Exemple

Oleh Denis Kusuma

(Sekretaris dan Keuangan Sahabat Kapas)

 

Ketika Anda memberi, entah perhatian, waktu, tenaga, uang pada orang yang membutuhkan, Anda sedang menabur benih cinta, dan cinta tak pernah gagal.

(Rum Martani)

 

Kutipan cantik dari buku Karena Hidup Sungguh Berharga karya Rum Martani tersebut menjadi bekal aktivitas saya hari ini. Mengawali aktivitas pukul empat dini hari, setelah melaksanakan doa pagi dan bersiap-siap, saya bergegas menuju titik kumpul keberangkatan di Stasiun Balapan Solo. Pagi ini saya bersama relawan Sahabat Kapas lainnya akan melakukan perjalanan menuju Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kutoarjo. Kami harus menempuh kurang lebih 2,5 jam perjalanan dengan kereta dan dilanjutkan mengendarai angkutan umum untuk sampai tujuan.

Setiap dua minggu sekali secara rutin, saya dan relawan Sahabat Kapas lainnya melakukan kegiatan pendampingan di LPKA Kutoarjo. Saat ini, di satunya-satunya lapas khusus anak di Jawa Tengah tersebut menampung kurang lebih 70 narapidana anak yang berusia antara 14 hingga 18 tahun. Berdasarkan data pendampingan Sahabat Kapas, pada 2016, 70% dari anak yang menjalani hukuman di LPKA Kutoarjo melakukan tindak pidana asusila, sisanya melakukan tindakan pencurian, penganiayaan, penggunaan obat-obatan terlarang, hingga kasus pembunuhan.

Terlepas dari kesalahan yang mereka lakukan, di mata kami, mereka tetaplah seorang anak. Mereka adalah anak-anak yang rindu berkumpul bersama keluarga dan teman-temannya, rindu untuk bermain, bersenda gurau, dan tertawa bersama. Namun demikian, tak banyak dari mereka yang bisa dijenguk secara rutin oleh anggota keluarganya. Tak heran, kehadiran Sahabat Kapas selalu ditunggu oleh anak-anak LPKA. Mereka mengaku menantikan saat-saat bermain games bersama kami, menanti buku-buku yang kami bawa, foto yang selalu tak lupa mereka minta dicetakkan sekadar untuk dipasang di dinding kamar mereka, hingga diskusi-diskusi seru bersama kami.

Hari ini kami berdiskusi seputar tradisi puasa serta lebaran di keluarga dan daerah mereka masing-masing. Kami juga berdiskusi mengenai tantangan-tantangan yang mereka hadapi selama menjalankan ibadah puasa di LPKA. Beragam cerita disampaikan oleh anak-anak LPKA kepada kami, mulai dari masakan khas, seperti menu wajib lontong opor dan sambal goreng, permainan membunyikan petasan, tradisi menaikkan lampion, hingga berziarah ke makam leluhur. Bahkan, anak-anak tak segan bercerita bagaimana mereka secara sembunyi-sembunyi membeli es teh di warung agar tidak ketahuan orang tua. Seru, lucu, dan pastinya berkesan.

Meski seru, tidak semua anak mau merespons kami dengan baik dan kami sangat memahami tindakan tersebut. Kehidupan mereka yang keras, tak jarang di jalanan membuat mereka kehilangan rasa simpati. Mereka tidak mudah percaya pada seseorang. Bahkan, mungkin mereka tidak biasa menerima bentuk perhatian lebih seperti yang kami berikan. Berangkat dari hal inilah Sahabat Kapas berusaha setidaknya bisa menjadi teman bagi mereka. Kami ingin menjadi teman bermain, berbagi cerita, dan yang terpenting adalah mempersiapkan mereka ketika nanti tiba saatnya mereka harus kembali ke masyarakat. Bagi anak-anak LPKA tak mudah menghadapi stigma masyarakat terhadap status mereka yang mantan narapidana. Kondisi ini yang kerap membuat mereka kembali ke lingkungan komunitas mereka dahulu, karena hanya di sana mereka merasa bisa diterima. Sungguh sangat disayangkan memang, tapi itulah kenyataan yang terjadi di masyarakat kita.

Meski tak banyak yang kami lakukan namun kami percaya, ketika kami berangkat dengan ketulusan hati untuk memberi entah itu perhatian, tenaga, materi, kami sedang menabur benih cinta, dan sekali lagi bahwa cinta tak pernah gagal. Demikian yang saya dan Sahabat Kapas harapkan untuk anak-anak di LPKA Kutoarjo, semoga benih cinta yang kami tabur boleh bertumbuh di hati mereka. Terlepas sebesar apapun kesalahan yang mereka perbuat, tetap akan ada kesempatan untuk mereka berubah menjadi yang lebih baik.

Inilah yang membuat kami tetap semangat untuk terus menabur benih cinta dan melakukan semuanya dengan sukacita….

Sahabat Kapas adalah organisasi nonpemerintah dan nonprofit, yang berkedudukan di Karanganyar, Jawa Tengah.

