Exemple

Oleh Uthie Awamiroh*

Anak-anak dan balita yang sudah dapat mengoperasikan gawai sendiri menjadi pemandangan yang lumrah di masa sekarang. Hal ini tentu tidak terlepas dari perilaku orang-orang terdekat anak, misalnya para orang tua yang membiarkan anak-anak dengan bebas memainkan gawai tanpa pengawasan. Pembiaran ini bisa dikatakan sebagai dukungan tidak langsung yang sebenarnya sangat disayangkan. Anak-anak yang sedari dini sibuk dengan gawai bisa mengalami berbagai dampak buruk yang dapat mempengaruhi tumbuh kembangnya. Selain itu, anak-anak yang semestinya menikmati masa-masa bermain dan bereksplorasi di lingkungan sekitar, cenderung memilih berdiam diri di rumah dengan telepon pintar di tangan. Hal ini mengakibatkan proses sosialisasi anak terhadap lingkungan menjadi tidak maksimal.

Remaja bersosialisasi di Car Free Day Solo

Akses gawai yang mudah dan tanpa pengawasan mendukung adanya kebebasan anak dalam mengakses internet. Padahal, hal tersebut bisa berdampak negatif bagi anak-anak, terutama pada anak dalam keluarga yang mengalami disfungsi. Data yang dihimpun Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menunjukkan sepanjang tahun 2017 terdapat 514 laporan kasus pornografi dan cybercrime yang masuk ke KPAI (netralnews.com). Ini tentu saja menjadi perhatian kita semua sebagai sebuah sistem sosial.

Pornografi kini menjadi ancaman nyata bagi anak-anak. Rasa penasaran yang tinggi, minimnya edukasi seks, pengawasan dan perhatian yang kurang adalah kunci awal kekerasan seksual masuk ke dalam kehidupan anak-anak. Video porno yang anak-anak lihat dari media sosial akan mengarah pada kekerasan seksual yang berakibat buruk bagi kehidupan anak. Selain itu, ancaman hukuman penjara dan sanksi sosial juga menanti bagi anak-anak yang terjerat kasus pelecehan/kekerasan seksual.

Keluarga sebagai sistem sosial terkecil dalam struktur sosial mempunyai peran peting untuk mencegah dan meminimalisasi pornografi atau kekerasan seksual. Hal ini dengan catatan bahwa fungsi-fungsi di dalam keluarga berjalan dengan baik. Keluargalah kunci pertama pembentukan anak-anak menjadi pribadi yang baik meskipun ada faktor lingkungan yang nantinya juga mepenngaruhi perangai anak. Setidaknya, bila sudah dibentengi dengan pengetahuan dan nilai-nilai yang sesuai norma, anak-anak memiliki potensi bisa menjaga dirinya di lingkungan masyarakat.

Untuk menjamin tumbuh kembang anak yang baik, fungsi keluarga harus berjalan secara maksimal. Tiga fungsi keluarga yang harus diperhatikan antara lain fungsi sosialisasi, fungsi perlindungan, dan fungsi afeksi (Soekanto, 2012). Pertama, fungsi sosialisasi. Keluarga berperan mendidik anak dari awal tumbuh kembang anak hingga membentuk kepribadiannya sendiri. Dalam pencegahan porngrafi, edukasi seks bagi anak seharusnya dilakukan sedini mungkin. Hal ini untuk mencegah anak terhindar dari berbagai tindakan seksual yang merugikan di masa mendatang. Selain itu, edukasi mengenai seks akan memperluas pemahaman dan menjadi dasar anak untuk mengambil keputusan seputar seksualitas. Namun, pada umumnya orang tua enggan atau tidak terlalu memperhatikan kebutuhan pengetahuan mengenai seksualitas. Orang tua bahkan seringkali cenderung menyerahkan pendidikan seksualitas ke institusi sekolah.

Fungsi kedua adalah fungsi perlindungan. Dalam hal ini, keluarga harus bisa menjadi pelindung dan pengawas bagi anggota keluarga yang lain sehingga memberikan rasa nyaman dan aman. Ketiadaan rasa aman dalam keluarga bisa dipicu oleh kondisi orang tua yang tidak harmonis atau broken home. Akibatnya, anak-anak akan berbuat sesuatu untuk menarik perhatian keluarganya. Tindakan yang dilakukan pun beragam, bahkan bisa membawa anak terjerumus ke dalam berbagai tindakan negatif.

Selain berasal dari disharmoni keluarga, ketidakpahaman orang tua mengenai fungsi perlindungan ini juga bisa mendorong anak ke dalam tindakan negatif, salah satunya adalah tindakan pelecehan/kekerasan seksual. Yang sangat disayangkan, banyak kasus kekerasan seksual dilakukan oleh orang-orang terdekat yang seharusnya memberi perlindungan dan rasa aman. Pengawasan yang kurang dari keluarga juga menjadi penyebab pornografi dan kekerasan seksual menimpa anak-anak.

Fungsi yang ketiga adalah fungsi afeksi. Keluarga mempunyai peran menyayangi dan mengasihi anggota keluarganya sehingga terciptanya keharmonisan sebuah keluarga. Namun sayangnya, masih banyak keluarga yang mengalami disfungsi, sehingga banyak pula anak yang melakukan tindakan melanggar norma/aturan yang berlaku karena ketidaktahuan atau tidak adanya pengarahan dari keluarga.

Dalam sosiologi, permasalahan ketidakharmonisan keluarga ini menjadi salah satu bahsan dalam teori fungsional struktural. Teori ini memandang masyarakat sebagai suatu sistem yang saling terkait satu dengan yang lainnya (Ritzer, 2012). Masyarakat sebagai suatu sistem memiliki struktur yang terdiri dari banyak lembaga. Lembaga-lembaga dalam masyarakat memiliki fungsinya masing-masing. Teori ini menekankan pada keseimbangan lembaga agar berjalan baik untuk bisa menjaga kestabilan sistem sosial. Misalnya, lembaga keluarga yang dapat menjalankan peran dan fungsinya dengan baik akan berpengaruh positif terhadap stabilitas masyarakat.

Peran dan fungsi keluarga yang tidak dapat dipenuhi mengakibatkan ketidakteraturan dalam masyarakat. Anak-anak yang merasa di keluarganya tidak nyaman akan membawa ketidaknyamanan itu ke lingkungan di mana ia tinggal. Oleh karena itu, perlu adanya penguatan dorongan bahwa keluarga sebagai fondasi utama pembentuk karakter dan kepribadian anak.

 

Pustaka Rujukan:

Ritzer, George. 2012. Teori Sosiologi dari Sosiologi Klasik sampai Perkembangan Terakhir Postmodern. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Soekanto, Soerjono. 2012. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

 

*Penulis adalah relawan Sahabat Kapas

Penyuka panda, pantai dan percakapan. Selalu ingin membuat terobosan menarik dan kreatif dalam pekerjaan dan kehidupan sehari- hari. Mantra mujarab: Things get tough and shi*s happen, but you’ll survive.