Exemple

Rombongan Sahabat Kapas beserta anggota Dinas PPKB dan P3A Kabupaten Wonogiri tiba pukul 09.30 WIB. Hari itu (5/11), kami mengunjungi salah satu sekolah dasar di Kabupaten Wonogiri untuk memberikan pendampingan psikososial dan pelatihan asertif bagi anak-anak korban kekerasan seksual.  Sesuai informasi yang kami dapat dari Dinas PPKB dan P3A Wonogiri, anak-anak yang akan kami temui mengalami kekerasan seksual yang dilakukan oleh guru olahraga mereka sendiri. Anak-anak yang akan mengikuti pendampingan bersama kami hari itu berjumlah 22 orang anak perempuan yang berasal dari dua sekolah berbeda.

Sesampainya di lokasi, kami disambut oleh para guru dari perwakilan sekolah. Dari penuturan salah seorang guru, kami mendapat informasi bahwa pihak sekolah merasa cukup kesulitan ketika harus memberikan pendampingan psikososial bagi anak-anak. Guru juga merasa tidak memiliki banyak alternatif kegiatan maupun sarana-prasarana yang memadai untuk mengalihkan perhatian anak-anak dari peristiwa sedih yang menimpa mereka. Salah seorang guru mengungkapkan bahwa sekolah tidak memiliki buku-buku yang cukup memadai. Oleh karenanya, sekolah sangat berterima kasih apabila ada pihak-pihak yang dapat memberikan buku bacaan sebagai sarana pengalihan positif anak-anak dari peristiwa yang menimpa mereka.

Pihak sekolah berharap adanya kegiatan pendampingan dan pelatihan asertif yang dilakukan oleh Dinas PPKB dan P3A bersama Sahabat Kapas, bisa sedikit mengurangi beban psikososial yang ditanggung oleh anak-anak. Pihak sekolah juga ingin agar ke depannya terdapat panduan khusus yang ditujukan bagi sekolah-sekolah untuk penanganan kasus kekerasan sekolah yang dialami oleh peserta didiknya. Dengan adanya panduan tersebut, guru dapat menindaklanjuti program pendampingan psikososial secara mandiri dan bisa memberikan perhatian khusus yang dibutuhkan oleh anak-anak.

 

Berani Mengatakan “TIDAK”

Kami memulai kegiatan hari itu dengan berdoa dan bernyanyi “Nyanyian Jari”

Anak-anak yang didampingi sekitar empat orang guru menyambut kedatangan kami di masjid sekolah. Mereka tampak sedikit malu-malu.  Setelah pembukaan singkat dari perwakilan Dinas PPKB dan P3A Wonogiri, Ibu Rodhiyati, acara dilanjutkan dengan perkenalan dan pemaparan ringkas mengenai kegiatan hari itu. Anak-anak menyimak dengan tertib penjelasan yang diberikan dan terlihat antusias untuk mengikuti kegiatan.

Untuk  membangun suasana ceria, kami memulai kegiatan dengan mengajak anak-anak menyanyikan dan memperagakan “Nyanyian Jari”. Setelah kami rasa anak-anak bisa menerima kehadiran kami, kegiatan kami lanjutkan dengan bermain peran (role play).Kami membagi anak-anak dalam beberapa kelompok, setiap kelompok terdiri atas 5-6 anak yang akan didampingi oleh satu orang relawan Kapas. Kami sengaja membuat kegiatan berkelompok untuk melatih kerja sama antaranak dan membangun kedekatan satu sama lain.

Setiap kelompok memiliki nama-nama tersendiri, kami memutuskan untuk memberi nama kelompok dengan kelompok Perahu Biru, Perahu Ungu, Perahu Hijau, dan Perahu Merah. Masing-masing perahu nantinya akan mendapatkan tugas memainkan peran dengan tema berbeda. Perahu Biru mendapat tema mencontek; Perahu Hijau memperoleh tema pemerasan di lingkungan sekolah; Perahu Ungu bermain peran dengan tema pemalakan dalam bentuk makanan di sekolah; dan Perahu Merah bermain peran bertema tindakan curang. Semua kelompok diberi waktu untuk mendiskusikan peran yang akan dimainkan. Masing-masing kelompok nantinya mendapat waktu sekitar 10 menit untuk menampilkan dramatisasi peran yang telah direncanakan.

Kegiatan bermain peran ini menjadi salah satu media melatih asertivitas anak. Dengan pelatihan asertif ini, anak diharapkan memiliki kemampuan mengomunikasikan apa yang diinginkan, dirasakan, dan dipikirkan pada orang lain namun tetap menjaga serta menghargai hak-hak serta perasaan orang lain. Dengan bermain peran, anak ditempatkan pada sebuah kondisi di mana mereka harus berani mengomunikasikan keinginannya dan berani mengatakan TIDAK atas hal-hal yang tidak diinginkannya. Terutama, anak harus berani menolak perlakuan atau hal-hal yang membuat mereka merasa tidak nyaman.

