Exemple

Deru mesin lokomotif dan peluit penjaga stasiun mulai terdengar di Stasiun Kutoarjo. Panasnya terik matahari di kota yang baru sekali kukunjungi ini terasa menembus sampai ke dalam tulang. Pikiranku siang ini melayang entah kemana, hal yang aku alami pagi ini benar-benar di luar batas logikaku.

Terdengar kembali panggilan untuk penumpang tujuan Solo untuk segera bersiap di jalur satu. Aku bergegas mendekati kereta yang sudah butut namun ditunggu banyak orang ini. Keadaan kereta yang masih kosong membuatku leluasa untuk memilih tempat duduk di pojok dekat toilet.

Perlahan kereta mulai meninggalkan Stasiun Kutoarjo, kembali pikiranku melayang ke kejadian yang aku alami. Pengalaman pertama pendampingan di sebuah tempat bernama Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kutoarjo. Kegiatan yang belum pernah aku lakukan sebelumnya. Sungguh tak pernah kubayangkan, hari ini aku masuk dan mendengar banyak cerita dari mereka.

Siapa mereka? Mereka adalah teman-teman baruku yang menjadikanku seakan gila hari ini. Mereka adalah anak-anak yang tinggal di LPKA Kutoarjo. Mereka telah sukses membuatku kagum, sehingga kekaguman itu membuatku menjadi seperti orang gila yang terus memikirkan kegiatan tadi. Mereka tak segan bermain dengan penuh keceriaan tanpa ada batas denganku, orang baru yang pastilah asing bagi mereka.

Tak terasa perjalananku sudah memasuki kota kesenian Yogyakarta, terdengar pengumuman bahwa kereta telah sampai di Stasiun Tugu. Bertambahnya penumpang membuat lamunanku dipaksa buyar seketika.

Ketika kereta melewati perlintasan dan membunyikan klakson, tiba-tiba aku teringat pada salah satu anak di LPKA Kutoarjo yang menitipkan kertas kepadaku. Penasaran, kubuka satu lembar kertas yang dilipat dengan rumit. Seperti sengaja agar tidak sembarang orang bisa membukanya. Seperti disambar petir di siang hari, aku membaca beberapa larik puisi di sana.

“Maafkan Aku”

Tuhan, maafkan aku yang tak pernah menjalankan kewajibanku

Ayah dan Ibu, maafkan aku yang tak pernah mendengarkan perkataanmu

Semua ini terjadi karena kesalahanku

Maafkan aku.

Aku mengulang beberapa kali membaca puisi sederhana yang sangat mengena itu, hingga air mataku benar-benar menetes. Aku menangis karena aku menginggat benar ceritanya. Teman baruku ini sangat merindukan ayah ibunya. Ayahnya telah lama pergi. Hanya ada ibunya yang tinggal seorang diri di rumah. Di sebuah kota dengan jarak ratusan kilometer dari Kutoarjo.

Membaca puisi ini aku jadi merasakan apa yang dirasakannya di LPKA. Membaca puisi ini aku teringat banyaknya kesalahanku kepada orang tuaku dan Tuhan. Mungkin lewat teman baruku ini Tuhan memberikan banyak teguran untukku.

“Kereta jurusan Solo akan segera berangkat”

Wah, ternyata sudah hampir meninggalkan Klaten. Aku kembali tersadar. Tak berhenti merasa bersyukur atas pengalaman hari ini. Semoga ada lain waktu untukku bertemu mereka lagi. Anak-anak remaja yang tengah berjuang menghadapi konsekuensi perbuatannya.

Ditulis oleh Haidar Fikri (Relawan Sahabat Kapas).

Penyuka panda, pantai dan percakapan. Selalu ingin membuat terobosan menarik dan kreatif dalam pekerjaan dan kehidupan sehari- hari. Mantra mujarab: Things get tough and shi*s happen, but you’ll survive.

Read More →
Exemple

Kali pertama saya bertemu anak-anak di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA). Deg-degan pastinya karena menyadari yang dihadapi adalah anak-anak istimewa. Sebagai pengalaman pertama tentu akan banyak kekurangan, namun saya harus berani melangkahkan kaki dan berusaha menengadahkan wajah tetap ke depan serta tersenyum.

Hari itu, 23 Mei 2017, kami hendak bermain bersama dalam satu kegiatan outbond di LPKA Kutoarjo. Ada kurang lebih 70 anak di sana. Usia mereka antara 14-18 tahun. Suka cita bermain bersama, membaur bersama mereka. Puji Tuhan, semua berjalan dengan lancar dari awal, pertengahan hingga akhir. Semua kekhawatiran saya tentang LPKA sekejap sirna tatkala mulai berinteraksi dengan anak-anak. Mereka tetaplah anak-anak yang penuh suka cita bermain, tidak ada yang berbeda. Hanya saja mereka pernah berada di jalur yang salah.

Saya di tengah keceriaan outbond LPKA Kutoarjo.

Mereka ada bukan untuk dijauhi dan dikucilkan, tapi mereka butuh kepedulian kita, pertolongan kita. Untuk itulah kami di Sahabat Kapas ada. Setidaknya kami bisa menjadi tempat curahan hati anak-anak di LPKA/Rutan/Lapas, itu sudah membuat hati saya merasa lega. Menjadi bermanfaat bagi anak-anak untuk berbagi rasa karena tidak pernah dijenguk keluarganya.

Kini saya punya cerita untuk anak saya di rumah. Dia seusia dengan mereka yang di dalam LPKA/Rutan/Lapas. Bukan cerita menakutkan tentangLPKA/Rutan/Lapas, tapi cerita tentang dampak perilaku salah yang bisa semua remaja lakukan. Agar anak saya bisa memanfaatkan kebebasannya dengan lebih positif.

