Exemple

Oleh Anggi Nur Cahya Trivi

(Relawan Sahabat Kapas/Mahasiswa Psikologi UNS)

(Valeria Boltneva/pexels.com)

Siang itu, suasana Kantor Sahabat Kapas tiba-tiba berubah semarak dan ceria. Salah seorang relawan Kapas, Rahayu, membagikan kabar gembira bahwa salah seorang anak didik lembaga pemasyarakatan (andikpas) yang kami dampingi telah bebas. “Ax sudah keluar loh… sekarang dia jadi guru mengaji di rumahnya!” seru Rahayu yang ditimpali dengan tepuk tangan dan tawa gembira dari seluruh relawan yang hadir.

Rasa haru dan gembira selalu merayapi hati kami kala mendengar andikpas yang kami dampingi dapat menghirup udara bebas, termasuk Ax. Ia adalah andikpas Wonogiri yang rajin mengikuti kegiatan pendampingan oleh Sahabat Kapas. Dari sekian banyak andikpas, perbincangan dengan Ax meninggalkan kesan mendalam bagi saya.

Respons yang Berbeda

Perjumpaan pertama saya dengan Ax terjadi pada 13 Maret 2018. Kala itu, saya kebagian tugas untuk melakukan kegiatan pendampingan di Lapas Wonogiri. Saat menyapa dan memperkenalkan diri, respons andikpas sangat pasif dan cenderung menutup diri. Saya sama sekali tidak terkejut dengan respons “dingin” mereka. Bahkan, sejak jauh-jauh hari, Mbak Dian Sasmita sudah mengingatkan bahwa anak-anak kadang akan bersikap sangat tertutup terhadap orang yang baru dikenalnya. Saya ingat Mbak Dian pernah menyampaikan, “Respons tersebut merupakan salah satu bentuk pertahanan diri yang umum andikpas lakukan saat pertama kali bertemu. Ini dikarenakan kondisi khusus yang mereka alami, agar tidak “dimanfaatkan” oleh orang asing.” Oleh karena itu, saya tetap bersikap welcome dan berusaha menempatkan diri sebagai observer, sementara pendamping lain melakukan kegiatan.

Saat kegiatan tengah berlangsung sekira 50 menit, ada seorang andikpas yang meminta izin bergabung mengikuti kegiatan. Melihat wajah baru, saya pun memperkenalkan diri kembali. Tak dinyana, saya mendapat respons hangat dan sebuah senyuman dari andikpas tersebut. Ya, dialah Ax, seorang andikpas yang merespons saya dengan cukup berbeda. Bahkan ia menjawab dengan antusias ketika saya bertanya apakah Ax masih bersekolah. Tanpa malu-malu, ia menjawab masih duduk di bangku kelas IX salah satu SMP negeri di Wonogiri.

Ia juga mengaku tetap ingin melanjutkan pendidikannya setelah bebas dari lembaga pemasyarakatan nantinya. Sikap antusiasme Ax meninggalkan kesan mendalam bagi saya.

Ax sebelumnya memohon maaf karena terpaksa datang terlambat kegiatan pendampingan karena harus menyelesaikan tugas sebagai tahanan pendamping (tamping) terlebih dahulu. Tamping adalah sebuah tugas yang disematkan bagi narapidana yang memiliki penilaian baik. Tugas tamping adalah membantu petugas dalam aktivitas sehari-hari di dalam lapas, misalnya mengerjakan tugas dapur, kegiatan ibadah, dan kegiatan lainnya.

Tetap Belajar agar Lulus Ujian

Kali kedua melakukan pendampingan di Lapas Wonogiri, para andikpas sudah cukup terbuka dengan saya. Mereka mulai banyak bercerita mengenai keluarga dan kehidupan yang mereka jalani sebelum terpaksa mendekam di dalam lapas. Sayangnya, tidak semua andikpas mengikuti kegiatan pendampingan saat itu. Salah seorang yang absen adalah Ax yang ternyata tengah mengikuti ujian nasional di SMP tempatnya bersekolah dahulu.

Rasa penasaran menghinggapi perasaan saya, bagaimana bisa ia mempersiapkan mengikuti ujian nasional dalam keadaan yang serba terbatas? Rasa penasaran tersebut terjawab ketika pada kegiatan pendampingan berikutnya Ax datang mengikuti kegiatan Kapas. Saya pun dengan antusias menanyakan jalannya ujian nasional yang sempat ia ikuti tempo hari. Ax menceritakan bagaimana guru tempat ia bersekolah tetap membantunya belajar dengan membawakan buku pelajaran dan materi UNBK. Ia juga sempat bercerita mengenai kondisi di dalam sel saat Ax harus belajar sedangkan teman sekamarnya sedang bermain. Selain itu, Ax juga selalu menyempatkan belajar di sela-sela kesibukan sebagai tamping kantin lapas.

Tak Ingin Orang Tua Makin Kecewa

Semua usaha dan kerja keras tersebut Ax lakukan semata-mata karena ia sangat ingin lulus sekolah menengah pertama. Ia mengaku tidak ingin makin mengecewakan kedua orang tuanya. Selain ingin lulus sekolah, Ax juga terus berusaha untuk memperbaiki diri. Ia tidak menyia-nyiakan kesempatan beribadah di bulan Ramadan. Di kala teman-temannya membatalkan puasa Ramadan karena berbagai godaan, Ax berusaha untuk menjalankan ibadah puasa penuh dan sungguh-sungguh. Ia banyak meluangkan waktu untuk membaca Alquran sembari menunggu waktu berbuka puasa.

Sebenarnya, sama seperti andikpas lain, Ax menyadari bahwa menjalankan ibadah puasa di lapas tidak benar-benar bisa dijalankan dengan khusyuk. Ada banyak godaan yang merintangi ibadah puasa mereka, misalnya banyak napi dewasa yang kedapatan merokok, harumnya masakan kantin, dan waktu berbuka yang dirasa sangat lama karena tidak ada kegiatan yang dapat mereka lakukan selagi menunggu azan magrib. Namun, saat ditanya apakah ia tergoda untuk membatalkan puasa, Ax dengan tegas menjawab tidak.

“Perbuatanku dulu mengakibatkan aku berada dan berkumpul dengan orang-orang yang kurang baik Mbak. Aku enggak ingin mengecewakan orang tuaku lagi dengan mengikuti kebiasaan-kebiasaan buruk teman-teman di sini,” ujar Ax dengan tegas.

Menurut saya, Ax mengajarkan kita banyak hal. Ia berusaha tetap membuka diri dengan orang yang baru dikenalnya, ia bahkan berusaha bersikap positif dan ramah. Di tengah segala keterbatasan akses belajar, ia tetap berusaha mempersiapkan ujian nasional dengan sebaik-baiknya. Ia bahkan bertekad lulus sekolah dan tidak menambah kekecewaan orang tuanya akan kondisinya. Keinginan kuat dan semangat yang ditunjukkan Ax membuat saya bergumam dalam perjalanan pulang sore itu, “Ya, masih ada pelangi di balik jeruji.”

Sahabat Kapas adalah organisasi nonpemerintah dan nonprofit, yang berkedudukan di Karanganyar, Jawa Tengah.

Read More →