Peluncuran Modul Konseling Kelompok Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender untuk Anak Laki-Laki di LPKA Disambut Antusias

Bertempat di Hotel Redtop, Jakarta Pusat pada hari Kamis (19/12) 2019, Sahabat Kapas meluncurkan “Modul Konseling Kelompok Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender untuk Anak Laki-Laki di LPKA”. Kegiatan ini secara resmi dibuka oleh Direktur Bimbingan Kemasyarakatan dan Pengentasan Anak, Direktorat Jenderal Pemasyarakatan, Kemenkumham RI, Budi Sarwono. Secara simbolis, Dian Sasmita selaku Direktur Yayasan Sahabat Kapas menyerahkan modul kepada Bapak Budi Sarwono disaksikan puluhan undangan yang hadir.

Peluncuran modul ini merupakan tindak lanjut dari kerja sama antara Sahabat Kapas, Ditjen PAS, dan Rutgers WPF Indonesia dalam upaya merespons tingginya kasus kekerasan seksual pada anak. Dimulai pada tahun 2018, Sahabat Kapas telah melakukan proyek percontohan implementasi modul di dua LPKA, yakni LPKA Tangerang dan LPKA Kutoarjo selama kurang lebih 4 bulan. Proyek percontohan tersebut melibatkan para konselor yang merupakan petugas LPKA. Sebelumnya, para petugas yang menjadi konselor juga telah mengikuti pelatihan konseling dan psikoedukasi terkait isu kekerasan serta kesehatan seksualitas dan reproduksi.

Pelaksanaan kegiatan konseling kelompok di LPKA Kutoarjo.

Dari kegiatan konseling kelompok selama 13 sesi bersama anak di LPKA, banyak luaran positif yang dihasilkan. Untuk itu, pada tahun 2019 kegiatan konseling kelompok ini direplikasi di LPKA Yogyakarta. Modul yang digunakan dalam konseling kelompok ini merupakan sumbangsih bersama dari para pegiat anak, pakar konseling, spesialis bidang gender dan kesehatan reproduksi, serta telah direvisi berdasarkan input selama implementasi program, peserta anak, petugas konselor LPKA, dan pihak lain terkait.

Penuh Semangat dan Antusias

“Modul ini diharapkan bisa menjadi salah satu alternatif bagi petugas LPKA atau pendamping anak untuk melakukan intervensi dan rehabilitasi bagi AKH dengan kasus kekerasan seksual yang mempunyai riwayat seksual aktif dan berisiko,” terang Evi Baiturohmah selaku Manajer Program Sahabat Kapas. Dalam kesempatan yang sama, perwakilan Ditjen PAS dalam paparan presentasinya menyatakan tentang harapan agar implementasi modul konseling kelompok ini bisa dilakukan di 33 LPKA di Indonesia pada tahun 2020 nanti. Dengan demikian, persentase anak yang mendapatkan layanan konseling dalam proses rehabilitasi pun akan meningkat.

Diskusi tentang praktik konseling dan rehabilitasi anak.

Selain mendiskusikan mengenai modul konseling kelompok, para peserta yang hadir juga diajak untuk saling berbagi mengenai praktik-praktik konseling dan rehabilitasi di masing-masing LPKA. Kegiatan ini pun dilakukan dengan penuh semangat dan antusias oleh seluruh peserta. Kegiatan kemudian ditutup dengan diskusi dan pemberian rekomendasi terhadap Ditjen PAS terkait inovasi yang perlu dilakukan dan dorongan untuk peningkatan kualitas pembinaan di LPKA.

You Might Also Like

Published by

Evi Baiturohmah

Penyuka panda, pantai dan percakapan. Selalu ingin membuat terobosan menarik dan kreatif dalam pekerjaan dan kehidupan sehari- hari. Mantra mujarab: Things get tough and shi*s happen, but you’ll survive.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.