Bersyukur kami boleh membawa dampak bagi anak-anak di LPKA/Rutan/Lapas. Meski tidak mudah namun kami tetap bersama-sama berjuang untuk masa depan mereka agar menjadi lebih baik. Semoga….

 

Ditulis oleh Denis Kusuma P. (Staf Administrasi dan Keuangan Sahabat Kapas).

Foto diambil dari Facebook : Solidaritas Kapas

Penyuka panda, pantai dan percakapan. Selalu ingin membuat terobosan menarik dan kreatif dalam pekerjaan dan kehidupan sehari- hari. Mantra mujarab: Things get tough and shi*s happen, but you’ll survive.

Read More →

Saya merupakan relawan magang di Sahabat Kapas. Baru sebulan saya mengikuti program relawan magang ini sejak bergabung pada akhir bulan Juni 2015 lalu. Kegiatan saya di Sahabat Kapas diawali dengan orientasi dan kegiatan administratif di kantor Sahabat Kapas. Hingga yang paling berkesan, saat saya diberi kesempatan untuk berkegiatan di Lapas.

Rabu, 8 Juli 2015, ketika umat muslim sedang menjalankan ibadah puasa, Sahabat Kapas mengadakan buka bersama dengan anak-anak di Lapas Klaten. Hari itu pula saya untuk pertama kalinya berkesempatan masuk ke dalam Lapas. Saya bertugas sebagai pembawa acara buka bersama tersebut. Saat menerima tugas tersebut, saya pun bingung akan bagaimana, ini pertama kalinya dan langsung ditunjuk menjadi pembawa acara.

Perasaan yang saya rasakan menjelang detik-detik mengetuk pintu gerbang lembaga pemasyarakatan tersebut……… campur aduk. Setelah Pegawai Lapas menyambut kami dengan ramah, rasa takut atas bayang-bayang sel tahanan beserta penghuninya sedikit sirna. Saya beserta teman-teman relawan pun diantar petugas naik ke aula Lapas yang berada di lantai 2. Di sana, saya melihat anak-anak sedang melihat ke luar jendela. Sayup-sayup saya mendengar celetukan salah seorang anak, “Angin e bedo ya neng jero sel karo neng jobo sel (anginnya berbeda ya di dalam dan di luar sel).” Kalimat sederhana yang membuat saya sadar bahwa kebebasan itu mewah. Kalimat sederhana yang mungkin akan ditertawakan orang, tetapi memiliki arti mendalam bagi mereka.

Relawan-relawan lain sempat bercerita mengenai penyebab anak-anak tersebut sampai di dalam Lapas, bagaimana latar belakang keluarganya dan bagaimana lingkungannya. Cerita-cerita tersebut membuat mata saya terbuka bahwa ternyata anak-anak tersebut adalah korban. Korban dari tidak terpenuhinya hak-hak mereka. Korban orang-orang dewasa yang tidak memberikan kesempatan kepada mereka untuk mendapatkan pengasuhan yang tepat dan kesempatan untuk tumbuh kembang yang baik.

Kaget, prihatin, simpati, takut dan bingung harus bertindak seperti apa. Itulah perasaan saya ketika pertama kali melihat anak-anak dan setelah mendengar cerita dari Relawan Sahabat Kapas. Bertemu mereka dalam kesempatan berbuka puasa bersama di aula ini, merupakan momen bagi saya mengenal ‘dunia lain.’ Membuka mata saya dan meruntuhkan segala pandangan takut, seram dan stigma-stigma lain terhadap mereka di masa lalu.

Segala yang saya lakukan di dalam Lapas saat kunjungan adalah pertama kalinya bagi saya. Cerita yang bisa saya bagikan kepada ayah dan adik saya, sekaligus mengajarkan pada mereka untuk saling menghormati dan menghargai orang lain, dimanapun mereka berada.

Anak-anak ini membutuhkan uluran tangan kita sebagai dewasa yang bijak guna masa depan mereka. Saat ini saya dan seorang teman relawan magang sedang dalam proses belajar bersama mereka, belajar mengenai hidup dan kehidupan. Kami harap hal-hal baik akan datang dalam kegiatan kami sehingga dapat berguna bagi teman-teman.

Ditulis oleh Kuswendari Listyaningtri H. (Relawan Magang Sahabat Kapas), diedit oleh Bungsu Ratih P. R. (Relawan Sahabat Kapas).

Sahabat Kapas adalah organisasi nonpemerintah dan nonprofit, yang berkedudukan di Karanganyar, Jawa Tengah.

Read More →
Exemple

Mewujudkan sebuah Kota Layak Anak (KLA) salah satu indikatornya terukur dari ketersediaan ruang partisipasi anak dalam pembangunan. Hal ini menjadi salah satu bagian dari aplikasi hak sipil dan kebebasaan anak yang diamantkan dalam Konvensi Hak Anak. Pasal 1 angka 2 Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan Dan Perlindungan Anak Nomor 03 Tahun 2011 Tentang Kebijakan Partisipasi Anak Dalam Pembangunan menyebutkan Partisipasi Anak adalah keterlibatan anak dalam proses pengambilan keputusan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan dirinya dan dilaksanakan atas kesadaran, pemahaman serta kemauan bersama sehingga anak dapat menikmati hasil atau mendapatkan manfaat dari keputusan tersebut.

11053432_1106514202695494_6264409566257411645_n

Anak-anak didik pemasyarakatan di Kutoarjo belajar fotografi. Kegiatan ini merupakan contoh bentuk perwujudan tangga keenam dalam Tangga Partisipasi Hart.