Dari peran yang dimainkan oleh Perahu Biru, anak-anak kami latih untuk berani menolak perbuatan mencontek dan memilih tindakan jujur. Anak-anak menyadari bahwa perbuatan mencontek adalah tindakan yang tidak baik. Oleh karenanya, mereka harus berani menolak perbuatan yang tidak baik tersebut. Sebaliknya, mereka harus membiasakan diri berbuat jujur. Sikap berani menolak terhadap tindakan buruk ini kami harapkan tidak hanya digunakan pada situasi mencontek, tapi pada situasi-kondisi lainnya yang membutuhkan keberanian anak untuk menolak. Seperti peran yang dimainkan Perahu Biru, kelompok Perahu Merah juga memainkan peran yang menuntut anak-anak untuk berbuat jujur. Selain itu, anak bisa belajar saling memaafkan pada teman yang berbuat curang.

Di lain sisi, peran yang dimainkan oleh kelompok Perahu Hijau dan Perahu Ungu menitikberatkan pada keberanian untuk melawan tindakan perundungan—yang mungkin dialami di sekolah. Perundungan dapat membuat anak-anak merasa rendah diri dan tertekan. Karenanya, anak-anak harus menghindari perbuatan merundung. Di sisi lain, ketika mereka menjadi objek perundungan, mereka harus berani untuk melawan. Anak-anak perlu diajarkan untuk berani mengatakan “Tidak!” ketika seorang perundung meminta mereka melakukan sesuatu yang tidak ingin mereka lakukan. Anak perlu diberi tahu para perundung cenderung memilih anak-anak yang tidak mau membela diri. Jika anak-anak terbiasa melakukan apa yang dikatakan seorang perundung, mereka mungkin akan terus-menerus ditindas.

 

Mencintai Diri Sendiri

Setelah selesai bermain peran dan menyelami pesan moral dari peran tersebut, kami mengajak anak-anak untuk menggambar sosok diri mereka sendiri pada selembar kertas. Kegiatan ini termasuk dalam terapi seni, yakni penggunaan teknik-teknik kreatif seperti menggambar, melukis, atau mewarnai, untuk membantu anak mengekspresikan diri mereka secara artistik dan memeriksa kondisi psikologis serta emosional dalam seni mereka. Kami minta anak untuk menggambar sesuai keinginan mereka, tanpa takut untuk dinilai bahwa gambar mereka jelek. Mereka bebas mengeskpresikan gambaran diri mereka pada kertas tersebut. Kegiatan ini kami lakukan agar anak bisa lebih mengenal dan mencintai diri mereka sendiri.

Beberapa hasil gambar diri dari anak-anak yang mengikuti pendampingan psikososial

Terapi seni dengan menggambar sejatinya adalah bentuk komunikasi nonverbal. Untuk anak-anak yang mungkin tidak mampu mengartikulasikan pikiran, emosi, persepinya dengan verbal, menggambar adalah cara terbaik untuk mengomunikasikan perasaannya. Bagi anak-anak yang pernah mengalami pelecehan, menggambar adalah salah satu cara untuk “mengatakan tanpa berbicara”; ketika mereka tidak dapat atau takut untuk berbicara tentang peristiwa atau perasaan tertentu.

Selain menggambar, anak-anak juga kami minta untuk menceritakan tentang diri mereka pada kelompoknya masing-masing. Antaranak kami minta bertanya mengenai pelajaran yang disukai, keterampilan yang dimiliki, atau hobi yang biasa mereka lakukan. Hal ini untuk membangun kepercayaan diri anak atas potensinya dan menumbuhkan persepsi bahwa mereka dapat diterima oleh lingkungan dengan potensi yang dimiliki. Anak-anak perlu dilatih untuk mengenali diri mereka sendiri sehingga mereka dapat tumbuh dengan rasa percaya diri.

Rangkaian kegiatan hari itu kami akhiri dengan menari bersama diiringi lagu “Baby Shark” versi Jawa (“Culoboyo”) yang dipandu oleh semua relawan Kapas. Sekira pukul 12.40 WIB, semua kegiatan selesai dilakukan dan ditutup oleh Ibu Rodhiyati. Dengan bersemangat, anak-anak mengaku senang dengan kegiatan yang diberikan dan ingin kembali bermain bersama para relawan di kemudian hari.

Tidak hanya anak-anak yang merasa senang hari itu, kami sebagai relawan juga sangat senang bisa membuat mereka ceria dan tertawa lepas. Kami juga merasa gembira anak-anak dapat menerima kehadiran kami dengan senang hati. Kami harap apa yang kami lakukan hari itu bisa sedikit membantu meredam kesedihan, membantu mereka menatap hari-hari ke depan dengan lebih percaya diri.

