Exemple
Judul Film            : The Little Prince  Musik            : Hans Zimmer
Genre                   : Animation, Fantasy Produksi        : On Entertaiment, Onyx Films, Orange Studio
Sutradara            : Mark Osborne MPAA             : BO (Bimbingan Orang tua)
Skenario              : Irena Brignull, Bob Persichetti Durasi             : 106 Menit

 

Film The Little Prince merupakan adaptasi dari novela Le Petit Prince karya seorang pilot asal Perancis, Antoine de Saint-Exupéry. Exupéry menulis dan mengilustrasikan manuskrip The Little Prince selama musim panas dan musim gugur tahun 1942 dalam pengasingannya di Amerika. Dalam membuat karakter Little Prince, Exupéry terinspirasi dari kisahnya sendiri dan orang-orang di sekitarnya. Hasil karyanya tersebut telah diterjemahkan ke dalam lebih dari 265 bahasa di seluruh dunia dan terpilih menjadi buku terbaik abad ke-20 di Perancis.

Adaptasi The Little Prince garapan Mark Osborne memiliki sedikit plot berbeda dengan apa yang ada di buku. Namun, perbedaan tersebut tidak meninggalkan garis besar cerita Exupéry. Bahkan, ilustrasi dan pengisahannya dikemas dengan baik dalam film ini.

Film ini diawali oleh narator, pilot bernama The Aviator, yang menceritakan kisah masa kecilnya. Kala itu, ia tengah menggambar seekor ular boa yang memakan seekor gajah. Saat menunjukkan hasil karyanya itu kepada orang dewasa, ia bertanya apakah mereka takut dengan gambar ular yang dia buat. Namun, jawaban yang diterimanya membuatnya kecewa. Para orang dewasa yang melihat gambar tersebut malah tertawa dan menganggap bahwa gambar yang ia buat adalah sebuah topi.

The Aviator tak menyerah begitu saja. Ia membuat gambar lain yang memperlihatkan seekor gajah di dalam perut ular secara lebih jelas. Setelah ditunjukkan ke orang dewasa, mereka malah menyuruhnya untuk berhenti menggambar dan fokus belajar ilmu lain yang dianggap lebih baik untuk masa depannya. Pada satu titik tertentu, Aviator berhenti untuk menggambar dan menaruh perhatiannya ke hal lain. Ia pun mulai memikirkan dan menaruh minatnya pada pesawat terbang. Bagian pembuka ini secara jelas berusaha menyampaikan topik penting dalam keseluruhan cerita, yaitu betapa tidak dapat dimengertinya orang dewasa.

“Apa yang paling penting bukan apa yang terlihat oleh mata, tapi apa yang dapat dirasakan oleh hati.”

Dibuka dengan plot yang hampir sama dengan cerita di novela, kisah Little Prince mulai sedikit berbeda ketika pada bagian berikutnya muncul seorang gadis kecil yang tengah disibukkan dengan persiapan ujian masuk sebuah sekolah bergengsi, Werth Academy. Gadis kecil itu memiliki kehidupan yang serba disiplin dan sangat terencana. Ibu gadis kecil itu bahkan membuat jadwal hal-hal apa saja yang harus dilakukan gadis kecil setiap harinya. Dalam film ini, kisah sang gadis kecil merepresentasikan kehidupan masyarakat sekarang, di mana orang tua merasa memiliki hak penuh untuk mengatur masa depan anak mereka. Akibatnya, anak tidak diberi ruang atau kesempatan untuk menentukan pilihannya sendiri. Bahkan, akibat orang tua yang terlalu mengatur kehidupan anak, mereka tak bebas menikmati masa kanak–kanaknya untuk bermain.

Kehidupan teratur gadis kecil itu perlahan-lahan berubah. Ia bertemu dengan tetangga sebelahnya yang ternyata adalah seorang kakek tua yang tidak lain adalah sang pilot. Awalnya, gadis kecil itu tidak menyukai sang kakek tua yang dianggapnya sangat aneh. Lambat laun, gadis kecil dan sang kakek tua pun berteman. Kakek tua pun menceritakan kisah menakjubkan tentang pangeran cilik (Little Prince) kepada gadis kecil. Ia mendongengkan kisah pertemuan sang pilot dan pangeran cilik, dari mana mereka berasal, hingga kisah perjalanan pangeran cilik. Dalam perjalanannya, pangeran cilik bertemu dengan seorang raja “penguasa” alam semesta, seorang gila hormat yang senang apabila dipuji, serta seorang pebisnis yang selalu sibuk menghitung bintang. Masing-masing pertemuan tersebut menggambarkan absurditas orang dewasa yang umum kita jumpai sehari-hari, mulai dari sindrom kekuasaan dan kepemilikan. Lagi-lagi, kita akan disuguhi gambaran betapa anehnya dunia orang dewasa.

Sang sutradara, Mark Osborne, bersama penulis naskah,  Irena Brignull dan Bob Persichetti,  memang tidak mengadaptasi persis kisah Little Prince seperti yang tertera di novela karya Exupéry. Namun, mereka jelas menyisipkan pesan penting dengan menambahkan sudut pandang kekinian dengan eksekusi yang baik tanpa melupakan kisah aslinya. Kelebihan lain dalam film ini adalah penyampaian pesan yang mendalam untuk terus berusaha dalam meraih mimpi yang kita inginkan. Selain itu, film ini juga mengajak kita untuk melihat sesuatu sebagaimana seorang anak kecil melihat dunia dengan polos, indah, dan apa adanya. Karena dengan begitulah kita justru akan jadi dekat dengan kedewasaan yang sesungguhnya.