Lampiran Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan Dan Perlindungan Anak Republik Indonesia Nomor 03 Tahun 2011 Tentang Kebijakan Partisipasi Anak, menyebutkan keterlibatan anak dalam proses pengambilan keputusan yang berhubungan dengan anak dan anak dapat menikmati perubahan yang terjadi akibat dari keputusan tersebut yang berkenaan dengan hidup mereka baik secara langsung maupun tidak langsung, yang dilaksanakan dengan persetujuan dan kemauan semua anak berdasarkan kesadaran dan pemahaman. Pengertian partisipasi sendiri sebetulnya sangat luas dan memiliki tingkatan-tingkatan, seperti yang dikemukakan oleh Hart (1997), yang mempopulerkan kebijakan tangga partisipasi sebagai berikut:

  1. Manipulasi

Anak-anak dimanfaatkan oleh orang dewasa untuk kepentingan orang dewasa.

  1. Dekorasi

Anak-anak hanya diajak mengikuti suatu kegiatan tertentu oleh orang dewasa tapi hanya menjadi pajangan saja.

  1. Tokenisme

Anak-anak diajak untuk mengikuti suatu kegiatan yang direncanakan dan dilaksanakan oleh orang dewasa, anak-anak hanya dipakai oleh orang dewasa sebagai simbol saja bahwa kegiatan tersebut telah melibatkan anak-anak.

  1. Ditetapkan, tapi diberi informasi

Orang dewasa memutuskan kegiatan dan terlibat secara sukarela. Anak-anak mengetahui kegiatan tersebut dan mereka mengetahui siapa yang memutuskan untuk melibatkan mereka dan mengapa dilibatkan. Orang dewasa menghargai pandangan dari anak-anak.

  1. Diberi informasi dan nasihat

Kegiatan didesain dan dilaksanakan oleh orang dewasa tapi anak dimintai masukannya. Anak-anak ini memiliki pemahaman/pengetahuan mengenai proses kegiatan. Pandangan mereka diperhatikan secara serius.

  1. Keputusan atas inisiatif orang dewasa, dilakukan bersama anak

Orang dewasa memiliki gagasan awal, tapi anak-anak dilibatkan dalam setiap tahap perencanaan dan pelaksanaan. Anak-anak tidak hanya dipertimbangkan pandangan/masukannya tapi juga dilibatkan dalam pengambilan keputusan.

  1. Anak memiliki inisiatif dan diarahkan (oleh orang dewasa)

Anak-anak memiliki gagasan/inisiatif, merencanakan kegiatan tapi masih mengajak diskusi serta meminta nasihat dan dukungan dari orang dewasa.

  1. Keputusan atas inisiatif anak, dilakukan bersama orang dewasa

Anak-anak memiliki gagasan/ide tentang kegiatan dan memutuskan sendiri bagaimana caranya kegiatan tersebut dilaksanakan. Orang dewasa siap mendampingi tapi tidak ikut mengurusi (pasif).

Peran serta anak dalam pembangunan diwadahi dalam forum musyawarah perencanaan pembangunan (musrenbang). Setiap pemerintahan mulai dari daerah, propinsi, hingga pusat patut melibatkan anak dalam tahapan musrenbang. Situasi yang kerap ditemui adalah kentalnya dominasi orang dewasa seperti pembatasaan waktu penyampaian pendapat anak atau pemilihan waktu musrenbang di malam hari. Beragam hambatan partisipasi forum anak dalam musrenbang menunjukan belum optimalnya child mainstream di lingkungan pemerintahan. Tugas pemerintah untuk mendorong stakeholder di masyarakat dan pejabat penyelenggara pemerintahan agar lebih terbuka perspektif hak anaknya. Menekankan manfaat dari partisipasi forum anak merupakan bagian dari keberlangsungan pembangunan yang sehat dan bermanfaat bagi generasi bangsa.

Ditulis oleh Febri Mahfud E. (Relawan Sahabat Kapas), diedit oleh Dian S. (Koordinator Sahabat Kapas)

Foto diambil dari facebook Sahabat Kapas : Solidaritas Kapas

Sahabat Kapas adalah organisasi nonpemerintah dan nonprofit, yang berkedudukan di Karanganyar, Jawa Tengah.

Read More →
Exemple

Layang Kangen 1Hari ini aku kangen banget sama teman-temanku di rumah.
Aku ingin pulang segera dan aku pasti berkumpul bersama kalian lagi.
Di sini aku hanya bisa berharap dan berharap.
Tapi aku Alhamdulillah bisa sabar, gak seperti aku saat masih di luar bersama kalian.
Di luar aku gak bisa bersabar, tapi hanya bisa minta dan harus dituruti.
Dari sini aku bisa belajar bersabar dan aku selalu dihibur sama teman-temanku.

Di sini ada perkumpulan dari Sahabat Kapas.
Semua orangnya menurutku baik semua. Dia juga selalu menghiburku.
Walaupun gak setiap hari dia ke sini.
Sahabat Kapas lah yang memberi semangat selama aku di sini.
Aku suka dengan kegiatan-kegiatan yang mereka berikan kepadaku.
Aku masuk di sini juga karena salahku sendiri.
Sebenarnya sih salah semua, tapi aku sadar aku itu laki-laki yang harus bisa tanggung jawab atas semua perbuatanku.
Aku juga sadar gara-gara pergaulan bebas aku bisa masuk sini.
Aku berjanji akan hidup lebih baik agar bisa menyenangkan kedua orang tuaku.

