Mengingat Kembali Hak Anak

Puluhan anak bergerombol di pinggiran trotoar depan Balaikota Surakarta, Kamis pagi, 23 Juli 2015 kemarin. Ada yang sibuk meniup balon, memasangkan balon ke stick plastik, menuliskan deretan kata-kata di kertas, menggambar dengan pensil warna-warni, dan menggunting-gunting kertas sesuai pola yang telah dibuat. Semua terlihat sibuk namun tetap asyik bersenda gurau satu sama lain. Ada pula yang berebut selfie dengan balon-balon warna-warni yang telah ditempeli tulisan hak-hak anak. Itulah suasana persiapan Aksi Perayaan Hari Anak Nasional (HAN) 2015 oleh Forum Anak Surakarta (FAS) didukung oleh Sahabat Kapas dan Republik Aeng-aeng.

10432475_1128852177128363_5504180648050630933_n

Anak-anak usia SD-SMA yang tergabung dalam FAS telah sangat akrab dengan Hak Anak. Tepuk Hak Anak dan Lagu Hak Anak telah sering mereka gunakan dalam kegiatan-kegiatan mereka. Akan tetapi, belum semua masyarakat tahu mengenai Hak Anak. Padahal, Indonesia adalah salah satu negara yang telah meratifikasi Konvensi Hak Anak (KHA) pada tahun 1990 lewat Keputusan Presiden Nomor 36 Tahun 1990. Isi KHA ini diadopsi dalam berbagai peraturan perundangan salah satunya UU No. 35/2014 tentang perubahan UU No.23/2002 tentang Perlindungan Anak, UU No.11/2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak, UU No. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dsb.

Menurut hukum Indonesia, anak adalah mereka yang berumur kurang dari 18 tahun, termasuk mereka yang masih di dalam kandungan. Sehingga Hak Anak pun melekat sejak janin dalam kandungan. Negara memiliki kewajiban untuk menghormati, melindungi, memenuhi dan memajukan hak anak. Berikut diantaranya hak dasar anak yang perlu mendapatkan perhatian serius yakni:

  1. Hak untuk BERMAIN
  2. Hak untuk mendapatkan PENDIDIKAN
  3. Hak untuk mendapatkan PERLINDUNGAN
  4. Hak untuk mendapatkan NAMA (IDENTITAS)
  5. Hak untuk mendapatkan status KEBANGSAAN
  6. Hak untuk mendapatkan MAKANAN
  7. Hak untuk mendapatkan akses KESEHATAN
  8. Hak untuk mendapatkan REKREASI
  9. Hak untuk mendapatkan KESAMAAN
  10. Hak untuk memiliki PERAN dalam PEMBANGUNAN

Adapun 4 prinsip dasar Hak Anak, yaitu non diskriminasi; kepentingan terbaik bagi anak; hak hidup, kelangsungan hidup dan tumbuh kembang; serta menghargai pendapat anak.

Aksi Perayaan HAN 2015 yang berlangsung selama kurang lebih 30 menit kemarin dihadiri pula oleh Walikota Surakarta, Bapak F. X. Hadi Rudyatmo. Pak Rudy, biasa beliau dipanggil, mengajak anak-anak melakukan Tepuk Hak Anak dan menyanyikan beberapa lagu anak di depan Balaikota Surakarta. Setelah berbincang dengan beberapa anak, Pak Rudi menyampaikan niatnya untuk membentuk sebuah radio komunitas yang akan menjadi wadah kreativitas anak-anak Surakarta. Radio komunitas tersebut akan menjadi media penyampaian pendapat, ide, gagasan anak dalam pembangunan Kota Surakarta.

11693953_1128851730461741_8124355422098214401_n
Dian, ketua Forum Anak Surakarta (FAS), menyerahkan balon bertuliskan Hak Anak dan tulisan 4 Hak Dasar Anak kepada Pak Rudy, Walikota Surakarta.

Hal ini patut untuk segera diwujudkan, mengingat negara sebagai pemegang kewajiban pemenuhan Hak Anak sebaiknya memberikan ruang yang cukup untuk anak berpartisipasi dalam pembangunan. Mendengarkan dan merealisasikan pendapat, ide, gagasan anak dalam pembangunan menjadi poin penting terciptanya lingkungan ramah anak.