Read More →
Exemple

Oleh Anggi Nur Cahya Trivi

(Relawan Sahabat Kapas/Mahasiswa Psikologi UNS)

(Valeria Boltneva/pexels.com)

Siang itu, suasana Kantor Sahabat Kapas tiba-tiba berubah semarak dan ceria. Salah seorang relawan Kapas, Rahayu, membagikan kabar gembira bahwa salah seorang anak didik lembaga pemasyarakatan (andikpas) yang kami dampingi telah bebas. “Ax sudah keluar loh… sekarang dia jadi guru mengaji di rumahnya!” seru Rahayu yang ditimpali dengan tepuk tangan dan tawa gembira dari seluruh relawan yang hadir.

Rasa haru dan gembira selalu merayapi hati kami kala mendengar andikpas yang kami dampingi dapat menghirup udara bebas, termasuk Ax. Ia adalah andikpas Wonogiri yang rajin mengikuti kegiatan pendampingan oleh Sahabat Kapas. Dari sekian banyak andikpas, perbincangan dengan Ax meninggalkan kesan mendalam bagi saya.

Respons yang Berbeda

Perjumpaan pertama saya dengan Ax terjadi pada 13 Maret 2018. Kala itu, saya kebagian tugas untuk melakukan kegiatan pendampingan di Lapas Wonogiri. Saat menyapa dan memperkenalkan diri, respons andikpas sangat pasif dan cenderung menutup diri. Saya sama sekali tidak terkejut dengan respons “dingin” mereka. Bahkan, sejak jauh-jauh hari, Mbak Dian Sasmita sudah mengingatkan bahwa anak-anak kadang akan bersikap sangat tertutup terhadap orang yang baru dikenalnya. Saya ingat Mbak Dian pernah menyampaikan, “Respons tersebut merupakan salah satu bentuk pertahanan diri yang umum andikpas lakukan saat pertama kali bertemu. Ini dikarenakan kondisi khusus yang mereka alami, agar tidak “dimanfaatkan” oleh orang asing.” Oleh karena itu, saya tetap bersikap welcome dan berusaha menempatkan diri sebagai observer, sementara pendamping lain melakukan kegiatan.

Saat kegiatan tengah berlangsung sekira 50 menit, ada seorang andikpas yang meminta izin bergabung mengikuti kegiatan. Melihat wajah baru, saya pun memperkenalkan diri kembali. Tak dinyana, saya mendapat respons hangat dan sebuah senyuman dari andikpas tersebut. Ya, dialah Ax, seorang andikpas yang merespons saya dengan cukup berbeda. Bahkan ia menjawab dengan antusias ketika saya bertanya apakah Ax masih bersekolah. Tanpa malu-malu, ia menjawab masih duduk di bangku kelas IX salah satu SMP negeri di Wonogiri.

Ia juga mengaku tetap ingin melanjutkan pendidikannya setelah bebas dari lembaga pemasyarakatan nantinya. Sikap antusiasme Ax meninggalkan kesan mendalam bagi saya.

Ax sebelumnya memohon maaf karena terpaksa datang terlambat kegiatan pendampingan karena harus menyelesaikan tugas sebagai tahanan pendamping (tamping) terlebih dahulu. Tamping adalah sebuah tugas yang disematkan bagi narapidana yang memiliki penilaian baik. Tugas tamping adalah membantu petugas dalam aktivitas sehari-hari di dalam lapas, misalnya mengerjakan tugas dapur, kegiatan ibadah, dan kegiatan lainnya.

Tetap Belajar agar Lulus Ujian

Kali kedua melakukan pendampingan di Lapas Wonogiri, para andikpas sudah cukup terbuka dengan saya. Mereka mulai banyak bercerita mengenai keluarga dan kehidupan yang mereka jalani sebelum terpaksa mendekam di dalam lapas. Sayangnya, tidak semua andikpas mengikuti kegiatan pendampingan saat itu. Salah seorang yang absen adalah Ax yang ternyata tengah mengikuti ujian nasional di SMP tempatnya bersekolah dahulu.

Rasa penasaran menghinggapi perasaan saya, bagaimana bisa ia mempersiapkan mengikuti ujian nasional dalam keadaan yang serba terbatas? Rasa penasaran tersebut terjawab ketika pada kegiatan pendampingan berikutnya Ax datang mengikuti kegiatan Kapas. Saya pun dengan antusias menanyakan jalannya ujian nasional yang sempat ia ikuti tempo hari. Ax menceritakan bagaimana guru tempat ia bersekolah tetap membantunya belajar dengan membawakan buku pelajaran dan materi UNBK. Ia juga sempat bercerita mengenai kondisi di dalam sel saat Ax harus belajar sedangkan teman sekamarnya sedang bermain. Selain itu, Ax juga selalu menyempatkan belajar di sela-sela kesibukan sebagai tamping kantin lapas.

Tak Ingin Orang Tua Makin Kecewa

Semua usaha dan kerja keras tersebut Ax lakukan semata-mata karena ia sangat ingin lulus sekolah menengah pertama. Ia mengaku tidak ingin makin mengecewakan kedua orang tuanya. Selain ingin lulus sekolah, Ax juga terus berusaha untuk memperbaiki diri. Ia tidak menyia-nyiakan kesempatan beribadah di bulan Ramadan. Di kala teman-temannya membatalkan puasa Ramadan karena berbagai godaan, Ax berusaha untuk menjalankan ibadah puasa penuh dan sungguh-sungguh. Ia banyak meluangkan waktu untuk membaca Alquran sembari menunggu waktu berbuka puasa.

