauh berbeda dengan masalah lapas/rutan/LPKA di Jawa Tengah, yakni banyak anak yang jauh dari keluarga. Anak-anak yang terpaksa tinggal di Lapas Maros dan berasal dari daerah yang sangat jauh seringkali tidak mendapat kunjungan orang tua karena satu dan lain hal. Padahal, orang tua adalah faktor vital dalam upaya rehabilitasi anak.

Kondisi anak yang jauh dari orang tua ini menjadi tantangan bagi penyedia layanan baik dari pemerintah atau swasta untuk memberikan intervensi yang tepat. Pendekatan psikososial akan menjadi langkah yang efektif untuk memulihkan beban psikis mereka. Pendekatan psikososial dapat dilakukan dengan memberikan pendampingan melalui konseling rutin maupun aktivitas kelompok kreatif untuk meningkatkan resiliensi anak.

Perundungan di Istitutsi Pendidikan Butuh Perhatian Serius

Oleh Tri Dyah Rastiti*

Ilustrasi Perundungan. Dokumentasi Sahabat Kapas.
Anak- anak menampilkan drama tentang perundungan yang terjadi di lingkungan sekitar

Tindakan perundungan (bullying) kini tak asing lagi di Indonesia. Perilaku negatif yang kian hari kian parah ini jumlahnya terus bertambah dan dapat kita temui dalam berbagai bentuk, di antaranya diskriminasi dan senioritas, di mana senior mengintimidasi juniornya secara fisik maupun nonfisik. Perilaku negatif yang dari waktu ke waktu menghantui anak-anak ini sayangnya belum mendapat perhatian serius dari berbagai pihak. Yang menjadi pertanyaan kemudian adalah sejauh mana kita memahami tindakan perundungan?

Continue reading “Perundungan di Istitutsi Pendidikan Butuh Perhatian Serius”

Post with image and content

 

prog9Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Cras eleifend a magna nec egestas. In consequat nisi sit amet lorem vehicula, quis volutpat erat congu
e.

Morbi vestibulum et mi eget pretium. Mauris gravida orci vitae dolor euismod cursus. Integer dictum lacus convallis felis commodo pulvinar. Nunc accumsan tristique sapien, in vulputate elit iaculis sit amet.

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Cras eleifend a magna nec egestas. In consequat nisi sit amet lorem vehicula, quis volutpat erat congue. Morbi vestibulum et mi eget pretium. Mauris gravida orci vitae dolor euismod cursus. Integer dictum lacus convallis felis commodo pulvinar. Nunc accumsan tristique sapien, in vulputate elit iaculis sit amet.

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Cras eleifend a magna nec egestas. In consequat nisi sit amet lorem vehicula, quis volutpat erat congue.

Morbi vestibulum et mi eget pretium. Mauris gravida orci vitae dolor euismod cursus. Integer dictum lacus convallis felis commodo pulvinar. Nunc accumsan tristique sapien, in vulputate elit iaculis sit amet.prog5

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Cras eleifend a magna nec egestas. In consequat nisi sit amet lorem vehicula, quis volutpat erat congue. Morbi vestibulum et mi eget pretium. Mauris gravida orci vitae dolor euismod cursus. Integer dictum lacus convallis felis commodo pulvinar. Nunc accumsan tristique sapien, in vulputate elit iaculis sit amet.

 

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Cras eleifend a magna nec egestas. In consequat nisi sit amet lorem vehicula, quis volutpat erat congue.

Morbi vestibulum et mi eget pretium. Mauris gravida orci vitae dolor euismod cursus. Integer dictum lacus convallis felis commodo pulvinar. Nunc accumsan tristique sapien, in vulputate elit iaculis sit amet.

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Cras eleifend a magna nec egestas. In consequat nisi sit amet lorem vehicula, quis volutpat erat congue. Morbi vestibulum et mi eget pretium. Mauris gravida orci vitae dolor euismod cursus. Integer dictum lacus convallis felis commodo pulvinar. Nunc accumsan tristique sapien, in vulputate elit iaculis sit amet.

celebrating our achievements

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Cras eleifend a magna nec egestas. In consequat nisi sit amet lorem vehicula, quis volutpat erat congue.

Morbi vestibulum et mi eget pretium. Mauris gravida orci vitae dolor euismod cursus. Integer dictum lacus convallis felis commodo pulvinar. Nunc accumsan tristique sapien, in vulputate elit iaculis sit amet.