10409672_1128851493795098_5410622133760580176_nPembagian balon dengan tulisan hak-hak anak kepada pengguna jalan, terutama mereka yang membawa anak, di sekitar Tugu Pemandengan (Titik Nol) Kota Surakarta bukan tanpa tujuan. Balon dengan tulisan hak-hak anak tersebut akan membantu masyarakat untuk tahu maupun mengingat kembali hak-hak anak. Harapannya orang dewasa di sekitar anak akan lebih serius dalam pemenuhan hak-hak anak.

Tentunya aksi perayaan ini bukanlah akhir. Semoga masyarakat semakin sadar akan pentingnya pemenuhan hak anak tanpa diskriminasi. Anak jalanan, anak penyandang disabilitas, anak putus sekolah, pekerja anak, anak berhadapan hukum, mereka semua memiliki hak yang sama. Orang dewasa bertanggung jawab penuh atas pemenuhan hak-hak mereka.

Semangan dan cinta untuk anak-anak Indonesia!

Ditulis oleh Febi Dwi S. (Relawan Sahabat Kapas), diedit oleh Dian S. (Koordinator Sahabat Kapas).

Foto diambil dari facebook Sahabat Kapas : Solidaritas Kapas

Sosialisasi Anti Kekerasan Bersama Forum Anak Punggawan

Masih dalam hari yang sama dengan kegiatan di Kecamatan Serengan, Minggu, 9 November 2014, Sahabat Kapas kembali berkegiatan dengan Forum Anak Kelurahan Punggawan. Kegiatan kali ini melibatkan peserta dari RW 4-6 Kelurahan Punggawan. Kegiatan berlangsung sejak pukul 15.00-17.30 WIB di aula SMK Bina Mandiri Indonesia. Hal yang membedakan kegiatan ini dengan kegiatan minggu sebelumnya adalah kegiatan ini diikuti oleh tokoh masyarakat (TOMA) dan ibu-ibu PKK Kelurahan Punggawan.

10419492_981921351821447_7604802986420915931_n

Judul dari kegiatan ini adalah Penguatan KLA dalam Pencegahan KDRT dan Teman Sebaya bagi TOMA, Pengurus FA dan PKK Menuju Punggawan Sebagai Kelurahan Layak Anak Tahun 2015. Hmm, panjang sekali yaaa…

Tim Sahabat Kapas sempat khawatir kegiatan ini akan dibatalkan karna hujan deras mengguyur Kota Solo sejenak sebelum acara dimulai. Akan tetapi, kekhawatiran ini ternyata tidak menjadi kenyataan. Meskipun harus menunggu beberapa saat hingga peserta ramai berkumpul, kegiatan tetap terlaksana sesuai rencana.

Setelah acara pembukaan oleh para TOMA, perwakilan ibu-ibu PKK serta perwakilan Forum Anak Kelurahan Punggawan, acara inti segera dimulai. Peserta dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok TOMA dan ibu-ibu PKK serta kelompok anak-anak. Diskusi dengan kelompok TOMA dan ibu-ibu PKK dipimpin oleh Mbak Dian Sasmita, sedangkan untuk diskusi kelompok anak-anak dipimpin oleh tim relawan Sahabat Kapas.

10431529_981921218488127_959684968887966976_nAnak-anak terlihat sangat antusias mengikuti berbagai games perkenalan yang membuat suasana yang awalnya canggung menjadi lebih cair. Melalui berbagai games yang dimainkan, mereka mulai berani menyuarakan pendapat dan pemikiran mereka. Alhasil, mereka dengan semangat melakukan permintaan tim Sahabat Kapas untuk memetakan jenis kekerasan yang pernah mereka saksikan maupun alami, serta menggambarkan lingkungan sekolah maupun lingkungan rumah impian mereka. Bahkan mereka terlihat enggan mengakhiri tugas yang diberikan karena terlalu asyik berdiskusi dan menggambar.

