Exemple
Bella Melindha Hadi
Mahasiswa Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta/Relawan Magang Kapas

 

Hidup sebagai anak rantau menumbuhkan kebanggaan tersendiri bagiku. Aku merasa memiliki kemandirian di atas teman-teman lain yang hingga saat ini masih tinggal bersama orang tuanya. Kemandirian dan kepercayaan yang ditanamkan oleh kedua orang tuaku membuatku merasa kehadiran mereka tidak selalu kubutuhkan.

Ternyata, banyak teman tak merasakan “kenikmatan” yang sama ketika menjadi anak rantau. Bahkan, banyak di antara mereka yang seringkali memilih pulang ke rumah apabila ada kesempatan.  “Ah manja kamu! Cuma pusing sampai ingin pulang ke rumah,” ejekku pada salah satu teman kosku dulu.  Padahal hampir tiap minggu Continue reading Bukankah Dia Anak yang Kuat?

Sahabat Kapas adalah organisasi nonpemerintah dan nonprofit, yang berkedudukan di Karanganyar, Jawa Tengah.

Read More →
Exemple

Sahabat Kapas bersama Rutgers WPF Indonesia bekerja sama dan Kementerian Hukum dan HAM RI (Kemenkumham RI) menyelenggarakan Pelatihan Psikoedukasi Berbasis Gender untuk Anak Berkonflik dengan Hukum pada 6-9 Agustus 2018 di Kota Tangerang, Banten. Pelatihan ini diikuti oleh tiga anggota Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjen PAS), tiga petugas LPKA Tangerang, tiga petugas LPKA Kutoarjo, dan masing-masing satu orang perwakilan dari Kantor Wilayah Kemenkumham Provinsi Banten, Jawa Tengah dan DKI Jakarta.

Diadakannya pelatihan psikoedukasi ini dilatarbelakangi oleh semakin meningkatnya kasus anak yang berhadapan dengan hukum. Tercatat, per Agustus 2018, terdapat 3.647 orang anak yang terpaksa tinggal di lembaga pembinaan, baik di LPKA, lapas, maupun rumah tahanan. Salah satu kasus yang mendominasi dan terjadi di beberapa daerah adalah kasus kekerasan seksual. Oleh karena itu, dalam pelatihan ini, para peserta diajak mengenali konseling kelompok bagi anak pelaku kekerasan seksual.

Dalam pelatihan ini, peserta mendapat sekilas gambaran mengenai hak anak dan perlindungannya. Peserta juga dikenalkan dengan konsep membangun nilai-nilai dasar menjadi lelaki berdasarkan tokoh idola. Tidak hanya itu, peserta juga diajak mengenal perbedaan seks dan gender dengan metode bermain peran menggunakan media boneka. Seperti yang kita ketahui, bekerja dengan dan untuk anak berbeda dengan bekerja pada umumnya. Bekerja untuk anak mebutuhkan teknik khusus yang disebut playfulness agar seseorang dapat membaur dengan anak. Teknik ini sangat dibutuhkan terutama bagi para petugas lembaga dengan kondisi anak-anak yang memang memerlukan perhatian dan penanganan khusus.

Hal lain yang juga diperhatikan dalam penanganan anak-anak di dalam lembaga adalah masalah kesehatan seksual dan reproduksi. Untuk hal ini, peserta pelatihan diminta untuk menggambar organ seksual dan reproduksi perempuan dan laki-laki, serta hal-hal apa saja yang menyebabkan organ tersebut rusak. Selain itu, peserta juga dikenalkan dengan kekerasan berbasis gender (gender-based violence), yakni istilah yang digunakan untuk merangkum kekerasan yang terjadi akibat ekspetasi peran normatif terkait jenis kelamin dalam masyarakat. Kekerasan berbasis gender sejatinya bisa terjadi pada semua orang, termasuk anak-anak. Pemahaman komprehensif mengenai hal ini tentu dibutuhkan dalam penanganan kasus anak.

Sesi role play konseling./ (Dok. Pribadi)

Hal yang paling ditunggu-tunggu selama pelatihan berlangsung adalah sesi konseling. Dalam sesi ini, fasilitator menjelaskan tentang dasar-dasar konseling. Kemudian, peserta diminta untuk bermain peran (role play). Peserta harus berpasang-pasangan, satu orang sebagai klien dan satu orang sebagai konselor. Selain konseling individu, peserta juga dikenalkan dengan konseling kelompok yang memiliki tantangan lebih besar. Hal ini karena klien yang dihadapi lebih dari satu dan cenderung memiliki pengalaman hidup beragam. Untuk konseling kelompok, peserta dilibatkan dalam sebuah role play yang dipandu oleh fasilitator sebagai konselornya untuk memeragakan teknik konseling kelompok.