 

Ditulis oleh Ajeng Jati Kusuma

(Mahasiswa Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta/Relawan Magang Kapas)

Sahabat Kapas adalah organisasi nonpemerintah dan nonprofit, yang berkedudukan di Karanganyar, Jawa Tengah.

Read More →
31142634

Sumber : goodreads.com

Judul buku : Genduk
Pengarang : Sundari Mardjuki
Tahun terbit : 2016
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Jumlah halaman : 219 halaman
ISBN : 978-602-03-3219-2

 

 

 

Pengarang dalam menulis novel Genduk terinspirasi kisah kecil ibunya yang ayahnya meninggal pada saat ibu pengarang masih berumur 3 tahun. Pengarang menulis buku ini selama kurang lebih 4 (empat) tahun. Penulisan dimulai dari riset ke latar tempat yang dipakai sampai cara pengolahan tembakau.

Genduk merupakan buku ketiga karangan Sundari Mardjuki setelah Papap, I Love You (2012) dan Funtastic Fatin (2013). Royalti dari buku ini akan disumbangkan kepada komunitas Cendikia Mandiri yang merupakan sebuah komunitas belajar yang membantu pendidikan anak-anak putus sekolah di lereng Gunung Sumbing-Sindoro, Temanggung, Jawa Tengah.

Buku yang bertema utama lokalitas ini menceritakan pencarian jati diri seorang gadis kecil bernama Anisa Nooraini atau biasa dipanggil Genduk. Sejak kecil Genduk sudah ditinggal ayahnya dan tidak tahu dimana keberadaan Bapaknya. Genduk tinggal bersama Ibunya di sebuah desa paling puncak gunung Sindoro bernama Ringinsari. Rasa penasaran akan identitas dan keberadaan bapaknya membuat Genduk semakin bertanya-tanya hingga dia memutuskan untuk keluar desa untuk mencarinya.

Cerita dalam buku ini menggunakan alur campuran dimana sebagian utama cerita menggunakan alur maju disertai beberapa flashback ketika menceritakan tentang Bapak Genduk. Walau menggunakan alur campuran, kita dapat dengan mudah membedakan mana yang merupakan cerita masa lalu dan cerita masa kini. Hampir semua kisah masa lalu merupakan cerita yang didengar Genduk dari orang lain, seperti Kaji Bawon, mengenai Bapak Genduk.

Cerita Genduk menceritakan kehidupan petani tembakau di Gunung Sindoro pada tahun 1970an. Dimana ketika jaman itu masih banyak tengkulak yang melakukan praktek penipuan kepada para petani tembakau gurem atau kecil. Hal ini membuat para petani kecil harus berjuang menyambung hidupnya yang mau tidak mau harus berhadapan dengan para tengkulak.

Sundari Mardjuki dalam menceritakan kisah Genduk menggunakan sudut pandang orang pertama tokoh utama dengan ditandai penggunaan kata ganti “aku” untuk tokoh utamanya, yaitu Genduk. Penulis menggunakan bahasa setiap karakter untuk percakapan-percakapan yang dilakukan para tokohnya. Terdapat beberapa kata yang menggunakan Bahasa Jawa atau bahkan kata yang hanya dimengerti oleh orang Temanggung, tapi sudah diberi penjelasan pada bagian catatan kaki.

Amanat yang dapat kita ambil dari cerita ini adalah kita tidak boleh menyerah untuk memenuhi keingintahuan kita walaupun mungkin hasilnya bakal tidak sesuai dengan harapan kita. Hal-hal yang tidak benar dalam suatu sistem perlu kita ubah seperti sistem tengkulak yang diceritakan dalam cerita ini.

Kelebihan dari novel ini adalah penulis mampu membawa para pembacanya merasuk pada era 1970an sambil membayangkan bagaimana kehidupan para petani tembakau di Gunung Sindoro pada masa tersebut. Selain itu melalui cerita para petani tembakau, pembaca dapat mengetahui beberapa nilai yang dianut oleh petani tembakau seperti anak-anak rela bolos sekolah ketika masa panen tembakau untuk membantu para orang tuanya. Selain itu alur cerita yang susah ditebak pembaca membuat penasaran seperti pada menjelang akhir cerita, Genduk akhirnya mengetahui bahwa bapaknya benar-benar sudah meninggal seperti perkataan ibunya. Padahal pembaca sudah digiring sedemikian rupa oleh penulis untuk berharap bahwa bapak Gendhuk masih hidup di luar sana.

Genduk merupakan sebuah novel yang menarik untuk dibaca terutama bagi yang ingin menyelam pada era tahun 1970an di sebuah desa penghasil tembakau. Cerita disertai konflik pribadi dan sosial tokoh utama membuat pembaca lebih mengerti permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh kaum menengah ke bawah pada era tersebut.

Ditulis oleh Agastyawan N. (Relawan Sahabat Kapas).

Penyuka panda, pantai dan percakapan. Selalu ingin membuat terobosan menarik dan kreatif dalam pekerjaan dan kehidupan sehari- hari. Mantra mujarab: Things get tough and shi*s happen, but you’ll survive.

Read More →