Edukasi Seks Bukan Hal Tabu

Awal tahun 2021 khalayak cukup dikejutkan dengan viralnya berita Serda Aprilia Manganang, seorang atlet voli putri yang mengalami pergantian jenis kelamin menjadi laki-laki. Beritanya tak hanya renyah disantap oleh kalangan dewasa. Mudahnya akses teknologi dan cepatnya penyebaran informasi, menjadikan isu itu mudah dikonsumsi oleh segala usia,
termasuk para remaja.

Banyaknya aplikasi dan media sosial seperti TikTok, Instagram, dan Facebook yang sudah sangat dekat dengan para remaja turut menjadikan segala informasi menjadi sangat cepat diakses. Tak terkecuali berita tentang perubahan kelamin yang dialami Manganang. Remaja masa kini yang merupakan generasi Z pun semakin kritis melihat fenomena tersebut.

Salah kaprah edukasi seks

Pemberitaan yang mengandung unsur seksual di negeri yang dikenal beradab dan beragama ini masih dinilai sebagai berita yang kurang patut untuk dikonsumsi publik. Seksualitas adalah ranah privat yang harus ditutupi. Dianggap kurang elok jika dibicarakan di publik, apalagi dibicarakan dengan remaja.

Ya, selamat datang di Indonesia, di mana remaja masih dianggap tabu untuk membahas tentang seksualitas secara terbuka. Padahal, mereka yang berusia 10-18 tahun ini, tengah menapaki fase pubertas yang penuh gejolak seksual karena mengalami proses pematangan alat reproduksi. Dilihat dari sudut pandang hukum, siapa pun yang belum berusia 18 tahun disebut anak.

Sayangnya, remaja atau anak-anak Indonesia ini tidak disiapkan untuk terbuka tentang seksualitas. Pendidikan seksual dan reproduksi masih dianggap sebagai misi bangsa barat dan asing. Dibumbui oleh pemikiran bahwa dalam pendidikan seks dari barat ditumpangi misi penyebaran paham LGBTQ.

Asumsi salah kaprah ini yang akan menjadikan Indonesia akan semakin tertinggal. Tak ayal tingkat kekerasan seksual tercatat semakin meningkat tiap tahunnya. Musababnya, pendidikan seksualitas dan reproduksi bagi anak tidak pernah diberikan. Mereka tumbuh dan berkembang sebagai manusia cacat pengetahuan seksualitas.

Kapankah sebaiknya anak dibekali pendidikan seksual?

Manusia lahir sebagai makhluk seksual. Kita dianugerahi oleh Tuhan dengan alat kelamin. Sejak usia 1 tahun, orang tua harus mengenalkan anaknya tentang alat kelaminnya. Mulai menyebutnya dengan istilah ilmiahnya, bukan mengganti istilah penis anak laki-laki dengan burung. Menurut psikolog, Naomi Ernawati Lestari, “Alat kelamin itu jangan dibeda-bedakan namanya. Bilang saja penis, bilang saja vagina. Jadi mereka enggak menganggap hal itu sesuatu yang tabu.

Apakah orang tua milenial sudah seia-sekata dengan ini? BELUM. Banyak pasangan masih terpenjara oleh pemikiran konvensional warisan orang tuanya–yang menyamarkan istilah alat kelamin.

Tidak hanya membicarakan tentang organ seksual dan reproduksi, pendidikan seksual memiliki beragam tema. Misalnya, mengajarkan anak menghormati privasi orang tua dan sebaliknya, orang tua pun harus menghormati privasi anak. Contoh kecil dalam kehidupan sehari-hari adalah meminta izin jika mau masuk ke kamar anak.

Banyak tema pendidikan seksual lainnya yang juga tak kalah penting. Seperti, mengapa kita harus memisahkan kamar anak dengan orang tua maupun dengan saudaranya. Kemudian, bagaimana cara kita terbuka membahas tentang perubahan anak dengan bahasa yang tidak menyudutkannya.