Sebenarnya, sama seperti andikpas lain, Ax menyadari bahwa menjalankan ibadah puasa di lapas tidak benar-benar bisa dijalankan dengan khusyuk. Ada banyak godaan yang merintangi ibadah puasa mereka, misalnya banyak napi dewasa yang kedapatan merokok, harumnya masakan kantin, dan waktu berbuka yang dirasa sangat lama karena tidak ada kegiatan yang dapat mereka lakukan selagi menunggu azan magrib. Namun, saat ditanya apakah ia tergoda untuk membatalkan puasa, Ax dengan tegas menjawab tidak.

“Perbuatanku dulu mengakibatkan aku berada dan berkumpul dengan orang-orang yang kurang baik Mbak. Aku enggak ingin mengecewakan orang tuaku lagi dengan mengikuti kebiasaan-kebiasaan buruk teman-teman di sini,” ujar Ax dengan tegas.

Menurut saya, Ax mengajarkan kita banyak hal. Ia berusaha tetap membuka diri dengan orang yang baru dikenalnya, ia bahkan berusaha bersikap positif dan ramah. Di tengah segala keterbatasan akses belajar, ia tetap berusaha mempersiapkan ujian nasional dengan sebaik-baiknya. Ia bahkan bertekad lulus sekolah dan tidak menambah kekecewaan orang tuanya akan kondisinya. Keinginan kuat dan semangat yang ditunjukkan Ax membuat saya bergumam dalam perjalanan pulang sore itu, “Ya, masih ada pelangi di balik jeruji.”

Sahabat Kapas adalah organisasi nonpemerintah dan nonprofit, yang berkedudukan di Karanganyar, Jawa Tengah.

Read More →
Exemple

Deru mesin lokomotif dan peluit penjaga stasiun mulai terdengar di Stasiun Kutoarjo. Panasnya terik matahari di kota yang baru sekali kukunjungi ini terasa menembus sampai ke dalam tulang. Pikiranku siang ini melayang entah kemana, hal yang aku alami pagi ini benar-benar di luar batas logikaku.

Terdengar kembali panggilan untuk penumpang tujuan Solo untuk segera bersiap di jalur satu. Aku bergegas mendekati kereta yang sudah butut namun ditunggu banyak orang ini. Keadaan kereta yang masih kosong membuatku leluasa untuk memilih tempat duduk di pojok dekat toilet.

Perlahan kereta mulai meninggalkan Stasiun Kutoarjo, kembali pikiranku melayang ke kejadian yang aku alami. Pengalaman pertama pendampingan di sebuah tempat bernama Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kutoarjo. Kegiatan yang belum pernah aku lakukan sebelumnya. Sungguh tak pernah kubayangkan, hari ini aku masuk dan mendengar banyak cerita dari mereka.

Siapa mereka? Mereka adalah teman-teman baruku yang menjadikanku seakan gila hari ini. Mereka adalah anak-anak yang tinggal di LPKA Kutoarjo. Mereka telah sukses membuatku kagum, sehingga kekaguman itu membuatku menjadi seperti orang gila yang terus memikirkan kegiatan tadi. Mereka tak segan bermain dengan penuh keceriaan tanpa ada batas denganku, orang baru yang pastilah asing bagi mereka.

Tak terasa perjalananku sudah memasuki kota kesenian Yogyakarta, terdengar pengumuman bahwa kereta telah sampai di Stasiun Tugu. Bertambahnya penumpang membuat lamunanku dipaksa buyar seketika.

Ketika kereta melewati perlintasan dan membunyikan klakson, tiba-tiba aku teringat pada salah satu anak di LPKA Kutoarjo yang menitipkan kertas kepadaku. Penasaran, kubuka satu lembar kertas yang dilipat dengan rumit. Seperti sengaja agar tidak sembarang orang bisa membukanya. Seperti disambar petir di siang hari, aku membaca beberapa larik puisi di sana.

“Maafkan Aku”

Tuhan, maafkan aku yang tak pernah menjalankan kewajibanku

Ayah dan Ibu, maafkan aku yang tak pernah mendengarkan perkataanmu

Semua ini terjadi karena kesalahanku

Maafkan aku.

Aku mengulang beberapa kali membaca puisi sederhana yang sangat mengena itu, hingga air mataku benar-benar menetes. Aku menangis karena aku menginggat benar ceritanya. Teman baruku ini sangat merindukan ayah ibunya. Ayahnya telah lama pergi. Hanya ada ibunya yang tinggal seorang diri di rumah. Di sebuah kota dengan jarak ratusan kilometer dari Kutoarjo.

Membaca puisi ini aku jadi merasakan apa yang dirasakannya di LPKA. Membaca puisi ini aku teringat banyaknya kesalahanku kepada orang tuaku dan Tuhan. Mungkin lewat teman baruku ini Tuhan memberikan banyak teguran untukku.