Para petugas yang mengikuti pelatihan konseling ini diharapkan dapat melaksanakan kegiatan konseling kelompok di LPKA masing-masing. Sahabat Kapas bersama Rutgers WPF Indonesia akan memberi dukungan di LPKA Kutoarjo dan LPKA Tangerang dalam pelaksanaan kegiatan tersebut. Kegiatan akan dilaksanakan sebanyak 12 kali pertemuan pada 10 anak di masing-masing LPKA dimulai pada September 2018.

Pecinta Anak dan Kopi Arabica. Belajar Hukum di Universitas Sebelas Maret Surakarta dan telah menyelesaikannya. Belajar kehidupan di Dunia namun belum menyelesaikannya.

Read More →
Exemple

Kali pertama saya bertemu anak-anak di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA). Deg-degan pastinya karena menyadari yang dihadapi adalah anak-anak istimewa. Sebagai pengalaman pertama tentu akan banyak kekurangan, namun saya harus berani melangkahkan kaki dan berusaha menengadahkan wajah tetap ke depan serta tersenyum.

Hari itu, 23 Mei 2017, kami hendak bermain bersama dalam satu kegiatan outbond di LPKA Kutoarjo. Ada kurang lebih 70 anak di sana. Usia mereka antara 14-18 tahun. Suka cita bermain bersama, membaur bersama mereka. Puji Tuhan, semua berjalan dengan lancar dari awal, pertengahan hingga akhir. Semua kekhawatiran saya tentang LPKA sekejap sirna tatkala mulai berinteraksi dengan anak-anak. Mereka tetaplah anak-anak yang penuh suka cita bermain, tidak ada yang berbeda. Hanya saja mereka pernah berada di jalur yang salah.

Saya di tengah keceriaan outbond LPKA Kutoarjo.

Mereka ada bukan untuk dijauhi dan dikucilkan, tapi mereka butuh kepedulian kita, pertolongan kita. Untuk itulah kami di Sahabat Kapas ada. Setidaknya kami bisa menjadi tempat curahan hati anak-anak di LPKA/Rutan/Lapas, itu sudah membuat hati saya merasa lega. Menjadi bermanfaat bagi anak-anak untuk berbagi rasa karena tidak pernah dijenguk keluarganya.

Kini saya punya cerita untuk anak saya di rumah. Dia seusia dengan mereka yang di dalam LPKA/Rutan/Lapas. Bukan cerita menakutkan tentangLPKA/Rutan/Lapas, tapi cerita tentang dampak perilaku salah yang bisa semua remaja lakukan. Agar anak saya bisa memanfaatkan kebebasannya dengan lebih positif.

Bersyukur kami boleh membawa dampak bagi anak-anak di LPKA/Rutan/Lapas. Meski tidak mudah namun kami tetap bersama-sama berjuang untuk masa depan mereka agar menjadi lebih baik. Semoga….

 

Ditulis oleh Denis Kusuma P. (Staf Administrasi dan Keuangan Sahabat Kapas).

Foto diambil dari Facebook : Solidaritas Kapas

Penyuka panda, pantai dan percakapan. Selalu ingin membuat terobosan menarik dan kreatif dalam pekerjaan dan kehidupan sehari- hari. Mantra mujarab: Things get tough and shi*s happen, but you’ll survive.

Read More →

Menaklukan permainan dalam kegiatan outbond tidak pernah mudah. Beraktivitas dalam tim besar dengan mayoritas anak berusaha menyampaikan pendapat tentu menimbulkan frustasi tersendiri.

Selasa (23/5) lalu, Sahabat Kapas menggandeng HAMDA Consulting menggerakan lebih dari 60 anak di LPKA Kutoarjo untuk menikmati sensasi panas matahari sembari saling berlomba menaklukkan permainan dan berbagai tantangan yang super seru.

Dancing as a warming up!

Salah satu tantangan pendampingan anak di dalam Rutan/Lapas/LPKA adalah kedatangan dan kepergian anak yang cepat. Kondisi ini membuat interaksi sosial anak dengan sebayanya kurang optimal dan menyebabkan ikata antar anak kurang kuat. Padahal kedekatan anak dengan sebayanya sangat berpengaruh terhadap perkembangan psikologi individu anak tersebut. Merespon situasi ini, Sahabat Kapas dengan dukungan LPKA Kutoarjomemberikan kegiatan yang merangsang komunikasi intrapersonal anak guna mendukung perkembangan anak agar tumbuh secara maksimal.

Kerjasama tim


Continue reading Outbond Kita: Bersama dan Berbahagia

Penyuka panda, pantai dan percakapan. Selalu ingin membuat terobosan menarik dan kreatif dalam pekerjaan dan kehidupan sehari- hari. Mantra mujarab: Things get tough and shi*s happen, but you’ll survive.

Read More →