Exemple

Oleh Sri Rahayu

(Relawan Sahabat Kapas/Mahasiswa Pendidikan PKn UNS)

 

Para anak didik lapas (andikpas) Wonogiri hampir selalu menyambut kegiatan pendampingan yang diadakan oleh Sahabat Kapas dengan gembira. Salah seorang andikpas yang selalu antusias mengikuti kegiatan pendampingan adalah Y. Ia andikpas yang sangat kooperatif dalam setiap kegiatan yang diadakan oleh Sahabat Kapas. Y sejatinya adalah anak yang sangat sopan, bahkan dengan para relawan Kapas ia menjaga unggah-ungguh dengan menggunakan bahasa Jawa Krama ketika berinteraksi dengan kami.

Selain sopan, Y juga cukup terbuka dengan kami. Ia memanfaatkan waktu pendampingan untuk bercerita mengenai berbagai hal yang terjadi selama ia di lapas. Ia juga sering menceritakan keinginan-keinginan yang ingin diwujudkannya apabila telah keluar dari lapas nantinya. Dari cerita-cerita tersebut, saya melihat Y benar-benar ingin berubah menjadi anak yang lebih baik. Ia pun berjanji pada dirinya sendiri untuk tak melakukan hal yang dapat merugikan orang lain.

Sayangnya, ketika Y dinyatakan bebas pada April 2018 lalu, ia tak memenuhi janji tersebut. Tak lama setelah menghirup udara bebas dan pulang ke rumah, ia tidak bisa mengontrol diri dan sempat melampiaskan emosinya pada orang yang dulu membuatnya harus mendekam di lapas. Ia melakukan hal tersebut lantaran sakit hati dan belum bisa menerima kenyataan bahwa keluarga korban ternyata belum memaafkan perbuatannya. Selain itu, ia rupanya juga jengkel kepada masyarakat sekitar di desa tempat tinggal korbannya. Warga belum bisa menerima Y dengan baik dan terus menerus menganggapnya sebagai anak “nakal”.

Pelampiasan emosi yang dilakukan Y memang tidak bisa dibenarkan. Namun, bukan berarti kejadian tersebut sepenuhnya kesalahannya sendiri. Setiap perbuatan yang dilakukan manusia pasti beralasan, termasuk tindakan Y. Ia cenderung memilih tindakan yang salah karena dia belum bisa diterima dengan baik oleh masyarakat sekitar. Padahal, dengan dukungan dari keluarga dan masyarakat sekitar, sebenarnya Y kemungkinan besar bisa memperbaiki sikapnya dan tidak akan kembali melakukan kesalahan.

Adanya stigma yang disematkan oleh masyarakat bagi AKH pada akhirnya menjadi salah satu hal yang mendorong anak kembali melakukan perbuatan negatif. Masyarakat masih menganggap anak yang keluar dari penjara adalah “anak nakal” yang kehadirannya akan membawa dampak negatif bagi lingkungan. Sedikit dari mereka yang mau memahami lebih lanjut mengapa anak bisa melakukan pelanggaran terhadap norma masyarakat atau norma hukum. Padahal, penerimaan dari masyarakat sangat dibutuhkan dalam upaya reintegrasi anak.

Pelabelan “nakal” yang dilakukan masyarakat bisa menjadi salah satu faktor yang memicu anak berbuat kesalahan. Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh teori penjulukan atau labelling theory. Perilaku penyimpangan dan perilaku menuju penyimpangan dapat dipicu dari mereka yang memberikan label dan reaksi pada pihak lain sebagai pelaku penyimpangan.

Prakoso (2013) menyatakan bahwa hubungan-hubungan ditentukan oleh arti yang diberikan masyarakat pada umumnya dan karakteristik-karakteristik yang oleh individu diatributkan kepada yang lain. Oleh karenanya, masyarakat harus mengetahui dampak yang muncul dari label yang disematkan pada diri seseorang. Terutama, label yang diberikan kepada seorang anak. Kondisi psikis yang belum stabil dapat memperburuk kondisi anak dan mendorong anak untuk melakukan tindakan yang menyimpang dari norma masyarakat/hukum.

Dalam kondisi demikian, masyarakat seharusnya membantu proses reintegrasi anak yang berbuat kesalahan. Misalnya, dengan memberikan nasihat secara langsung kepada anak yang bersangkutan. Masyarakat diharapkan dapat mendorong anak tersebut meninggalkan kegiatan yang tidak sesuai dengan seperangkat norma yang berlaku, yakni norma hukum, agama, susila, dan sosial (Sudarsono, 2012).