“Kereta jurusan Solo akan segera berangkat”

Wah, ternyata sudah hampir meninggalkan Klaten. Aku kembali tersadar. Tak berhenti merasa bersyukur atas pengalaman hari ini. Semoga ada lain waktu untukku bertemu mereka lagi. Anak-anak remaja yang tengah berjuang menghadapi konsekuensi perbuatannya.

Ditulis oleh Haidar Fikri (Relawan Sahabat Kapas).

Read More →
Exemple

Kali pertama saya bertemu anak-anak di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA). Deg-degan pastinya karena menyadari yang dihadapi adalah anak-anak istimewa. Sebagai pengalaman pertama tentu akan banyak kekurangan, namun saya harus berani melangkahkan kaki dan berusaha menengadahkan wajah tetap ke depan serta tersenyum.

Hari itu, 23 Mei 2017, kami hendak bermain bersama dalam satu kegiatan outbond di LPKA Kutoarjo. Ada kurang lebih 70 anak di sana. Usia mereka antara 14-18 tahun. Suka cita bermain bersama, membaur bersama mereka. Puji Tuhan, semua berjalan dengan lancar dari awal, pertengahan hingga akhir. Semua kekhawatiran saya tentang LPKA sekejap sirna tatkala mulai berinteraksi dengan anak-anak. Mereka tetaplah anak-anak yang penuh suka cita bermain, tidak ada yang berbeda. Hanya saja mereka pernah berada di jalur yang salah.

Saya di tengah keceriaan outbond LPKA Kutoarjo.

Mereka ada bukan untuk dijauhi dan dikucilkan, tapi mereka butuh kepedulian kita, pertolongan kita. Untuk itulah kami di Sahabat Kapas ada. Setidaknya kami bisa menjadi tempat curahan hati anak-anak di LPKA/Rutan/Lapas, itu sudah membuat hati saya merasa lega. Menjadi bermanfaat bagi anak-anak untuk berbagi rasa karena tidak pernah dijenguk keluarganya.

Kini saya punya cerita untuk anak saya di rumah. Dia seusia dengan mereka yang di dalam LPKA/Rutan/Lapas. Bukan cerita menakutkan tentangLPKA/Rutan/Lapas, tapi cerita tentang dampak perilaku salah yang bisa semua remaja lakukan. Agar anak saya bisa memanfaatkan kebebasannya dengan lebih positif.

Bersyukur kami boleh membawa dampak bagi anak-anak di LPKA/Rutan/Lapas. Meski tidak mudah namun kami tetap bersama-sama berjuang untuk masa depan mereka agar menjadi lebih baik. Semoga….

 

Ditulis oleh Denis Kusuma P. (Staf Administrasi dan Keuangan Sahabat Kapas).

Foto diambil dari Facebook : Solidaritas Kapas

Read More →

Mengenal Anak di Lapas

Saya merupakan relawan magang di Sahabat Kapas. Baru sebulan saya mengikuti program relawan magang ini sejak bergabung pada akhir bulan Juni 2015 lalu. Kegiatan saya di Sahabat Kapas diawali dengan orientasi dan kegiatan administratif di kantor Sahabat Kapas. Hingga yang paling berkesan, saat saya diberi kesempatan untuk berkegiatan di Lapas.

Rabu, 8 Juli 2015, ketika umat muslim sedang menjalankan ibadah puasa, Sahabat Kapas mengadakan buka bersama dengan anak-anak di Lapas Klaten. Hari itu pula saya untuk pertama kalinya berkesempatan masuk ke dalam Lapas. Saya bertugas sebagai pembawa acara buka bersama tersebut. Saat menerima tugas tersebut, saya pun bingung akan bagaimana, ini pertama kalinya dan langsung ditunjuk menjadi pembawa acara.

Perasaan yang saya rasakan menjelang detik-detik mengetuk pintu gerbang lembaga pemasyarakatan tersebut……… campur aduk. Setelah Pegawai Lapas menyambut kami dengan ramah, rasa takut atas bayang-bayang sel tahanan beserta penghuninya sedikit sirna. Saya beserta teman-teman relawan pun diantar petugas naik ke aula Lapas yang berada di lantai 2. Di sana, saya melihat anak-anak sedang melihat ke luar jendela. Sayup-sayup saya mendengar celetukan salah seorang anak, “Angin e bedo ya neng jero sel karo neng jobo sel (anginnya berbeda ya di dalam dan di luar sel).” Kalimat sederhana yang membuat saya sadar bahwa kebebasan itu mewah. Kalimat sederhana yang mungkin akan ditertawakan orang, tetapi memiliki arti mendalam bagi mereka.

Relawan-relawan lain sempat bercerita mengenai penyebab anak-anak tersebut sampai di dalam Lapas, bagaimana latar belakang keluarganya dan bagaimana lingkungannya. Cerita-cerita tersebut membuat mata saya terbuka bahwa ternyata anak-anak tersebut adalah korban. Korban dari tidak terpenuhinya hak-hak mereka. Korban orang-orang dewasa yang tidak memberikan kesempatan kepada mereka untuk mendapatkan pengasuhan yang tepat dan kesempatan untuk tumbuh kembang yang baik.