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Cras eleifend a magna nec egestas. In consequat nisi sit amet lorem vehicula, quis volutpat erat congue. Morbi vestibulum et mi eget pretium. Mauris gravida orci vitae dolor euismod cursus. Integer dictum lacus convallis felis commodo pulvinar. Nunc accumsan tristique sapien, in vulputate elit iaculis sit amet.

international aid conference

Morbi vestibulum et mi eget pretium. Mauris gravida orci vitae dolor euismod cursus. Integer dictum lacus convallis felis commodo pulvinar. Nunc accumsan tristique sapien, in vulputate elit iaculis sit amet.

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Cras eleifend a magna nec egestas. In consequat nisi sit amet lorem vehicula, quis volutpat erat congue. Morbi vestibulum et mi eget pretium. Mauris gravida orci vitae dolor euismod cursus. Integer dictum lacus convallis felis commodo pulvinar. Nunc accumsan tristique sapien, in vulputate elit iaculis sit amet.

Anak Difabel dan Diskriminasi Hukum

“Negara-negara pihak dalam Konvensi ini mengakui bahwa anak-anak dengan disabilitas perlu mendapatkan pemenuhan menyeluruh dari semua hak-hak asasi manusia dan kebebasan fundamental berdasarkan persamaan hak dengan anak-anak lainnya”.

Kutipan di atas adalah salah satu poin pembukaan Konvensi Hak Penyandang Disabilitas (Convention on the Rights of Person with Disabilities) yang telah diratifikasi Indonesia melalui Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2011 tentang Ratifikasi Konvensi Hak Penyandang Disabilitas. Konsekuensi ratifikasi di atas memunculkan peran negara dalam penghormatan, pemenuhan serta perlindungan atas hak anak penyandang disabilitas. Negara harus menjamin dan mengakui bahwa mereka memiliki kedudukan yang setara di semua aspek kehidupan, termasuk akses terhadap hukum dan peradilan yang adil. Hal ini diperkuat dalam Pasal 12 dan Pasal 13 Konvensi Hak Penyandang Disabilitas yang mengatur tentang kesetaraan pengakuan di hadapan hukum dan akses terhadap keadilan.

Kebutuhan akan akses terhadap hukum dan peradilan yang adil bagi mereka sangat penting diperhatikan karena sangat rentan menjadi korban kekerasan dan ketidakadilan. Akses terhadap hukum dan peradilan bukan hanya dalam arti mendapat putusan pengadilan yang adil, tetapi terpenuhinya hak-hak mulai dari tingkat penyelidikan, penyidikan hingga pelaksanaan putusan. Hak tersebut memang sudah diatur dengan tegas dalam undang-undang, namun diskriminasi terhadap anak-anak penyandang disabilitas yang berhadapan dengan hukum tetap terjadi.

Sumber : http://health.heraldtribune.com/2013/05/24/disability-discrimination-at-doctors-office/

Kasus siswi Sekolah Luar Biasa (SLB) di Sukoharjo yang dicabuli dan diperkosa gurunya berkali-kali adalah salah satu dari banyak kasus diskriminasi terhadap anak-anak penyandang disabilitas. Umur kalender siswi tersebut 22 tahun, namun ia memiliki keterbatasan yaitu tergolong mental retardasi. Mental retardasi atau keterbelakangan mental adalah suatu keadaan dengan intelegensia kurang sejak lahir atau sejak masa anak-anak. Keadaan ini ditandai dengan fungsi kecerdasan umum yang berada dibawah rata-rata dan disertai dengan berkurangnya kemampuan untuk menyesuaikan diri. Meski umur korban 22 tahun, secara mental ia setara dengan anak usia 9 tahun. Penegak hukum dalam kasus ini tidak berani menggunakan Undang-Undang Perlindungan Anak untuk menjerat pelaku dikarenakan interpretasi (sempit) dari pengertian ‘anak’ yang dibatasi kurang dari 18 tahun. Proses hukum kasus ini tidak mulus. Proses peradilan tersendat karena kekurangan alat bukti. Status korban yang juga menderita tuna rungu dianggap tidak kuat hukum, sehingga kasus ini diragukan kebenarannya[1].

Serupa dialami seorang siswi slow learner kelas 5 (lima) Sekolah Dasar (SD) yang diperkosa oleh gurunya. Slow learner atau lamban belajar adalah anak yang memiliki potensi intelektual sedikit di bawah normal tetapi belum termasuk mental retardasi. Ketika mencoba untuk mencari keadilan, ia ditolak oleh kepolisian setempat karena laporannya dinilai terlambat dan bukti-bukti yang diajukan dinilai tidak kuat. Parahnya lagi, penolakan oleh pihak kepolisian dikarenakan korban dianggap ‘cacat’ sehingga kesaksiannya tidak bisa dipercaya. Akhirnya kepolisian mengusulkan untuk melakukan tes DNA untuk membuktikan laporannya. Namun karena ia berasal dari keluarga yang tidak mampu, maka tes DNA pun tidak dilakukan. Kasus ini kemudian ditutup dengan uluran “jalan damai” dari pemerkosa[2].