Presentasi hasil diskusi oleh anak-anak dari Kelurahan Punggawan
Presentasi hasil diskusi oleh anak-anak dari Kelurahan Punggawan

Hasil diskusi dari kelompok anak-anak dipresentasikan di depan kelompok TOMA dan ibu-ibu PKK dan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Interaksi yang terjadi antar dua kelompok diskusi tersebut diharapkan dapat menjadi jembatan bagi anak-anak dan orangtua untuk bisa memulai komunikasi yang jauh dari kekerasan.

Ditulis oleh Febi Dwi S. (Relawan Sahabat Kapas).

Foto diambil dari facebook Sahabat Kapas : Solidaritas Kapas.

Serunya Sosialisasi Sekolah Ramah Anak Bersama Sahabat Kapas dan Forum Anak Kecamatan Serengan

Minggu, 9 November 2014, Sahabat Kapas membersamai Forum Anak Kecamatan Serengan untuk menyelenggarakan TOT Pendidik Sebaya untuk Sosialisasi Sekolah Ramah Anak (SRA). Dipandu oleh Kak Erry Pratama Putra dari ProChild Community, para peserta perwakilan anak di wilayah Kecamatan Serengan berkumpul dan belajar bersama tentang peran penting mereka sebagai calon pendidik sebaya.

10516883_981032111910371_3854749666364635934_nDibuka dengan perkenalan Forum Anak Kecamatan Serengan, acara dilanjutkan dengan para peserta yang saling berkenalan dan latihan untuk mengenali diri mereka secara lebih dekat melalui ungkapan tertulis. Anak-anak tampak tersenyum malu saat berinteraksi untuk pertama kalinya dengan peserta lain dalam game perkenalan.

Kegiatan ini kemudian dilanjutkan dengan diskusi yang intensif dan dinamis. Peserta dibagi menjadi tiga kelompok dengan masing-masing kelompok mempunyai bahan diskusi dan presentasi yang berbeda-beda seputar remaja, kekerasan dan sekolah. Fasilitator dari Sahabat Kapas mendampingi kelompok peserta dan membantu dinamisasi forum. Selama kurang lebih satu jam, anak-anak terlibat dalam dua kali diskusi yang aktif dan menyenangkan. Mereka menuangkan banyak ide dan membuat presentasi dengan peralatan dan media yang telah disediakan. Sesi diskusi ini berlangsung menarik dengan partisipasi dari Ibu Nina yang merupakan guru sekaligus penyuluh SRA dan sepasang Putra Putri Solo tahun 2014. Bertiga, mereka bergabung dengan kelompok peserta yang berbeda-beda. Partisipasi ketiga tamu spesial ini penting bukan hanya untuk memberikan perspektif SRA kepada anak-anak saja, melainkan juga memberikan wawasan dan menarik atensi dari masyarakat yang lebih luas tentang isu perkembangan anak dan remaja. Setelah sesi diskusi berakhir, perwakilan kelompok mempresentasikan hasil diskusi mereka di hadapan semua peserta.

Salah satu peserta mempresentasikan sekolah ramah anak (SRA) impian kelompok diskusinya.
Salah satu peserta mempresentasikan sekolah ramah anak (SRA) impian kelompok diskusinya.

Setelah purna, Kak Erry kemudian memandu anak-anak dalam melakukan refleksi tentang diskusi dan kegiatan selama setengah hari tersebut. Kak Erry menekankan betapa pentingnya aksi nyata yang bisa dilakukan anak- anak peserta dalam kegiatan sehari- hari di sekolah. Sambil memberikan kertas kosong, peserta diminta untuk menuliskan kontribusi apa yang bisa mereka lakukan sekembalinya mereka ke sekolah. Berbagai macam jawaban muncul dan membuat semua peserta maupun fasilitator semakin tergerak untuk ikut dalam menyukseskan sebuah konsep SRA.