Kaget, prihatin, simpati, takut dan bingung harus bertindak seperti apa. Itulah perasaan saya ketika pertama kali melihat anak-anak dan setelah mendengar cerita dari Relawan Sahabat Kapas. Bertemu mereka dalam kesempatan berbuka puasa bersama di aula ini, merupakan momen bagi saya mengenal ‘dunia lain.’ Membuka mata saya dan meruntuhkan segala pandangan takut, seram dan stigma-stigma lain terhadap mereka di masa lalu.

Segala yang saya lakukan di dalam Lapas saat kunjungan adalah pertama kalinya bagi saya. Cerita yang bisa saya bagikan kepada ayah dan adik saya, sekaligus mengajarkan pada mereka untuk saling menghormati dan menghargai orang lain, dimanapun mereka berada.

Anak-anak ini membutuhkan uluran tangan kita sebagai dewasa yang bijak guna masa depan mereka. Saat ini saya dan seorang teman relawan magang sedang dalam proses belajar bersama mereka, belajar mengenai hidup dan kehidupan. Kami harap hal-hal baik akan datang dalam kegiatan kami sehingga dapat berguna bagi teman-teman.

Ditulis oleh Kuswendari Listyaningtri H. (Relawan Magang Sahabat Kapas), diedit oleh Bungsu Ratih P. R. (Relawan Sahabat Kapas).

Sahabat Kapas adalah organisasi nonpemerintah dan nonprofit, yang berkedudukan di Karanganyar, Jawa Tengah.

Read More →
Exemple
Source : http://www.pdskji.org/article_det-27-stop-kekerasan-pada-anak.html

Source : http://www.pdskji.org/article_det-27-stop-kekerasan-pada-anak.html

October 21, 2014

8.0 pm

I was facing my laptop reading some articles on the internet when I heard a loud and stern voice of a man roared from my nearby vicinity. It sounded a man having a fierce fights with somebody as he muttered rough words while spoke as if he used a loudspeaker. It is past 7 pm and I tried to ignore the voice. However my heart refused to do what my brain told so. Instead of continue my reading I listened carefully to the voice. My heart beat so fast and I stood up to know more about the situation. I could assume that it was a fury of father to his son. I couldn’t help but walked out of my room just to make sure I heard it right. I forgot to wear my flip flop and realized it when I’ve gone halfway from my dorm.

I was looking around at the nearby place to detect where the voice coming from. I decided to turn left, assuming the source of the voice. Ahead of me, 10 meters away I spotted a child half running holding a plastic of drink in his hand. He was under the dark shadow of the night and I couldn’t see his face clearly. He looked at the road and suddenly ran away to a house.

A man in the late twenties appeared from the bend of the road with his hands on his hips while pointing out to the darkness. He scolded the kid and went after him. He was scary as hell. At a glance I could see that he was out of his mind. Amidst his loud scolding, he told the boy that he was “drunk” and crazy and he questioned the boy why he left him alone in the shop when he was waiting for him at the first place. My heart beat so fast and I was in the middle of walking. I tried to relax my self and passed the man. I raced to the nearby road and sat in the road lane for a while.

The man didn’t stop scolding his son with his loud voice. None of my neighbors came out to see what’s going on or just tried to calm the man off. I was worried about the kid, fearing that something bad might happen to him.

People said ignorance is a bliss. I knew the man shouting at his son was a business in his own family. I couldn’t step in when privacy matter took account so I considered to go home and let the man finished his own business. However, I couldn’t help when my feet refused to move.

Some passerby looked at the scene warily but didn’t do anything further. I was confused and numb, not knowing what exactly I should do in this situation. The man shouted again and threw something to the dark which caused a loud bang. I observed if there was any movements in the darkness but I didn’t see anything. A few seconds passed, and suddenly I could hear a soft cry from the darkness where the man threw something before. My heart stopped and I nearly collapsed.

…to be continued…

Written by Evi Baiturohmah (Sahabat Kapas volunteer).

Sahabat Kapas adalah organisasi nonpemerintah dan nonprofit, yang berkedudukan di Karanganyar, Jawa Tengah.

Read More →
Exemple
Behind The Scene 1

Film Cabe

Tantangan baru dilemparkan untuk anak di Lapas Klas II B Klaten. Biasanya, mereka menjadi obyek lensa foto atau video. Kali ini anak di lapas berposisi sebagai subyek dominan. Menulis jalan cerita, mengatur pengambilan gambar, hingga melakonkannya sendiri. Delapan anak melakukannya dengan dukungan relawan Sahabat Kapas.

Akhir Mei 2014, mereka berkenalan dengan proses panjang menghasilkan karya film. Tonny Trimarsanto, sutradara film dokumenter kawakan, berkenan berbagi ilmunya di pojok baca Lapas Klas II B Klaten. Istilah fiksi – nonfiksi skenario, close up, hingga editing ditangkap anak dengan semangat. Hari itu pula separuh anak berkesempatan perdana memegang camera pocket. Ternyata, mereka belum pernah sekalipun mengenal apalagi merekam gambar dengan kamera, meskipun mereka tahu handphone beserta fasilitas fotonya.