Tentu, masih banyak potret kasus anak-anak penyandang disabilitas yang berujung ironi. Bukan hanya sebagai korban, namun juga sebagai tersangka/terdakwa dan atau saksi. Para penegak hukum terkesan enggan mengembangkan wawasan yang berperspektif Hak Asasi Manusia. Akibatnya peradilan menjadi jauh dari rasa adil, berjalan timpang, dan fakta-fakta yang ada tidak tergali.

Lalu apa yang harus kita lakukan? Adakah hal sederhana yang sebenarnya punya daya dorong besar? Karena kita tidak bisa hanya diam menunggu para aparat pemerintah sadar.

Ya, mainstreaming terhadap difabilitas sangat penting. Kampanye damai melalui jalur aksi ataupun media adalah salah satu upaya sederhana yang bisa dilakukan untuk membumikan isu difabilitas di kalangan hukum dan peradilan. Lewat diskusi, publikasi, film, atau kegiatan kreatif lainnya kita suarakan hak disabilitas. Suara-suara kita harus lebih besar gaungnya untuk bersaing dengan riuhnya tuntutan-tuntutan lain.

Referensi:

[1]    Intan Pratiwi. 2013. Perjalan Panjang Difabel Korban Kekerasan Seksual Menuntut Keadilan. http://solider.or.id/2013/09/26/perjalanan-panjang-difabel-korban-kekerasan-menuntut-keadilan

[2]    Setia Adi Purwanta. Penyandang Disabilitas. Yogyakarta: Solider. Hlm 49

 

Ditulis oleh Apriliani K. (Relawan Sahabat Kapas).

Mengenal Anak di Lapas

Saya merupakan relawan magang di Sahabat Kapas. Baru sebulan saya mengikuti program relawan magang ini sejak bergabung pada akhir bulan Juni 2015 lalu. Kegiatan saya di Sahabat Kapas diawali dengan orientasi dan kegiatan administratif di kantor Sahabat Kapas. Hingga yang paling berkesan, saat saya diberi kesempatan untuk berkegiatan di Lapas.

Rabu, 8 Juli 2015, ketika umat muslim sedang menjalankan ibadah puasa, Sahabat Kapas mengadakan buka bersama dengan anak-anak di Lapas Klaten. Hari itu pula saya untuk pertama kalinya berkesempatan masuk ke dalam Lapas. Saya bertugas sebagai pembawa acara buka bersama tersebut. Saat menerima tugas tersebut, saya pun bingung akan bagaimana, ini pertama kalinya dan langsung ditunjuk menjadi pembawa acara.

Perasaan yang saya rasakan menjelang detik-detik mengetuk pintu gerbang lembaga pemasyarakatan tersebut……… campur aduk. Setelah Pegawai Lapas menyambut kami dengan ramah, rasa takut atas bayang-bayang sel tahanan beserta penghuninya sedikit sirna. Saya beserta teman-teman relawan pun diantar petugas naik ke aula Lapas yang berada di lantai 2. Di sana, saya melihat anak-anak sedang melihat ke luar jendela. Sayup-sayup saya mendengar celetukan salah seorang anak, “Angin e bedo ya neng jero sel karo neng jobo sel (anginnya berbeda ya di dalam dan di luar sel).” Kalimat sederhana yang membuat saya sadar bahwa kebebasan itu mewah. Kalimat sederhana yang mungkin akan ditertawakan orang, tetapi memiliki arti mendalam bagi mereka.

Relawan-relawan lain sempat bercerita mengenai penyebab anak-anak tersebut sampai di dalam Lapas, bagaimana latar belakang keluarganya dan bagaimana lingkungannya. Cerita-cerita tersebut membuat mata saya terbuka bahwa ternyata anak-anak tersebut adalah korban. Korban dari tidak terpenuhinya hak-hak mereka. Korban orang-orang dewasa yang tidak memberikan kesempatan kepada mereka untuk mendapatkan pengasuhan yang tepat dan kesempatan untuk tumbuh kembang yang baik.