Buat Sahabat Kapas terima kasih telah selalu memberiku semangat.
Aku gak bisa membalas dengan apa-apa.
Aku hanya bisa membalas dengan kata terima kasih.
Tapi kata terima kasih ini bukan sembarang terima kasih. Terima kasihku yang kuucapkan dari lubuk hatiku yang paling dalam.
Aku gak tahu apa jadinya aku apabila gak ada kalian semua yang menghiburku.

Buat teman-temanku, aku juga bisa membalas dengan terima kasih saja.
Semoga kalian tak lupa kepadaku.
Aku di sini yang rindu kalian.
Pokoknya aku sayang kalian semua.
Terima kasih sekali lagi teman.

Buat orang tuaku, aku minta maaf kepada kalian.
Aku yang bisa menyusahkan kalian saja.
Tapi aku berjanji akan hidup lebih baik setelah pulang dari sini.
Aku di sini pasti selalu berdoa untukmu semua agar sehat selalu.
Di sini, aku yang lagi kangen kalian semua.

Yang lagi dihukum penjara.
Ttd.

Ditulis oleh salah satu anak dampingan di Lapas Klas II B Klaten.

Sahabat Kapas adalah organisasi nonpemerintah dan nonprofit, yang berkedudukan di Karanganyar, Jawa Tengah.

Read More →
Exemple

Bulan Februari adalah bulan yang identik dengan cinta. Valentine yang dirayakan tiap tanggal 14 di bulan tersebut menjadi momen yang menginspirasi Sahabat Kapas untuk mengambil tema cinta di kegiatan dalam Lapas Klas II B Klaten tanggal 21 Februari lalu.

Seperti apa ya anak-anak di lapas mempersepsikan cinta? Apa jadinya jika mereka diminta untuk mengungkapkan perasaan cinta untuk orang tersayang dalam bentuk surat cinta?

Surat CintaAwalnya, anak-anak mengutarakan keberatan mereka ketika diminta menulis surat cinta. Mereka berpendapat bahwa surat cinta sudah sangat kuno di zaman serba canggih seperti sekarang ini. Telepon, sms, WA, dan berbagai aplikasi chatting lainnya menjadi pilihan yang lebih praktis dan mudah sebagai sarana untuk mengungkapkan perasaan cinta.

Penolakan mereka luntur setelah mendengar penjelasan dari para pendamping. Ungkapan cinta dalam bentuk surat dengan tulisan tangan sendiri akan mampu menyentuh hati orang yang dituju. Usaha penulis surat ketika memilih dan menuliskan tiap kata dalam surat cinta membuat surat cinta dengan tulisan tangan sendiri terkesan lebih personal.

Akhirnya, anak-anak pun bersemangat melalui proses menuliskan perasaan cinta mereka untuk orang tersayang. Apalagi setelah mereka melihat beberapa film tentang cinta yang mampu menggugah perasaan cinta dalam diri mereka.

Penasaran dengan isi surat cinta mereka? Dua orang anak mengijinkan kami memposting surat cinta mereka di blog ini.

Here they are…

Surat Cinta 2Bapak ibuku tercinta,
Ibu, aku minta maaf kalau selama ini aku tidak pernah menurut pada perkataanmu dan aku selalu tidak menurut. Makasih ibu yang semenjak kecil mendidik dan membesarkanku dan aku yang selalu tidak menurut. Mungkin kalau boleh aku pulang dari sini, akan memperbaiki semua sifatku dan tidak akan mengulangi lagi.
Dan buat adikku, jangan nakal seperti kakakmu ini yang hanya bisa membuat susah kepada orang tua. Terima kasih banyak ibuku yang selalu berkorban kepadaku. Maafkanlah kesalahan anakmu ini selama sejak kecil sampai sekarang.
I love you mom. Anakmu tercinta, hehehe…
Pengen kembali dan berkumpul bersama lagi dan tidak akan mengulangi lagi kesalahanku.

Surat Cinta 1

Aku yang lagi kangen.
Buat orang yang aku sayang. Semoga kalian di sana tidak lupa padaku. Aku di sini selalu mengingat kenangan-kenangan bersamamu. Jujur aku di sini sedih gak bisa bersama-sama kalian lagi.
Rasanya aku ingin cepat kembali berkumpul bersama kalian lagi.
Pokoknya aku sayang kalian. Aku rindu kalian.
Dari saya yang lagi dihukum.

Ditulis oleh Febi Dwi S. (Relawan Sahabat Kapas)

Sahabat Kapas adalah organisasi nonpemerintah dan nonprofit, yang berkedudukan di Karanganyar, Jawa Tengah.

Read More →
Exemple

“Ndri, nanti kita jemput di kampus ya anterin ke kantor Sahabat Kapas, aku atas nama KAHAM UII mau diskusi sama Sahabat Kapas tapi kita ga apal jalan.”

Sms dari seorang mahasiswa UII tersebut membuat bersemangat. Yeay! Diskusi artinya menambah ilmu baru…

Tanggal 26 November 2014 lalu Sahabat Kapas kedatangan belasan mahasiswa dari Universitas Islam Indonesia (UII), Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Universitas Gadjah Mada (UGM), dan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), yang tergabung dalam UKM Klinik Advokasi dan Hak Asasi Manusia (KAHAM). Ternyata, teman-teman yang mayoritas berkuliah di Jurusan Hukum di Kota Gudeg ini berasal dari berbagai kota di Indonesia. Bukan hanya dari Pulau Jawa lho, ada juga yang berasal dari Pulau Sumatera dan Kalimantan.