Film dan kamera memang tidak asing bagi mereka. Sebulan sekali, kegiatan nonbar selalu dilakukan. Ragam film edukatif dan pemompa semangat dihadirkan. Kehadiran wartawan untuk meliput kegiatan mereka pun terbilang tak jarang. Namun, mereka cenderung menjadi obyek. Hanya menonton film yang sudah jadi atau aktivitas mereka menjadi bahan peliputan.

Peralatan pembuatan film tidak tersedia di lapas. Relawan Sahabat Kapas membawanya dari luar. Sehingga praktis anak-anak belajar menggunakannya hanya ketika relawan datang. Semangat belajar hal baru yang mendorong mereka cepat menangkap ilmu. Hanya 3 jam mereka dikenalkan dengan Digital Single-Lens Reflex (DSLR) Canon 60D dan pernak-periknya. Anak-anak yang bertugas menjadi kamerawan dan sutradara mampu mengoperasikannya, meskipun masih harus didampingi secara intensif.

PARTISIPASI ANAK

Ide cerita adalah hasil diskusi penuh tawa dan perdebatan antara anak dan relawan. Menarik. Semua anak memiliki hak bersuara bahkan berbantah-bantahan dengan orang dewasa. Hal ini lumrah dalam proses menggali ide menarik dan menyamakan persepsi. Relawan tidak 24 jam berinteraksi dengan anak, sehingga memiliki keterbatasan informasi tentang aktivitas mereka.

Anak mengerjakan sesuatu setiap hari, sehingga menjadi rutinitas. Kegiatan yang berulang-ulang ini mereka anggap ‘biasa’ saja, tidak ada yang spesial. Semua yang tinggal di lapas mengalami hal yang sama. Dua kondisi ini dijembatani lewat diskusi aktif selama satu jam. Akhirnya, terdapat lima ide menarik mengenai apa yang mereka lakukan dengan sukacita selama di lapas. Dua di antaranya menjadi ide dasar penulisan cerita di film ini.

Diskusi bukan istilah baru bagi mereka. Namun, selama ini anak hanya diposisikan sebagai pendengar dan pengamin pendapat orang dewasa. Mereka kesulitan untuk mengeluarkan pendapat, meskipun itu bukan pendapat yang bersebrangan lho. Ada kekhawatiran di benak anak, bahwa pendapatnya salah atau tidak sesuai, sehingga mereka malu untuk menyampaikan. Di sinilah tantangan relawan untuk menjadi pendamping atau penutur.

Relawan harus mampu menempatkan diri sehingga anak berani mengelurkan pendapatnya. Memberikan ruang yang lebih besar pada ide atau gagasan anak. Sehingga anak tidak hanya sebagai obyek, tapi mengambil bagian aktif sebagai subyek. Konsep tangga partisipasi anak yang dikemukakan oleh Roger Hart adalah sebagai berikut :
1) Manipulatif.
2) Dekoratif. Misalnya anak menari di acara orang dewasa.
3) Tokenisme. Anak sebagai “stempel” persetujuan terhadap keputusan orang dewasa.
4) Ditugaskan, tapi tidak diinformasikan apa tujuan dari tugas tersebut.
5) Gagasan dikonsultasikan dan diinformasikan kepada anak, pelaksananya orang dewasa.
6) Inisiasi dari orang dewasa, namun keputusan diambil bersama anak.
7) Inisiasi dari anak dan diarahkan oleh orang dewasa.
8) Inisiasi berasal dari anak, kemudian diputuskan bersama orang dewasa.

Tangga partisipasi yang dibuat Hart membantu orang dewasa untuk mengevaluasi diri. Apakah anak sudah cukup diberi ruang partisipasi dalam kegiatan tersebut. Untuk tangga nomor 1 – 4, anak ditempatkan hanya sebagai obyek pelengkap saja. Anak tidak ditanya gagasan, ide, atau bahkan kebutuhannya.

Perkembangan sekarang, kegiatan yang melibatkan anak mulai menginjak pada tangga nomor 5-7. Ruang keikutsertaan aktif anak mulai tersedia. Harapannya hasil dari kegiatan yang dilaksanakan  dapat lebih sesuai dengan kebutuhan atau kepentingan anak. Orang dewasa memang pernah menjadi anak, namun tidak dapat menjamin gagasannya sesuai dengan kebutuhan anak sekarang.

Jaman telah berkembang, termasuk juga dunia anak. Partisipasi anak merupakan salah satu prinsip dasar dalam Konvensi Hak Anak, selain non diskriminasi, kepentingan terbaik anak, dan perlindungan anak. Bappenas pun mulai melibatkan anak dalam proses penyusunan program kerja pemerintah yang terkait pemenuhan hak anak. Kota Surakarta sejak tahun 2010 melibatkan forum anak dalam proses musrenbang.

