Surat Tanpa Alamat

“Perjalanan selalu menyisakan kenangan. Jika beruntung, kita akan mendapat pelajaran di perjalanan; yang lalu disimpan dan mungkin dibagikan. Hidup telah banyak memberi; dari bagaimana kesulitan lalu datang kemudahan, pun sebaliknya.”

Pendampingan Sahabat Kapas pada Sabtu itu saya yakini akan berjalan seperti biasanya. Saya dan rombongan Kapas bergegas ke stasiun di pagi buta untuk mengejar kereta Prameks yang akan mengantarkan kami ke Kutoarjo. Seperti biasa pula, kami mengisi energi terlebih dahulu di warung langganan samping stasiun untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke LPKA Kutoarjo dengan menumpang angkutan kota. 

Gerbang kayu LPKA pun menyambut kami seperti biasanya. Di balik gerbang, kami merasakan energi mereka mengalir penuh semangat dan rindu yang terselip setelah dua minggu tak berjumpa. Setelah melewati pos pemeriksaan, sayup terdengar suara mereka memanggil nama-nama kami dengan penuh semangat; kangen katanya. 

Iting yang Menyimpan Rahasia 

Pendampingan Sabtu itu berjalan sesuai yang kami rencanakan. Selepas pendampingan, kami membagi anak-anak LPKA menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama adalah mereka yang baru masuk LPKA dan belum mendapatkan pendampingan dari Sahabat Kapas sebelumnya. Bagi mereka, kami memberikan lembar Iting untuk diisi. Lembaran tersebut memuat data dan informasi diri anak yang akan dimiliki Sahabat Kapas. Kami menggunakannya untuk memantau perkembangan anak dan sifatnya sangat rahasia. 

Di kelompok kedua, kami memfasilitasi mereka yang ingin mengabadikan satu fragmen dalam hidupnya di LPKA menggunakan kamera yang dibawa rombongan. Hasil jepretan mereka akan diarsipkan oleh Kapas dan tidak akan disebarluaskan secara sembarangan. Mereka pun dapat meminta hasil cetak fotonya untuk disimpan. Kami selalu memastikan hanya membagikan hasil cetak foto kepada yang bersangkutan, karena kami percaya mereka amat istimewa. 

“Aku sehat, bapak sama mas gimana?”

Pada kelompok ketiga, kami menemani anak-anak yang ingin menitipkan pesan kepada keluarga, pacar, atau barangkali teman-teman mereka di luar LPKA. Kami dengan senang hati akan menyampaikan pesan-pesan tersebut kepada penerimanya. 

Salah satu anak, datang menghampiri saya. “Mbak, aku ingin titip pesan,” ucapnya seperti anak lain.  

“Ya silakan… Ini kertasnya, ditulis saja, ya,” jawab saya. 

“Tapi aku enggak bisa nulis, Mbak.”

“Oh, yaudah tak tuliskan saja bagaimana. Isi suratnya mau gimana?”

“Pak, aku kangen. 
Bapak kapan bisa jenguk aku? 
Aku sehat, bapak sama mas gimana?”

“Sudah? Ini mau dikirim ke mana?”

“Ke bapakku, Mbak. Tapi aku nggak punya nomornya.”

“Oalah, bapak punya facebook enggak?”

“Enggak punya, Mbak.”

“Bapak posisinya di mana sekarang?”

“Bapak di penjara, Mbak.”

Hening sejenak. “Oh ya sudah, kalau begitu dikirimkan ke masmu saja, ya. Kamu punya nomor masmu atau facebook-nya enggak?”

“Mas juga di penjara, Mbak. Tapi aku enggak tahu di mana, tolong cariin ya, Mbak.”

Berpura-pura memeriksa kembali pesan yang ia sampaikan tadi adalah cara saya menghindari binar harapan di matanya. Sebelum berlalu, ia kembali berpesan, “Mbak, aku titip pesan itu buat bapakku, ya.” 

Ruang aula LPKA mendadak sendu dan dingin. Hari itu rupanya tak berlalu seperti Sabtu biasanya.

Tak Sekadar Pesan Sederhana 

Bagaimana surat akan sampai pada penerimanya jika tak memiliki alamat? 

Jangan-jangan benar bahwa hidup adalah hukuman bagi yang hidup. Hukuman dalam bentuk-bentuk rasa bersalah yang menghantui tapi terlalu pengecut untuk mati. Perasaan bersalah karena tak dapat mengirim surat terasa menyakitkan. Pun terlalu sulit menemukan alamat yang abu-abu dan terlalu pedih menyampaikan kebenaran.

Barangkali pesan itu terbaca sebagai hal yang biasa dan tak bernilai apa-apa. Tetapi, saya percaya bagi mereka pesan itu amat bermakna. Banyak orang berpikir bahwa LPKA adalah tempat yang tidak buruk-buruk amat—terlalu berat mengatakan menyenangkan—karena masih banyak temannya dan masih bisa bersekolah. Meski begitu ramai, tapi tempat itu barangkali adalah keramaian dari bisik-bisik kesenduan, kerinduan, bahkan penyesalan. 

Barangkali surat itu adalah penyembuhan untuk mereka. Melabuhkan harapan dan berharap terbalas, tapi kalau pun tak terbalas dan pesan ditolak mereka sudah bersiap. Begitulah pesan yang sederhana bekerja. Tidak tajam menusuk tapi juga tidak dangkal untuk menyentuh perasaan.

Ingin ku menangis saat ku terpaku

Mengenangkan nasib diri yang tiada arti

Tommy J. Pisa dengan tembangnya Suratan seakan menjadi wakil atas ketidakberdayaan karena tak sanggup mengirim surat tanpa alamat tersebut. Hingga kini surat tersebut masih saya simpan dengan baik. Untuk menyudahi rasa bersalah, pesan surat itu saya kirim dengan doa dan harapan setulus hati agar sampai pada pemiliknya.