Happy Father’s Day

One father is worth more than a hundred schoolmasters – George Herbert

Dua bulan terakhir saya terpikat dengan tayangan teve luar negeri yang dapat kita saksikan lewat youtube atau teve berlangganan. The Returf of Superman, reality show sepekan sekali yang diproduksi oleh KBS, stasiun teve di Korea Selatan. Empat keluarga artis yang dengan sengaja direkam aktivitasnya selama 48 jam. Selama 48 jam tersebut, anak hanya diasuh oleh bapaknya. Tanpa bantuan pengasuh apalagi ibu. Banyak kejadian tak teduga, lucu, kadang juga membuat terharu.

Durasi 1,5 jam tidak sebatas hiburan namun banyak memberi wawasan tentang pengasuhan anak. Bagaimana orang tua (bapak) dituntut serba bisa untuk menyenangkan hati sang anak, meskipun badan telah capai. Bapak didorong untuk konsisten antara perkataan dan perbuatan. Interaksi bapak-anak di rumah memberi ruang besar untuk mengajarkan nilai positif seperti berbagi, tolong menolong, dan disiplin. Semua dilakukan oleh seorang bapak terhadap anak-anaknya. Tayangan yang menghibur dan bernilai edukasi bagus.

Cerita dari Dua Lapas

Duduk lesehan bersama 6 anak di aula Lapas Anak Kutoarjo. Setiap anak mengisi pertanyaan sederhana tentang keluarganya di selembar kertas. Satu persatu bertanya tentang isian kolom pertama. “Mbak, aku ora tau ngerti bapak ku blas. Njuk piye?”. “Aku malah ra pengen ngerti bapak ku. Sekian tahun nang kene ora tau dibesuk”. “Aku pengen ngeprukki bapakku”. Dari keenam anak tersebut, hanya satu yang mencantumkan angka 4 untuk mewakili kedekatan hubungan anak dengan bapaknya, dari skala 1 – 5. Lima anak lainnya menulis 0 dan 1. Saya berada di salah satu kelompok kecil yang berdiskusi tentang kedekatan anak dengan keluarganya. Ada 30-an anak yang berpartisipasi pada sesi itu.

Sepekan berselang, saya berkesempatan ngobrol santai di Sanggar Baca Lapas Klaten bersama 5 anak. Tetiba, seorang anak nyletuk, “Nek bebas aku pengen nabrak bapakku nganti mati, Mbak. Ibuku mending dadi rondo”. Senyum menyeringainya diikuti tawa teman-teman. Saya pun melanjutkan dengan bertanya, siapa saja yang punya perasaan tidak nyaman dengan bapak. Semuanya tunjuk jari. Satu persatu bercerita tentang kekerasaan fisik, perkataan kasar, main perempuan, mabuk, dan penelantaran yang telah bapak mereka lakukan. Bingkai perilaku negatif menghiasi memori masa lalu mereka.

Dua gambar situasi kedekatan anak dengan bapak yang terpisah ribuan kilometer namun bertalian secara ironis. Warga Korea Selatan memiliki kesadaran tinggi dan upaya nyata edukasi tentang pentingnya kelekatan anak – bapak sejak dini. Tidak hanya sebatas jargon semata tapi dikemas dalam tayangan teve dengan jam penayangannya menyesuaikan jadwal pulang kerja para orang tua. Menjadi ‘superman’ adalah gelombang trend bagi kalangan bapak di sana.

Saya yakin sekali, mereka yang berceloteh dengan saya (baik) di Kutoarjo maupun Klaten merindukan sosok bapak yang menemani mereka belajar, bapak yang hadir ketika mereka alami kecemasan memasuki masa akil baligh, bapak yang menyemangati ketika mereka alami kegagalan, bapak yang tertawa bersama ketika hal konyol mereka perbuat.

Momen sederhana namun sangat berharga bagi mereka. Itu lah yang selama ini berperan besar dalam hidup mereka. Ibu yang dengan peluh dan air mata berjuang untuk mereka agar tetap dapat makan sehari 3 kali dan bersekolah. Ibu yang selalu menyisihkan uang agar dapat membesuk mereka rutin sekian bulan sekali. Sekedar membawa makanan kesukaan dan cerita bahagia dari rumah.

Keseimbangan profil bapak – ibu dalam tumbuh kembang anak sangat penting. Perilaku bapak sangat mudah diduplikasi anak. Jika perilaku baik tidaklah menjadi soal, namun tindak tanduk negatif akan sulit terhapus dari memori anak. Tak disadari, anak akan mengaplikasikan apa yang tersimpan di memori masa lalunya.

Minggu ketiga di bulan Juni selalu diperingati sebagai father’s day. Penanda untuk kita semua, khususnya mereka, anak laki-laki yang sedang berada di lapas. Mereka adalah calon bapak, calon orang tua dari generasi berikutnya. Perilaku negatif harus kita koreksi bersama. Bangun kesadaran dan kepercayaandirinya bahwa (kelak) mereka mampu menjadi ‘bapak’ yang lebih baik bagi anak-anaknya.

Ditulis oleh Dian Sasmita (Koordinator Sahabat Kapas)

You Might Also Like

Published by

admin

Sahabat Kapas adalah organisasi nonpemerintah dan nonprofit, yang berkedudukan di Karanganyar, Jawa Tengah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.