FILM ANAK DI LAPAS

Behind The Scene 2

Syuting Film Cabe

Proses pembuatan film anak di Lapas Klas II B Klaten mengupayakan porsi partisipasi anak lebih besar daripada orang dewasa (relawan). Keterbatasan fasilitas, waktu, dan tata tertib internal menjadi tantangan tersendiri tanpa mengurangi keterlibatan anak. Di tengah syuting, beberapa anak mengalami ‘kegalauan’ ketika jam besuk dibuka. Mereka berharap dijenguk oleh orang tua/keluarganya. Namun, tidak semua harapan tersebut terwujud sehingga mood mereka pun kocar-kacir.

Prestasi besar bagi anak-anak di dalam Lapas Klas II B Klaten. Pertama kalinya mereka memproduksi film sendiri. Kekurangan di sana-sini. Revisi berkali-kali dalam penyuntingan gambar. Tantangan tersulit adalah menghindarkan close-up wajah mereka. Namun apa daya, masih terdapat gambar ‘bocor’. Topi yang disediakan pendampig kadang kala belum mampu menutupi wajah mereka.

Terkait identitas, sejak awal produksi telah ada kesepakatan untuk tidak menuliskan identitas mereka. Mereka lebih ingin dihargai karyanya daripada jati dirinya. Menarik sekali pernyataan mereka, karena hingga saat ini stigma negatif masih kerap disematkan masyarakat pada mereka. Melalui karya-karyanya, anak di Lapas Klaten ingin menunjukan bahwa mereka tak berbeda dengan anak lainnya. Mereka mampu menghasilkan film dalam keterbatasan ruang dan fasilitas.

 

Ditulis oleh Dian Sasmita
*selalu takjub dengan kreatifitas dan karya anak di lapas*

Sahabat Kapas adalah organisasi nonpemerintah dan nonprofit, yang berkedudukan di Karanganyar, Jawa Tengah.

Read More →
Exemple

Anak dan Buku, Pojok Baca Lapas Klaten

 Bagi (sebagian) anak, membaca buku adalah sebuah momok. Malas untuk mengikuti huruf-huruf yang teruntai menjadi kalimat. Namun,  bagi anak-anak di dalam Lapas buku bacan menjadi surga untuk mengenal dunia luar. Peristiwa diluar tembok tinggi penjara. Mengenang kembali pelajaran semasa di bangku sekolah, membangkitkan cita &  motivasi untuk berkarya.

Bagi anak di dalam Lapas, buku bukan barang murah. Untuk mendapatkan bacaan yang anak sukai, mereka harus mengerjakan pesanan sablon dulu. Sebagaian keuntungan dimanfaatkan membeli komik kesukaannya. Menghibur malam menjelang tidur atau sekedar teman di waktu luang.

banyak sekali buku-bukunya

banyak sekali buku-bukunya

Kini, pojok baca mereka dipenuhi tumpukan kardus berisi buku, pasca penayangan #Onjail di KickAndy-Metrotv. Pertama datang dua ratus buku dari KICKANDY FOUNDATION, sebagai bentuk dukungan peningkatan kreatifitas mereka. Kedua datang dari Perpustakaan Nasional di Jakarta 1.000 buku. Berasa masuk ke sebuah pabrik buku, 1.200 buku baru dengan beragam judul ada disana. Mulai dari ensiklopedi lengkap, motivasi, pengetahuan, keagamaan, novel, bahkan dongeng pun ada. Kami (relawan SahabatKapas) pun tak sabar mendaftarkan diri sebagai anggota pojok baca di Lapas Kelas II Klaten.

sampul menyampul :)

sampul menyampul 🙂

Kakak Dedik menemani menyampul buku

Kakak Dedik menemani menyampul buku

Perpustakaan Lapas Klaten-07

Surga Buku 🙂

Awal Desember 2013 lalu, teman-teman dari UMS dan UII Jogja yang tergabung dalam gerakan #GalangBuku dan #BengkelKertas datang membawa berkardus-kardus buku. Beragam bacaan diboyong untuk anak-anak di Lapas. Mereka Donasi buku adalah langkah awal membangun kepedulian mahasiswa kepada adik-adiknya yang berada di dalam sel penjara. Memilah buku, kemudian menyampuli dengan plastik menjadi kegiatan bersama di pojok baca. Sembari bercanda dan bertukar cerita tentang isi buku yang menarik.

#BengkelKertas dan #GalangBuku
foto bersama dengan teman-teman media

Teman-teman #GalangBuku dan #BengkelKertas

Kebiasaan membaca buku harus dibangun secara bertahap. Tak bisa dipaksakan dengan tiba-tiba kepada anak yang sebelumnya tidak pernah bersentuhan dengan buku. Di awali dengan menyampuli buku, membawa buku ke kamar, hingga diskusi tentang buku yang mereka baca. Bahkan Pak Julianto (Ka.Lapas Klaten) menyampaikan rencananya untuk membuat hari buku sekali dalam seminggu untuk seluruh warga Lapas, petugas dan warga binaan. Ide keren!!

pengarahan dari Ka.Lapas Kelas II Klaten

pengarahan dari Ka.Lapas Kelas II Klaten

Yuks mari dukung kegiatan membaca anak-anak di Lapas. Tak hanya di Lapas Klaten saja, Lapas-Lapas lainnya pun ada anak yang (pastinya) membutuhkan bacaan. Mereka perlu dukungan kita untuk menghasilkan karya kreatif dan menggapai masa depan lebih semangat. Kreatifitas tidak jatuh dari langit, tapi dapat hadir lewat bahan bacaan yang berkualitas.