Jam 17.00 WIB teman-teman mahasiswa ini baru tiba di kantor Sahabat Kapas yang homey bersamaan dengan hujan yang sangat lebat. Eits, tapi tak berarti hujan itu menghalangi semangat tim Sahabat Kapas untuk menyambut teman-teman KAHAM ini ya…

Diskusi dimulai setelah teman-teman muslim melakukan sholat maghrib berjamaah. Di dalam diskusi ini pada intinya kami membicarakan tentang: “memenjarakan anak sama dengan pelanggaran HAM”. Teman-teman KAHAM sudah sangat paham tentang apa saja hak yang seharusnya melekat pada diri seseorang. Bahkan, teman-teman KAHAM juga berbagi pengalaman saat mendampingi korban dari pelanggaran HAM, yang menjadi pengetahuan baru bagi tim Sahabat Kapas. Diskusi menjadi lebih menarik ketika Mbak Dian, direktur Sahabat Kapas, menceritakan pelaksanaan pemenuhan hak anak di lapas/rutan yang belum optimal. Hal ini membuat diskusi semakin hidup dengan berbagai tanya jawab yang menarik untuk disimak. Banyak pengetahuan baru yang kami dapatkan.

Pada saat diskusi berlangsung, sederhana tapi bermakna

Pada saat diskusi berlangsung, sederhana tapi bermakna.

Diskusi dilakukan dengan santai, tapi justru itu lah yang membuat suasana jadi tidak canggung. Bahkan, semakin malam suasana semakin asik sampai rasanya tak ingin mengakhiri diskusi hari itu. Namun teman-teman KAHAM harus langsung pulang ke Yogyakarta. Akhirnya, diskusi ditutup dengan ucapan terima kasih serta pemberian kenang-kenangan dari Sahabat Kapas untuk teman-teman KAHAM.

Mbak Dian (kanan) memberikan kenang-kenangan kepada teman-teman KAHAM yang diwakili oleh ketua KAHAM UII.

Mbak Dian (kanan) memberikan kenang-kenangan kepada teman-teman KAHAM yang diwakili oleh ketua KAHAM UII.

Setelah itu kegiatan diakhiri dengan foto bersama…

Teman-taman KAHAM dan Tim Sahabat Kapas

Teman-taman KAHAM dan tim Sahabat Kapas.

Ditulis oleh Dyah Indria Kusuma W. (Relawan Sahabat Kapas)

Foto diambil dari facebook Sahabat Kapas : Solidaritas Kapas

Sahabat Kapas adalah organisasi nonpemerintah dan nonprofit, yang berkedudukan di Karanganyar, Jawa Tengah.

Read More →
Exemple

Kita seringkali tidak bijaksana dalam menilai.

Meminjam dan mengamini pandangan orang lain, lalu lupa untuk menggunakan mata hati untuk melihat. Kita mudah meyakini bahwa ibu tiri itu jahat; tato identik dengan kriminal; orang dengan HIV/AIDS sangat berbahaya; dan anak-anak di dalam Lembaga Pemasyarakatan sudah pasti anak “nakal”. Sayangnya, kita tidak benar-benar tahu kenyataannya, kita hanya mengikuti keyakinan orang kebanyakan. Menstigma tanpa bertanggung jawab.

 Tanpa kita sadari sebenarnya kita adalah manusia-manusia jahat.

Pernahkah terbayangkan dalam benak bahwa ada seorang anak yang putus asa menjadi “anak baik”? Ia dengan sengaja melakukan pelanggaran hukum agar kembali masuk ke lembaga pemasyarakatan karena merasa sudah tidak diterima lagi di masyarakat.

Atau bocah berusia belasan tahun yang mengubur segala cita dan harapan karena label anak “nakal” menancap di relung jiwanya seumur hidup.

Si A tidak diterima bekerja karena riwayat pernah menjadi warga binaan.

Si B tidak melanjutkan sekolah pun hanya karena ia pernah berada di balik jeruji besi, meski hanya karena mencuri beberapa buah jambu biji. Bukan semata sekolah menolaknya, tapi hati yang masih rapuh itu telah dihancurkan sampai tiada jelas bentuknya.

 Mereka sama, berikanlah kesempatan, dan mereka pun bisa.

Lima tahun berjalan kami setia untuk mempromosikan kesetaraan hak dan penghapusan diskriminasi untuk anak-anak berkonflik dengan hukum, khususnya anak-anak yang berada di balik jeruji besi. Beberapa upaya kami lakukan, salah satunya dengan mengikuti pameran Jagongan Media Rakyat di Jogja Nasional Museum (JNM) pada tanggal 23-26 Oktober 2014 yang lalu. Dalam acara tersebut kami memamerkan beberapa hasil karya anak-anak dampingan di Lapas Klas II B Klaten. Dengan karya tersebut kami berharap stigma negatif terhadap mereka dapat perlahan-lahan luntur.

Pemutaran Film "Cabe, Harga Sebuah Kebebasan" di Jagongan Media Rakyat, Jogja Nasional Museum

Pemutaran Film “Cabe, Harga Sebuah Kebebasan” di Jagongan Media Rakyat, Jogja Nasional Museum

Hari Pertama dan Kedua: Keramaian Anak-anak SD

Hari pertama pameran, Sahabat Kapas sibuk menata stand dan memenuhinya dengan beragam produk anak- anak dampingan di lapas. Mendapatkan jatah tempat di bagian belakang museum yang terhalang oleh aula seminar, stand Sahabat Kapas pada hari pertama masih sepi pengunjung. Meskipun mendapatkan tempat yang kurang strategis, personil Sahabat Kapas tetap semangat menggelar dagangan dan berinisiatif untuk berkenalan dengan komunitas lain yang mengisi stand terdekat.