 

Ditulis oleh M. Rusydi Shabri

Relawan Kapas/Mahasiswa Psikologi UMS 2015

Sahabat Kapas adalah organisasi nonpemerintah dan nonprofit, yang berkedudukan di Karanganyar, Jawa Tengah.

Read More →
Exemple

Sahabat Kapas bersama Rutgers WPF Indonesia bekerja sama dan Kementerian Hukum dan HAM RI (Kemenkumham RI) menyelenggarakan Pelatihan Psikoedukasi Berbasis Gender untuk Anak Berkonflik dengan Hukum pada 6-9 Agustus 2018 di Kota Tangerang, Banten. Pelatihan ini diikuti oleh tiga anggota Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjen PAS), tiga petugas LPKA Tangerang, tiga petugas LPKA Kutoarjo, dan masing-masing satu orang perwakilan dari Kantor Wilayah Kemenkumham Provinsi Banten, Jawa Tengah dan DKI Jakarta.

Diadakannya pelatihan psikoedukasi ini dilatarbelakangi oleh semakin meningkatnya kasus anak yang berhadapan dengan hukum. Tercatat, per Agustus 2018, terdapat 3.647 orang anak yang terpaksa tinggal di lembaga pembinaan, baik di LPKA, lapas, maupun rumah tahanan. Salah satu kasus yang mendominasi dan terjadi di beberapa daerah adalah kasus kekerasan seksual. Oleh karena itu, dalam pelatihan ini, para peserta diajak mengenali konseling kelompok bagi anak pelaku kekerasan seksual.

Dalam pelatihan ini, peserta mendapat sekilas gambaran mengenai hak anak dan perlindungannya. Peserta juga dikenalkan dengan konsep membangun nilai-nilai dasar menjadi lelaki berdasarkan tokoh idola. Tidak hanya itu, peserta juga diajak mengenal perbedaan seks dan gender dengan metode bermain peran menggunakan media boneka. Seperti yang kita ketahui, bekerja dengan dan untuk anak berbeda dengan bekerja pada umumnya. Bekerja untuk anak mebutuhkan teknik khusus yang disebut playfulness agar seseorang dapat membaur dengan anak. Teknik ini sangat dibutuhkan terutama bagi para petugas lembaga dengan kondisi anak-anak yang memang memerlukan perhatian dan penanganan khusus.

Hal lain yang juga diperhatikan dalam penanganan anak-anak di dalam lembaga adalah masalah kesehatan seksual dan reproduksi. Untuk hal ini, peserta pelatihan diminta untuk menggambar organ seksual dan reproduksi perempuan dan laki-laki, serta hal-hal apa saja yang menyebabkan organ tersebut rusak. Selain itu, peserta juga dikenalkan dengan kekerasan berbasis gender (gender-based violence), yakni istilah yang digunakan untuk merangkum kekerasan yang terjadi akibat ekspetasi peran normatif terkait jenis kelamin dalam masyarakat. Kekerasan berbasis gender sejatinya bisa terjadi pada semua orang, termasuk anak-anak. Pemahaman komprehensif mengenai hal ini tentu dibutuhkan dalam penanganan kasus anak.

Sesi role play konseling./ (Dok. Pribadi)

Hal yang paling ditunggu-tunggu selama pelatihan berlangsung adalah sesi konseling. Dalam sesi ini, fasilitator menjelaskan tentang dasar-dasar konseling. Kemudian, peserta diminta untuk bermain peran (role play). Peserta harus berpasang-pasangan, satu orang sebagai klien dan satu orang sebagai konselor. Selain konseling individu, peserta juga dikenalkan dengan konseling kelompok yang memiliki tantangan lebih besar. Hal ini karena klien yang dihadapi lebih dari satu dan cenderung memiliki pengalaman hidup beragam. Untuk konseling kelompok, peserta dilibatkan dalam sebuah role play yang dipandu oleh fasilitator sebagai konselornya untuk memeragakan teknik konseling kelompok.

Para petugas yang mengikuti pelatihan konseling ini diharapkan dapat melaksanakan kegiatan konseling kelompok di LPKA masing-masing. Sahabat Kapas bersama Rutgers WPF Indonesia akan memberi dukungan di LPKA Kutoarjo dan LPKA Tangerang dalam pelaksanaan kegiatan tersebut. Kegiatan akan dilaksanakan sebanyak 12 kali pertemuan pada 10 anak di masing-masing LPKA dimulai pada September 2018.

Pecinta Anak dan Kopi Arabica. Belajar Hukum di Universitas Sebelas Maret Surakarta dan telah menyelesaikannya. Belajar kehidupan di Dunia namun belum menyelesaikannya.

Read More →