Pelabelan “nakal” pada seorang anak adalah tindakan yang tidak tepat.

Sebaliknya, langkah yang seharusnya dilakukan adalah menerima dan membantu anak untuk kembali ke masyarakat. Anak yang telah menjalani proses rehabilitasi dengan mendekam di lembaga pemasyarakatan selama waktu tertentu, sejatinya telah menjalani hukuman yang tidak ringan. Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga, anak-anak yang telah selesai menjalani hukumannya, masih harus menerima beban pelabelan oleh masyarakat.

Proses yang harus dilalui anak untuk membentuk sikap (kepribadian) adalah proses panjang dan berliku. Proses ini membutuhkan waktu yang tidak singkat serta membutuhkan dukungan dari pihak lain, termasuk dari lingkungan sekitarnya. Anak yang tidak mendapatkan dukungan, akan merasa sulit untuk mengubah perilaku yang seharusnya tidak ia lakukan. Kami percaya bahwa tidak ada anak yang “nakal”, yang ada hanyalah anak yang salah dalam mengambil keputusan. Oleh karenanya, agar anak bisa mengambil keputusan dengan benar, perlu adanya penguatan secara moral untuk mereka, bukan sebaliknya memperburuk kondisi anak dengan memberikannya label negatif. Perlu dukungan yang luar biasa dari orang-orang terdekat anak serta masyarakat untuk merangkul anak bersama-sama berbuat kebaikan.

 

Pustaka:

Prakoso, Abintoro. 2013. Pembaruan Sistem Peradilan Pidana Anak.Yogyakarta: Laksbang Grafika.

Sudarsono. 2012. Kenakalan Remaja, (Prevensi, Rehabilitasi, dan Resosialisasi). Jakarta: Rineka Cipta.

Sahabat Kapas adalah organisasi nonpemerintah dan nonprofit, yang berkedudukan di Karanganyar, Jawa Tengah.

Read More →
Exemple

Oleh Anggi Nur Cahya Trivi

(Relawan Sahabat Kapas/Mahasiswa Psikologi UNS)

(Valeria Boltneva/pexels.com)

Siang itu, suasana Kantor Sahabat Kapas tiba-tiba berubah semarak dan ceria. Salah seorang relawan Kapas, Rahayu, membagikan kabar gembira bahwa salah seorang anak didik lembaga pemasyarakatan (andikpas) yang kami dampingi telah bebas. “Ax sudah keluar loh… sekarang dia jadi guru mengaji di rumahnya!” seru Rahayu yang ditimpali dengan tepuk tangan dan tawa gembira dari seluruh relawan yang hadir.

Rasa haru dan gembira selalu merayapi hati kami kala mendengar andikpas yang kami dampingi dapat menghirup udara bebas, termasuk Ax. Ia adalah andikpas Wonogiri yang rajin mengikuti kegiatan pendampingan oleh Sahabat Kapas. Dari sekian banyak andikpas, perbincangan dengan Ax meninggalkan kesan mendalam bagi saya.

Respons yang Berbeda

Perjumpaan pertama saya dengan Ax terjadi pada 13 Maret 2018. Kala itu, saya kebagian tugas untuk melakukan kegiatan pendampingan di Lapas Wonogiri. Saat menyapa dan memperkenalkan diri, respons andikpas sangat pasif dan cenderung menutup diri. Saya sama sekali tidak terkejut dengan respons “dingin” mereka. Bahkan, sejak jauh-jauh hari, Mbak Dian Sasmita sudah mengingatkan bahwa anak-anak kadang akan bersikap sangat tertutup terhadap orang yang baru dikenalnya. Saya ingat Mbak Dian pernah menyampaikan, “Respons tersebut merupakan salah satu bentuk pertahanan diri yang umum andikpas lakukan saat pertama kali bertemu. Ini dikarenakan kondisi khusus yang mereka alami, agar tidak “dimanfaatkan” oleh orang asing.” Oleh karena itu, saya tetap bersikap welcome dan berusaha menempatkan diri sebagai observer, sementara pendamping lain melakukan kegiatan.

Saat kegiatan tengah berlangsung sekira 50 menit, ada seorang andikpas yang meminta izin bergabung mengikuti kegiatan. Melihat wajah baru, saya pun memperkenalkan diri kembali. Tak dinyana, saya mendapat respons hangat dan sebuah senyuman dari andikpas tersebut. Ya, dialah Ax, seorang andikpas yang merespons saya dengan cukup berbeda. Bahkan ia menjawab dengan antusias ketika saya bertanya apakah Ax masih bersekolah. Tanpa malu-malu, ia menjawab masih duduk di bangku kelas IX salah satu SMP negeri di Wonogiri.