Menjelang penghujung acara, Dra. Islamtini, ibu camat dari Kecamatan Serengan datang dan menyapa para peserta sambil memberikan wejangan khas, baik sebagai seorang ibu maupun sebagai pemimpin. Dengan semangat dan determinasi yang kuat, Ibu Islamtini memberikan semangat dan apresiasi setinggi-tingginya kepada semua peserta termasuk para penyelenggara karena mau bersama-sama membangun sebuah konsep kebaikan. Para peserta tampak sangat menikmati nasehat-nasehat bijak yang disampaikan dengan lembut dan penuh semangat oleh orang nomer satu di Kecamatan Serengan tersebut. Acara sosialisasi ini ditutup dengan sesi pengambilan foto bersama.

10410292_981033215243594_2177247283221270037_n

Ditulis oleh Evi Baiturohmah (Relawan Sahabat Kapas)

Foto diambil dari facebook Sabahat Kapas : Solidaritas Kapas

Diskusi Pencegahan Kekerasan oleh Teman Sebaya Bersama Forum Anak Kelurahan Punggawan

Matahari masih bersinar terik pada pukul 15.00 WIB, hari Minggu, 2 November 2014 lalu. Panasnya udara mampu membuat setiap orang bercucuran keringat dan kehausan. Namun hal ini tidak menghalangi anak-anak dari RW 1-3 Kelurahan Punggawan untuk berkumpul di Bantaran Kali Pepe. Hmm, kira-kira, kenapa ya mereka berkumpul di sana?

1497813_967813329898916_3630781395512873402_n

Ternyata, anak-anak yang duduk di bangku TK-SMA ini berkumpul untuk berdiskusi bersama Forum Anak Kelurahan Punggawan dan Sahabat Kapas. Diskusi mengenai pencegahan kekerasan oleh teman sebaya ini dilakukan agar anak-anak RW 1-3 Kelurahan Punggawan terhindar dari berbagai bentuk kekerasan, baik sebagai pelaku maupun korban. Nah, apa saja sih rangkaian acara diskusi hari itu?

Diawali dengan games yang seru, anak-anak yang menjadi peserta kegiatan ini berkenalan satu sama lain. Maklum, meskipun mereka tinggal di rukun warga yang sama, anak-anak tersebut banyak yang belum saling kenal. Setelah perkenalan selesai, teman-teman dari Forum Anak Kelurahan Punggawan unjuk gigi dengan tampil memaparkan materi tentang forum anak. Mereka fasih bercerita tentang apa itu forum anak, pentingnya forum anak di kelurahan, dan juga berbagai kegiatan yang dilakukan forum anak. Ternyata tidak semua anak-anak di Kelurahan Punggawan tahu dan paham mengenai forum anak di kelurahan mereka sendiri. Paparan dari perwakilan Forum Anak Kelurahan Punggawan hari itu membuat mereka tertarik untuk mengikuti berbagai kegiatan yang ada, seperti latihan futsal dan belajar gamelan di kecamatan.

10868065_1001029113244004_1881296611610915684_n

Acara dilanjutkan dengan diskusi yang difasilitasi oleh teman-teman dari Sahabat Kapas. Anak-anak dikenalkan pada berbagai bentuk kekerasan yang mungkin mereka alami maupun saksikan dalam kehidupan mereka sehari-hari, baik di rumah, lingkungan tempat tinggal, maupun di sekolah. Anak-anak sangat bersemangat ketika mengemukakan pendapat mereka. Mereka berebut menuliskan pikiran mereka dan mempresentasikan hasil diskusi kelompok mereka di depan seluruh peserta. Luar biasa, ya!

Dengan membuat anak menyadari berbagai bentuk kekerasan yang ada di sekitar mereka, diharapkan anak akan mampu terhindar dari kekerasan tersebut, baik sebagai pelaku maupun korban. Dalam diskusi hari itu juga disampaikan bagaimana cara menghadapi kekerasan jika kekerasan tersebut terjadi pada diri mereka. Apa yang harus mereka lakukan, harus melapor kepada siapa, dan bagaimana mengkomunikasikannya kepada orang terdekat maupun pihak yang berwenang. Diskusi berlangsung dengan santai tapi penuh dengan semangat dan materi yang sangat mengena untuk anak- anak.

1658617_967812523232330_616523451161246588_o

Ditulis oleh Febi Dwi S. (Relawan Sahabat Kapas)

Foto diambil dari facebook Sahabat Kapas : Solidaritas Kapas