Kaget, prihatin, simpati, takut dan bingung harus bertindak seperti apa. Itulah perasaan saya ketika pertama kali melihat anak-anak dan setelah mendengar cerita dari Relawan Sahabat Kapas. Bertemu mereka dalam kesempatan berbuka puasa bersama di aula ini, merupakan momen bagi saya mengenal ‘dunia lain.’ Membuka mata saya dan meruntuhkan segala pandangan takut, seram dan stigma-stigma lain terhadap mereka di masa lalu.

Segala yang saya lakukan di dalam Lapas saat kunjungan adalah pertama kalinya bagi saya. Cerita yang bisa saya bagikan kepada ayah dan adik saya, sekaligus mengajarkan pada mereka untuk saling menghormati dan menghargai orang lain, dimanapun mereka berada.

Anak-anak ini membutuhkan uluran tangan kita sebagai dewasa yang bijak guna masa depan mereka. Saat ini saya dan seorang teman relawan magang sedang dalam proses belajar bersama mereka, belajar mengenai hidup dan kehidupan. Kami harap hal-hal baik akan datang dalam kegiatan kami sehingga dapat berguna bagi teman-teman.

Ditulis oleh Kuswendari Listyaningtri H. (Relawan Magang Sahabat Kapas), diedit oleh Bungsu Ratih P. R. (Relawan Sahabat Kapas).

A Night’s Terror

Source : http://www.pdskji.org/article_det-27-stop-kekerasan-pada-anak.html
Source : http://www.pdskji.org/article_det-27-stop-kekerasan-pada-anak.html

October 21, 2014

8.0 pm

I was facing my laptop reading some articles on the internet when I heard a loud and stern voice of a man roared from my nearby vicinity. It sounded a man having a fierce fights with somebody as he muttered rough words while spoke as if he used a loudspeaker. It is past 7 pm and I tried to ignore the voice. However my heart refused to do what my brain told so. Instead of continue my reading I listened carefully to the voice. My heart beat so fast and I stood up to know more about the situation. I could assume that it was a fury of father to his son. I couldn’t help but walked out of my room just to make sure I heard it right. I forgot to wear my flip flop and realized it when I’ve gone halfway from my dorm.

I was looking around at the nearby place to detect where the voice coming from. I decided to turn left, assuming the source of the voice. Ahead of me, 10 meters away I spotted a child half running holding a plastic of drink in his hand. He was under the dark shadow of the night and I couldn’t see his face clearly. He looked at the road and suddenly ran away to a house.

A man in the late twenties appeared from the bend of the road with his hands on his hips while pointing out to the darkness. He scolded the kid and went after him. He was scary as hell. At a glance I could see that he was out of his mind. Amidst his loud scolding, he told the boy that he was “drunk” and crazy and he questioned the boy why he left him alone in the shop when he was waiting for him at the first place. My heart beat so fast and I was in the middle of walking. I tried to relax my self and passed the man. I raced to the nearby road and sat in the road lane for a while.

The man didn’t stop scolding his son with his loud voice. None of my neighbors came out to see what’s going on or just tried to calm the man off. I was worried about the kid, fearing that something bad might happen to him.

People said ignorance is a bliss. I knew the man shouting at his son was a business in his own family. I couldn’t step in when privacy matter took account so I considered to go home and let the man finished his own business. However, I couldn’t help when my feet refused to move.

Some passerby looked at the scene warily but didn’t do anything further. I was confused and numb, not knowing what exactly I should do in this situation. The man shouted again and threw something to the dark which caused a loud bang. I observed if there was any movements in the darkness but I didn’t see anything. A few seconds passed, and suddenly I could hear a soft cry from the darkness where the man threw something before. My heart stopped and I nearly collapsed.

…to be continued…

Written by Evi Baiturohmah (Sahabat Kapas volunteer).

Mengingat Kembali Hak Anak

Puluhan anak bergerombol di pinggiran trotoar depan Balaikota Surakarta, Kamis pagi, 23 Juli 2015 kemarin. Ada yang sibuk meniup balon, memasangkan balon ke stick plastik, menuliskan deretan kata-kata di kertas, menggambar dengan pensil warna-warni, dan menggunting-gunting kertas sesuai pola yang telah dibuat. Semua terlihat sibuk namun tetap asyik bersenda gurau satu sama lain. Ada pula yang berebut selfie dengan balon-balon warna-warni yang telah ditempeli tulisan hak-hak anak. Itulah suasana persiapan Aksi Perayaan Hari Anak Nasional (HAN) 2015 oleh Forum Anak Surakarta (FAS) didukung oleh Sahabat Kapas dan Republik Aeng-aeng.