Menjelang siang, anak-anak SD yang bersekolah di samping JNM ramai berdatangan. Lokasi stand yang dekat dengan sekolahan serta display yang menarik membawa anak-anak untuk berkunjung ke stand Sahabat Kapas. Mereka tampak antusias bertanya dan menjanjikan akan datang keesokan harinya.

Pada hari kedua stand Sahabat Kapas yang mengusung produk #OnJail buka mulai pukul 09.00 WIB. Seperti hari pertama, stand Sahabat Kapas masih sepi pengunjung. Hari kedua ini bertepatan dengan hari Jum’at dimana pada pagi hari masyarakat umum masih sibuk dengan pekerjaan, kuliah, sekolah, maupun aktivitas lainnya. Sekitar pukul 10.00 WIB stand Sahabat Kapas kembali diramaikan oleh anak-anak kecil usia TK-SD. Anak-anak ini sangat antusias melihat pernak-pernik yang terdapat dalam stand. Dari berbagai pernak-pernik yang dipamerkan dalam stand ternyata anak-anak paling tertarik dengan gelang karya anak-anak dampingan di Rutan Klas I A Surakarta tahun 2009 lalu. Tanpa rasa canggung anak-anak meminta kuis pada relawan Sahabat Kapas demi mendapatkan sebuah gelang secara gratis. Anak-anak mulai berbaris secara rapi dan satu persatu memperkenalkan diri. Kuis berlangsung dengan seru. Para relawan semangat memberi mereka kuis, mulai dari perhitungan hingga menerjemahkan kata-kata berbahasa Inggris yang ada di kaos produk #OnJail. Keramaian anak-anak yang memenuhi stand Sahabat Kapas akhirnya berlalu setelah beberapa puluh menit. Produk gelang pun akhirnya laku dan terjual habis karena diserbu oleh anak-anak.

Detik demi detik berlalu, pengunjung silih berganti. Banyak pengunjung yang menanyakan tentang Sahabat Kapas dan tidak sedikit pula yang membeli produk-produk #OnJail. Ada beberapa pengunjung yang memberi masukan dan ada juga yang tertarik dengan karya anak di Lapas Klas II B Klaten, sehingga membuat pengunjung ingin bekerja sama, memesan sablon karya anak di Lapas Klas II B Klaten.

 10710861_966623680017881_8138742364587331877_n

Hari Ketiga: All About Sahabat Kapas

Berbeda dengan hari- hari sebelumnya yang masih relatif sepi, lapak Sahabat Kapas mulai banyak dikunjungi oleh para pendatang pameran pada hari ketiga. Sudah siap sejak pukul 09.00 WIB, para relawan yang baru datang dari Solo menggantikan shift relawan yang telah berjaga pada hari pertama dan kedua. Pada hari itu banyak mahasiswa Jogja yang sedang mengerjakan tugas lapangan dan meliput Sahabat Kapas. Ketertarikan mereka berawal dari isu yang diusung Sahabat Kapas yang memang belum familiar bagi mereka. Beberapa mahasiswa dari UAD dan UNY mewawancarai relawan dan juga Direktur Sahabat Kapas, Dian Sasmita, terkait dengan sepak terjang Sahabat Kapas.

Dengan logo “I am Different, Not Dangerous”, seorang wakil dari change.org Indonesia pun tergelitik mampir di stand Sahabat Kapas. Dari pembicaraan yang terjadi, muncullah beberapa ide kerjasama ke depan yang mungkin bisa dilakukan oleh kedua pihak. Selain itu pengunjung dari berbagai kota seperti Wonogiri, Jakarta, hingga Lampung pun mampir dan berbincang-bincang dengan para relawan. Banyak di antara mereka yang memborong produk #OnJail sebagai wujud kepedulian mereka terhadap isu anak.

 10157361_966623533351229_2804349484580754690_n

Hari Keempat: Mengubah Paradigma Lewat Lensa Kamera

Di hari keempat, relawan Sahabat Kapas tidak membuka stand produk #OnJail karena seluruh kru berpartisipasi dalam acara pemutaran film. Acara yang masih merupakan rangkaian event Jagongan Media Rakyat ini menampilkan beberapa film hasil karya komunitas. Film “Cabe, Harga Sebuah Kebebasan” karya anak di Lapas Klas II B Klaten berkesempatan untuk diputar dan terbuka untuk diapresiasi oleh penonton dan pengunjung JMR. Film ini memang menjadi salah satu media untuk menyampaikan pesan anak di dalam lapas kepada publik luas. Dalam film berdurasi 15 menit ini, penonton diajak untuk melihat lebih dekat kehidupan anak di dalam lapas dari sudut pandang yang berbeda. Film ini memotret ide tentang bagaimana hal-hal kecil yang sangat sepele untuk orang lain di luar sana dapat menjadi hal berharga yang membuat mereka bahagia.

Pasca pemutaran film, acara dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Penonton melemparkan beberapa pertanyaan seperti apa saja kegiatan Sahabat Kapas untuk anak di dalam lapas, tujuan pembuatan film, serta alasan Sahabat Kapas menyerukan pesan “Stop Penjarakan Anak”. Pertanyaan terakhir tersebut merupakan pernyataan yang sudah sering dilontarkan dan menjadi perntanyaan yang lazim disampaikan oleh masyarakat awam.