Berawal dari keluarga

Pendidikan seksualitas harusnya diawali dari keluarga. Orang tua harus menjadikan rumah sebagai tempat paling aman dan nyaman bagi anak membicarakan serta berbagi cerita tentang seksualitas. Dari rumahlah, anak disiapkan untuk beradaptasi dengan realitas di dunia luar.

Sebelum mengedukasi anak, orang tua harus teredukasi lebih dahulu. Sudah sepantasnya para orang tua, menempatkan kebutuhan pendidikan seksual sama pentingnya dengan pelajaran calistung ataupun pendidikan karakter. Pendidikan seksual bagi anak bisa menjadi penyelamat anak-anak dari kekerasan seksual di hari mendatang.

Lebih dari itu, dengan pendidikan seksual yang diterapkan dengan baik kita bisa bersama-sama menekan angka kekerasan seksual pada anak. Dari situ pula, kita bisa jadi dapat mendukung pengurangan jumlah perkawinan usia anak. Adalah sebuah omong kosong mengurangi kuantitas tanpa meningkatkan kualitas kecakapan manusianya. Dengan begitu, tidak akan ada lagi anak yang memandang fenomena Manganang sebagai peristiwa aneh.

Bagaimana Melindungi Anak dari Kekerasan Seksual?

Saat ini, pendidikan seksual masih dianggap sebagai pendidikan yang tabu untuk diajarkan kepada anak-anak. Sebagian beranggapan bahwa anak belum cukup umur dan pada saatnya akan tahu dengan sendirinya tentang segala hal yang berkaitan dengan seksualitas itu sendiri, sehingga akhirnya memproteksi anak dari mendapat pendidikan seksual. Anggapan yang seperti ini menurut saya tidak pas. Kenapa? Karena dengan membiarkan anak mengetahui dengan sendirinya hal-hal yang berkaitan dengan seksualitas tidak memberikan jaminan bahwa anak mendapat informasi dari sumber yang tepat dan terpercaya. Bahkan anak tidak akan tahu seperti apa pendidikan seksual yang benar.

Sebenarnya, seksual itu apa sih? Kenapa harus diajarkan? Ga bisa ya dengan sendirinya, seiring umur bertambah, pendidikan seksual dapat diterima dan langsung diketahui oleh anak?

Sumber: https://www.facebook.com/UNICEFIndonesia/photos/pb.172180876204559.-2207520000.1415077818./649795838443058/?type=3&theater
Sumber: https://www.facebook.com/UNICEFIndonesia/photos/pb.172180876204559.-2207520000.1415077818./649795838443058/?type=3&theater

Ok, yuk kita bahas!

Pendidikan adalah poses mengubah sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2001). Pendidikan seksual menurut Sarlito W. Sarwono (2001) adalah suatu informasi mengenai persoalan seksualitas manusia yang jelas dan benar meliputi proses terjadinya pembuahan, kehamilan sampai kelahiran, dan tingkah laku seksual yang diberikan sepatutnya berkaitan dengan norma-norma yang berlaku di masyarakat.

“Terus, kalo anak-anak diajarin pendidikan seksual, apa ngaruhnya? Mereka kan belum cukup umur.”

Hmm… Oke… Pendidikan seksual itu menerangkan, menjabarkan, menjelaskan selain tentang aspek-aspek anatomi dan biologis, juga menerangkan aspek-aspek psikologis dan moral. Pendidikan seksual juga harus memasukkan unsur-unsur hak asasi manusia, memberikan pengertian untuk perubahan-perubahan fisik, mental dan proses kematangan emosional yang berkaitan dengan mnasalah seskual pada anak dan remaja. Tujuan dari pendidikan seksual adalah untuk mengurangi ketakutan dan kecemasan sehubungan dengan perkembangan dan penyesuaian seksual meliputi peran, tuntutan dan tanggung jawab.