Ia juga mengaku tetap ingin melanjutkan pendidikannya setelah bebas dari lembaga pemasyarakatan nantinya. Sikap antusiasme Ax meninggalkan kesan mendalam bagi saya.

Ax sebelumnya memohon maaf karena terpaksa datang terlambat kegiatan pendampingan karena harus menyelesaikan tugas sebagai tahanan pendamping (tamping) terlebih dahulu. Tamping adalah sebuah tugas yang disematkan bagi narapidana yang memiliki penilaian baik. Tugas tamping adalah membantu petugas dalam aktivitas sehari-hari di dalam lapas, misalnya mengerjakan tugas dapur, kegiatan ibadah, dan kegiatan lainnya.

Tetap Belajar agar Lulus Ujian

Kali kedua melakukan pendampingan di Lapas Wonogiri, para andikpas sudah cukup terbuka dengan saya. Mereka mulai banyak bercerita mengenai keluarga dan kehidupan yang mereka jalani sebelum terpaksa mendekam di dalam lapas. Sayangnya, tidak semua andikpas mengikuti kegiatan pendampingan saat itu. Salah seorang yang absen adalah Ax yang ternyata tengah mengikuti ujian nasional di SMP tempatnya bersekolah dahulu.

Rasa penasaran menghinggapi perasaan saya, bagaimana bisa ia mempersiapkan mengikuti ujian nasional dalam keadaan yang serba terbatas? Rasa penasaran tersebut terjawab ketika pada kegiatan pendampingan berikutnya Ax datang mengikuti kegiatan Kapas. Saya pun dengan antusias menanyakan jalannya ujian nasional yang sempat ia ikuti tempo hari. Ax menceritakan bagaimana guru tempat ia bersekolah tetap membantunya belajar dengan membawakan buku pelajaran dan materi UNBK. Ia juga sempat bercerita mengenai kondisi di dalam sel saat Ax harus belajar sedangkan teman sekamarnya sedang bermain. Selain itu, Ax juga selalu menyempatkan belajar di sela-sela kesibukan sebagai tamping kantin lapas.

Tak Ingin Orang Tua Makin Kecewa

Semua usaha dan kerja keras tersebut Ax lakukan semata-mata karena ia sangat ingin lulus sekolah menengah pertama. Ia mengaku tidak ingin makin mengecewakan kedua orang tuanya. Selain ingin lulus sekolah, Ax juga terus berusaha untuk memperbaiki diri. Ia tidak menyia-nyiakan kesempatan beribadah di bulan Ramadan. Di kala teman-temannya membatalkan puasa Ramadan karena berbagai godaan, Ax berusaha untuk menjalankan ibadah puasa penuh dan sungguh-sungguh. Ia banyak meluangkan waktu untuk membaca Alquran sembari menunggu waktu berbuka puasa.

Sebenarnya, sama seperti andikpas lain, Ax menyadari bahwa menjalankan ibadah puasa di lapas tidak benar-benar bisa dijalankan dengan khusyuk. Ada banyak godaan yang merintangi ibadah puasa mereka, misalnya banyak napi dewasa yang kedapatan merokok, harumnya masakan kantin, dan waktu berbuka yang dirasa sangat lama karena tidak ada kegiatan yang dapat mereka lakukan selagi menunggu azan magrib. Namun, saat ditanya apakah ia tergoda untuk membatalkan puasa, Ax dengan tegas menjawab tidak.

“Perbuatanku dulu mengakibatkan aku berada dan berkumpul dengan orang-orang yang kurang baik Mbak. Aku enggak ingin mengecewakan orang tuaku lagi dengan mengikuti kebiasaan-kebiasaan buruk teman-teman di sini,” ujar Ax dengan tegas.

Menurut saya, Ax mengajarkan kita banyak hal. Ia berusaha tetap membuka diri dengan orang yang baru dikenalnya, ia bahkan berusaha bersikap positif dan ramah. Di tengah segala keterbatasan akses belajar, ia tetap berusaha mempersiapkan ujian nasional dengan sebaik-baiknya. Ia bahkan bertekad lulus sekolah dan tidak menambah kekecewaan orang tuanya akan kondisinya. Keinginan kuat dan semangat yang ditunjukkan Ax membuat saya bergumam dalam perjalanan pulang sore itu, “Ya, masih ada pelangi di balik jeruji.”

Sahabat Kapas adalah organisasi nonpemerintah dan nonprofit, yang berkedudukan di Karanganyar, Jawa Tengah.

Read More →