Banyak dari masyarakat yang berpendapat bahwa penjara adalah tempat dimana anak yang telah terbukti bersalah harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Tidak banyak yang mau melihat dari perspektif yang berbeda. Pada kenyataannya penjara/lapas/rutan bukanlah jawaban atas permasalahn tersebut. Lapas/rutan mengungkung fisik anak, membuat mereka putus asa dan bahkan mungkin menyimpan dendam. Tidak banyak yang tahu bahwa minimnya pembinaan terhadap anak yang berada di dalam lapas/rutan membuat anak kehilangan kesempatan untuk bisa memperbaiki diri. Hal substansial yang mereka butuhkan adalah bimbingan dan pendampingan agar mereka bisa berproses dan menyadari bahwa mereka telah melakukan kesalahan, mampu memahami dan memikul tanggung jawab serta pada akhirnya tidak akan mengulangi perbuatannya lagi.

Dalam sesi tanya jawab tersebut, para relawan Sahabat Kapas juga menyampaikan sedikit informasi tentang ‘Diversi’ dan apa yang bisa dilakukan oleh para pengunjung yang hadir jika dihadapkan dengan kasus anak. Sebagai anggota masyarakat, merekka diharapkan mampu untuk bersikap tanggap dan bijaksana dengan mengutamakan kepentingan terbaik bagi anak.

Keikutsertaan Sahabat Kapas selama empat hari dalam Jagong Media Rakyat di Jogjakarta memberikan banyak teman, pelajaran dan pengalaman baru. Dengan pengalaman dan dukungan dari masyarakat luas, Sahabat Kapas semakin bersemangat untuk selalu mendampingi anak- anak untuk mengejar masa depan mereka yang lebih cerah.

Ditulis oleh Evi Baiturohmah, Febri Mahfud E., Bungsu Ratih P. R. dan Febi Dwi S. (Relawan Sahabat Kapas)

Foto diambil dari facebook Sahabat Kapas : Solidaritas Kapas

Sahabat Kapas adalah organisasi nonpemerintah dan nonprofit, yang berkedudukan di Karanganyar, Jawa Tengah.

Read More →
Exemple

Hak-hak anak sesuai dengan Konvensi Hak Anak pastilah sudah sangat melekat di benak para aktivis yang memiliki passion di dunia anak. Keempat hak dasar anak tersebut seperti sebuah senjata utama yang digunakan di dalam mengusung perlindungan terhadap anak dalam ranah apapun. Apa sajakah keempat hak dasar tersebut? Ada (1) Hak Hidup, (2) Hak Tumbuh dan Berkembang, (3) Hak Mendapat Perlindungan, dan (4) Hak untuk Ikut Berpartisipasi. Hak-hak tersebut saling berjalan beriringan, tidak boleh dipisah-pisahkan.

Yang menjadi permasalahan yakni, bagaimana dengan pemenuhan hak anak yang menjadi narapidana? Bukankah pencabutan sebagian hak yang dimiliki oleh individu merupakan salah satu dari bentuk pemidanaan? Lalu jika narapidananya adalah anak, apakah hak-hak yang melekat pada diri anak juga ikut dicabut sebagai bentuk dari pemidanaan?

Kita kembali ke hak dasar anak di atas. Bahwasanya hak-hak tersebut tidak bias dipisahkan. Hak dasar memiliki arti bahwa bagaimana pun juga dalam keadaan apapun juga, hak-hak tersebut harus tetap dipenuhi. Sehingga walaupun anak tersebut berada di dalam Lapas maka hak-hak dasar anak harus tetap dipenuhi.

Yang akan kita bahas dalam tulisan ini adalah hak pendidikan anak yang merupakan salah satu hak dasar yang harus mereka dapatkan. Jika anak berada di dalam Lapas, otomatis mereka akan dikeluarkan dari sekolah. Dari pihak sekolah pun akan mengeluarkan anak dengan alas an anak tersebut adalah seorang narapidana yang nanti bias saja menjelekkan almamater sekolah. Hal ini menjadikan anak kehilangan hak untuk mendapatkan pendidikan formalnya. Padahal, pendidikan adalah hal yang sangat penting. Penting tidak hanya untuk saat ini saja, akan tetapi juga untuk masa depan anak. Pendidikan formal bagi anak tidak hanya sebagai pemenuhan hak mereka, namun pendidikan sudah menjadi kebutuhan bagi mereka. Tidak mungkin bukan seorang anak yang adalah “mantan narapidana”, tidak berhak mendapatkan masa depan yang cerah?

Meskipun seorang anak merupakan narapidana atau anak yang ada di Lapas, mereka tetap harus dipenuhi hak pendidikannya. Terlebih adalah pendidikan formal, mengingat persaingan di dunia global saat ini. Anak merupakan generasi penerus bagi yang sudah tua. Anak merupakan pembangun bangsa di kemudian hari. Anak di sini adalah siapapun, tanpa terkecuali. Seorang anak bekas narapidana juga memiliki kewajiban untuk membangun bangsanya agar bias menjadi lebih baik bukan? Mereka bukanlah sampah masyarakat yang kemudian harus dibuang. Jangan lupa bahwa sampah saja bias didaur ulang, dan nilainya bias jadi melangit. Pendidikan formal sangat dibutuhkan bagi anak-anak, terlebih untuk anak di Lapas.