Selain itu, juga untuk membentuk sikap dan memberikan pengertian terhadap seks dalam semua manifestasi yang bervariasi, memberikan pengertian mengenai kebutuhan nilai moral yang esensial untuk memberikan dasar yang rasional dalam membuat keputusan yang berhubungan dengan perilaku seksual, memberikan pengetahuan tentang kesalahan dan penyimpangan seksual agar mereka dapat menjaga diri dan melawan eksploitasi yang dapat mengganggu  kesehatan fisik dan mentalnya, untuk mengurangi prostitusi, ketakutan terhadap seksual yang tidak rasional dan eksplorasi seks yang berlebihan dan memberikan pengertian dan kondisi yang dapat membuat individu melakukan aktivitas seksual secara efektif dan kreatif dalam berbagai peran, misalnya sebagai suami istri/suami, orang tua, maupun anggota masyarakat.

Singgih D. Gunarso (2002) mengatakan bahwa tujuan dari pendidikan  seksual adalah untuk membuat suatu sikap emosional yang sehat terhadap masalah seksual dan membimbing anak dan remaja ke arah hidup dewasa yang sehat dan bertanggung jawab terhadap kehidupan seksualnya. Hal ini dimaksudkan agar mereka tidak menganggap seks itu suatu yang menjijikan dan kotor tetapi lebih  sebagai bawaan manusia.

See? Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dijabarkan bahwa pendidikan seksual itu harus melalui pengajaran dan pelatihan. Karena ini juga termasuk mempelajari organ vital manusia. Dengan mengajarkan pendidikan seksual kepada anak, berarti kita juga telah berperan aktif memproteksi anak dari kekerasan seksual. Dan yang paling penting, pendidikan seksual tidak selalu membicarakan seks! Hal ini lah yang mungkin ada di benak sebagian orang yang masih menganggap tabu pendidikan seksual yang harus diajarkan kepada anak. Singgih D. Gunarso (2002) berpendapat bahwa kita jangan menunggu sampai anak mencapai usia belasan tahun untuk berbicara tentang masa  pubertas. Mereka harus sudah mengetahui perubahan yang akan terjadi pada masa sebelumnya.

Nah, kalau sudah begini gimana cara menyampaikan kepada anak tentang pendidikan seksual ini? Cara menyampaikannya harus wajar dan sederhana, jangan terlihat ragu-ragu/malu. Isi uraian yang disampaikan harus obyektif, tapi jangan menerangkan yang tidak-tidak, seolah-olah bertujuan agar anak tidak akan bertanya lagi. Dangkal/mendalamnya isi uraiannya harus disesuaikan dengan kebutuhan dan dengan tahap perkembangan anak.

Pendidikan seksual harus diberikan secara pribadi, karena luas-sempitnya pengetahuan dengan cepat-lambatnya tahap-tahap perkembangan tidak sama buat setiap anak. Pada akhirnya perlu diperhatikan bahwa usaha melaksanakan  pendidikan seksual perlu  diulang-ulang (repetitive). Selain itu, perlu untuk mengetahui seberapa jauh suatu pengertian baru dapat diserap oleh anak, sehingga diperlukan metode mengingatkan dan memperkuat (reinforcement) (Singgih D. Gunarso, 2002). Hindari gaya mengajar seperti di sekolah. Pembicaraan hendaknya tidak hanya terbatas pada fakta-fakta biologis, melainkan juga tentang nilai, emosi dan jiwa. Jangan khawatir untuk menjawab terlalu banyak terhadap pertanyaan anak. Mereka akan selalu bertanya tentang apa yang mereka tidak mengerti. Anak-anak  usia pra-sekolah juga perlu tahu bagaimana melindungi diri dari penyimpangan dan kekerasan seksual yang dilakukan oleh orang dewasa. Ini berarti orang tua harus memberitahu anak bahwa mengatakan “tidak” kepada orang dewasa bukanlah sesuatu yang dilarang.

Nah, sudah tahu kan pentingnya pendidikan seksual itu kek apa? Ga perlu tabu buat menjelaskan pendidikan seksual ke anak, karena anak emang perlu banget pendidikan seksual ini ^^

Ditulis oleh Diah Indria K. W. (Relawan Sahabat Kapas)