10432475_1128852177128363_5504180648050630933_n

Anak-anak usia SD-SMA yang tergabung dalam FAS telah sangat akrab dengan Hak Anak. Tepuk Hak Anak dan Lagu Hak Anak telah sering mereka gunakan dalam kegiatan-kegiatan mereka. Akan tetapi, belum semua masyarakat tahu mengenai Hak Anak. Padahal, Indonesia adalah salah satu negara yang telah meratifikasi Konvensi Hak Anak (KHA) pada tahun 1990 lewat Keputusan Presiden Nomor 36 Tahun 1990. Isi KHA ini diadopsi dalam berbagai peraturan perundangan salah satunya UU No. 35/2014 tentang perubahan UU No.23/2002 tentang Perlindungan Anak, UU No.11/2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak, UU No. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dsb.

Menurut hukum Indonesia, anak adalah mereka yang berumur kurang dari 18 tahun, termasuk mereka yang masih di dalam kandungan. Sehingga Hak Anak pun melekat sejak janin dalam kandungan. Negara memiliki kewajiban untuk menghormati, melindungi, memenuhi dan memajukan hak anak. Berikut diantaranya hak dasar anak yang perlu mendapatkan perhatian serius yakni:

  1. Hak untuk BERMAIN
  2. Hak untuk mendapatkan PENDIDIKAN
  3. Hak untuk mendapatkan PERLINDUNGAN
  4. Hak untuk mendapatkan NAMA (IDENTITAS)
  5. Hak untuk mendapatkan status KEBANGSAAN
  6. Hak untuk mendapatkan MAKANAN
  7. Hak untuk mendapatkan akses KESEHATAN
  8. Hak untuk mendapatkan REKREASI
  9. Hak untuk mendapatkan KESAMAAN
  10. Hak untuk memiliki PERAN dalam PEMBANGUNAN

Adapun 4 prinsip dasar Hak Anak, yaitu non diskriminasi; kepentingan terbaik bagi anak; hak hidup, kelangsungan hidup dan tumbuh kembang; serta menghargai pendapat anak.

Aksi Perayaan HAN 2015 yang berlangsung selama kurang lebih 30 menit kemarin dihadiri pula oleh Walikota Surakarta, Bapak F. X. Hadi Rudyatmo. Pak Rudy, biasa beliau dipanggil, mengajak anak-anak melakukan Tepuk Hak Anak dan menyanyikan beberapa lagu anak di depan Balaikota Surakarta. Setelah berbincang dengan beberapa anak, Pak Rudi menyampaikan niatnya untuk membentuk sebuah radio komunitas yang akan menjadi wadah kreativitas anak-anak Surakarta. Radio komunitas tersebut akan menjadi media penyampaian pendapat, ide, gagasan anak dalam pembangunan Kota Surakarta.

11693953_1128851730461741_8124355422098214401_n
Dian, ketua Forum Anak Surakarta (FAS), menyerahkan balon bertuliskan Hak Anak dan tulisan 4 Hak Dasar Anak kepada Pak Rudy, Walikota Surakarta.

Hal ini patut untuk segera diwujudkan, mengingat negara sebagai pemegang kewajiban pemenuhan Hak Anak sebaiknya memberikan ruang yang cukup untuk anak berpartisipasi dalam pembangunan. Mendengarkan dan merealisasikan pendapat, ide, gagasan anak dalam pembangunan menjadi poin penting terciptanya lingkungan ramah anak.

10409672_1128851493795098_5410622133760580176_nPembagian balon dengan tulisan hak-hak anak kepada pengguna jalan, terutama mereka yang membawa anak, di sekitar Tugu Pemandengan (Titik Nol) Kota Surakarta bukan tanpa tujuan. Balon dengan tulisan hak-hak anak tersebut akan membantu masyarakat untuk tahu maupun mengingat kembali hak-hak anak. Harapannya orang dewasa di sekitar anak akan lebih serius dalam pemenuhan hak-hak anak.

Tentunya aksi perayaan ini bukanlah akhir. Semoga masyarakat semakin sadar akan pentingnya pemenuhan hak anak tanpa diskriminasi. Anak jalanan, anak penyandang disabilitas, anak putus sekolah, pekerja anak, anak berhadapan hukum, mereka semua memiliki hak yang sama. Orang dewasa bertanggung jawab penuh atas pemenuhan hak-hak mereka.

Semangan dan cinta untuk anak-anak Indonesia!

Ditulis oleh Febi Dwi S. (Relawan Sahabat Kapas), diedit oleh Dian S. (Koordinator Sahabat Kapas).

Foto diambil dari facebook Sahabat Kapas : Solidaritas Kapas