Dari pihak penegak hokum selaku pihak negara, seharusnya memberikan fasilitas pendidikan formal bagi anak-anak yang berada dalam Lapas. Penuhi hak-hak mereka sebagaimana juga memenuhi hak pendidikan anak yang di luar Lapas. Penuhi hak mereka tanpa adanya diskriminasi. Jangan membiarkan anak untuk memilih, mau atau tidak mau sekolah lagi atau ikut kelas Kejar Paket karena mereka masih tergolong anak yang keadaan jiwanya pun masih labil. Setidaknya dari pihak yang berwenang memberikan perintah untuk mengharuskan setiap anak yang ada di Lapas, tetap mengikuti pendidikan formal yang disediakan oleh pihak yang berwenang. Di samping pendidikan formal, pihak yang berwenang perlu juga menyediakan pembekalan keterampilan agar dapat mengasah kreativitas anak dan juga sebagai hiburan agar anak tidak merasa bosan dengan kegiatan yang itu-itu saja. Karena kondisi jiwa anak menuntut untuk masih suka bermain dan bersenang-senang.

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang cerdas, maka jangan membodohkan anak-anaknya sendiri. Mari cerdaskan anak cucu kita agar Indonesia menjadi negara yang semakin maju. Buktikan pada dunia bahwa bangsa kita adalah bangsa yang mempedulikan nasibnya dengan cara mengembangkan potensi anak-anaknya. Semoga bangsa ini kian menjadi bangsa yang besar dengan bangganya kita terhadap anak-anak kita. Sesuatu akan menjadi besar jika dikumpulkan dari sesuatu yang kecil. Ingatlah bahwa dalam pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945, salah satu tujuan negara adalah mencerdaskan kehidupan bangsa.

 

Ditulis oleh N. Yukamujrisa (Relawan Sahabat Kapas)

Sahabat Kapas adalah organisasi nonpemerintah dan nonprofit, yang berkedudukan di Karanganyar, Jawa Tengah.

Read More →
Exemple

Pameran

Satu dari banyak cerita menarik dari Mbak Siswi dan Mbak Dian ketika mengikutkan karya anak di Lapas Klas II B Klaten pada pameran yang diselenggarakan di Semarang beberapa waktu lalu, membuat saya tersentak. Ternyata, masih ada saja orang yang “takut” terlihat berhubungan dengan anak di dalam lapas.

Dalam pameran tersebut, berbagai produk #OnJail dipamerkan dan dijual kepada khalayak umum. Jelas, tujuan kami mengikuti pameran adalah agar lebih banyak orang melihat karya anak di lapas sehingga masyarakat sadar bahwa meskipun di dalam lapas, dengan fasilitas yang jelas tidak selengkap di luar, anak-anak masih bisa berkarya. Karya mereka sangat layak disandingkan dengan karya anak-anak pada umumnya. Perjuangan dan karya mereka patut untuk mendapatkan dukungan dari semua elemen masyarakat.

Akan tetapi, pada kenyatannya tidak semua orang mampu berpikir seperti itu. Masih saja ada orang yang “takut” secara terang-terangan mendukung perjuangan anak di lapas. Entah “takut” karena apa. “Takut” dicap sebagai orang yang “pro” kepada narapidana, mungkin? Entahlah.

“Kalau Anda beli produk kami, nanti kami akan foto Anda dan meng-upload-nya ke facebook kami.”

“Baik, baik. Saya beli ini.”

Tak berapa lama, pembeli tersebut datang lagi ke stand kami…

“Mbak, mbak… Setelah saya pikir-pikir, lebih baik foto saya jangan di-upload di facebook. Jangan ya mbak.”

Kenyataan itu membuat saya sadar, stigma yang berkembang di masyarakat mengenai narapidana maupun tahanan anak masih sedemikian negatifnya. Ternyata di luar sana, masih banyak orang yang “takut”, bahkan untuk sekedar “terlihat” membeli karya anak di lapas.

Banyak orang tidak paham bahwa sebagian besar anak yang mereka tuding sebagai pencuri, pencopet, dan penjambret itu adalah anak-anak dengan kesulitan ekonomi. Anak-anak tersebut mengambil benda-benda yang mereka inginkan hanya agar mereka bisa memiliki benda-benda yang juga dimiliki oleh teman-teman main/sebaya mereka. Kebanyakan, orang tua mereka sangat jarang bisa memberikan perhatian terhadap kebutuhan mereka. Jangankan untuk memenuhi kebutuhan materi, sekedar meluangkan waktu untuk dihabiskan bersama dengan mereka pun terkadang tidak bisa dilakukan oleh orang tua mereka.

Banyak orang yang tidak mau peduli dengan fakta bahwa kebanyakan anak dengan dakwaan pelecehan seksual itu adalah anak-anak yang sebenarnya melakukan free seks, pacaran yang “kebablasan”. Mereka adalah anak-anak di usia puber yang sudah selazimnya mulai berkenalan dan mencari tahu tentang segala hal mengenai kebutuhan seksual mereka. Sayangnya, mereka tidak mendapatkan cukup bimbingan untuk memuaskan rasa ingin tahu mereka dengan cara yang benar.

Jadi, selalu ada sebab di balik perilaku “menyimpang” anak.

Kami, para relawan, tidak pernah sekalipun mendukung tindakan salah yang dilakukan oleh anak-anak di lapas. Kami mendengarkan mereka, mencoba memahami mereka, dan akhirnya mengajak mereka untuk mau berkarya dan berjuang bersama untuk menjadi orang-orang yang lebih baik. Kami merangkul mereka, bukan membenarkan perbuatan salah yang pernah mereka lakukan. Kami senantiasa berharap semoga lebih banyak orang yang tergerak hatinya untuk tidak menghakimi anak-anak di lapas. Paling tidak, berhenti memberikan “cap negatif” terhadap mereka.

Ditulis oleh Febi Dwi S. (Relawan Sahabat Kapas)

Sahabat Kapas adalah organisasi nonpemerintah dan nonprofit, yang berkedudukan di Karanganyar, Jawa Tengah.

Read More →