Selamat membaca buku J

-diansasmita-

Sahabat Kapas adalah organisasi nonpemerintah dan nonprofit, yang berkedudukan di Karanganyar, Jawa Tengah.

Read More →
Exemple

Langkah Baru di Ujung 2013

sebuah catatan singkat pengalaman hebat di akhir tahun

Jalan Tuhan

Rasa tak percaya masih hinggap, meski telah lewat 3 minggu sejak pengambilan gambar di Jakarta. Ratusan ucapan selamat dan dukungan hilir mudik lewat telepon, SMS, email, dan status twitter dan facebook . Semua memberikan perhatian, dan saya masih tak kuasa menahan rasa takjub ini. Terlebih setelah penayangan di layar kaca.

Lebih dari tiga tahun saya sekeluarga memutuskan hidup tanpa teve. Namun karena program spesial di jumat malam itu, saya dan suami memutuskan mengungsi ke pos ronda depan rumah. Kebetulan di sana tersedia teve 21” dengan kanal Metrotv yang jernih. Siaran Kick Andy dimulai pukul 21.30 dan ditemani semilir angin malam, pos ronda terasa milik kami saja.

Ya, malam itu kami menikmati kehadiran Sahabat Kapas dan karya #Onjail perdana di layar teve dengan durasi lebih dari dua menit. Berkah yang luar biasa. Ada rasa haru ketika melihat diri sendiri di balik layar kaca. Menangis karena (ternyata) ada yang tertarik dengan karya #Onjail. Benar kata Mbak Anastasia (produser Kick Andy) “Ini semua jalan Tuhan, Mbak”. Kata sederhana yang meluncur pasca saya turun panggung dengan segunung air mata yang tertahan. Tak ada kata yang meluncur dari mulut ini selain Alhamdulillah dan terima kasih.

Banyak pertanyaan bagaimana Sahabat Kapas bisa hadir di program keren Kick Andy_Metrotv. Jawabanya sangat simple. Semua karena karya anak-anak di Lapas , karena #OnJail. Merekalah yang menghantarkan kami dikenal banyak pihak, di sms banyak orang. Semua datang karena kerja keras anak-anak dan relawan Sahabat Kapas.

Panggilan untuk berpartisipasi di acara Kick Andy terbilang singkat. Jumat sore kami di telepon, sabtu siang hingga minggu proses pengambilan gambar. Selasa sudah berangkat ke studio Metrotv di Jakarta. Mulai sabtu hingga selasa, kami jumpalitan dengan berbagai jurus. Mulai dari angkut kain 75meter dari Solo ke Klaten. Lembur potong kain di dalam Lapas ditemani petugas sipir dan napi, hingga lupa makan yang mendatangkan lemas lunglai. Masih berkejaran dengan para penjahit di beberapa tempat. Untuk urusan sablon terselamatkan oleh mentor yang baik hati (Mas Ikrom) dan survivor yang sudah berkarya di masayarakat. Semua ikut lembur, ikut pontang panting. Demi pesanan 150 tas belacu special bagi (sebagian) penonton Kick Andy di studio.

Setiba di gedung Metrotv, semua menyambut dengan ramah. Mulai dari bapak driver, petugas security, catering, hingga semua kru dari Kick Andy. Sejak di lantai dasar, kerumunan anak muda dihibur dengan band menyanyikan lagu-lagu popular. Dada ini mulai berdebar, “wah kok yang nonton banyak juga ya”, bisik saya ke suami yang turut menemani. Di lantai dua, kami diarahkan untuk mengisi perut dengan beragam sajian. Saya bertemu dengan Mbak Cindy (Tim Kick Andy) yang sebelumnya telah melakukan wawancara super duper detil (tiga jam lebih) lewat telepon. Menyapa Mbak Anas, sang produser yang sabar sekali. Bercanda dengan Mas Rojih yang ramah dan usil dengan suami. “Ayo wajib makan, dietnya ditinggalkan saja. Nanti masuk angin, syuting sampai malam soalnya” seloroh Mas Rojih ‘Khan’, hahahaha

Santap sore itu mendekatkan saya dengan dua narasumber lainnya. Mereka ibu-ibu hebat dengan karyanya bersama penyandang disabilitas. Pengabdian puluhan tahunnya menjadi surga belajar saya yang bukan apa-apanya dibanding mereka. Ibu Asti dan Ibu Rosida dari Wonosobo, serta Ibu Titik dari Surabaya. Ah saya kembali jadi ngeper sendiri. Untuk menenangkan hati, saya turut sholat berjamaah dengan Mas Ikrom yang diundang juga oleh Kick Andy.

Sebuah produksi program ternyata tak sesimpel yang kita lihat di teve. Saya harus manut di-make up khusus (bocoran: ini make up pertama saya setelah menikah pada tahun 2007 silam) . Hasilnya, banyak teman dan saudara yang pangling, hahaha. Acara berikutnya adalah briefing sebelum pengambilan gambar. Kala itulah pertama kalinya saya berjabat tangan dengan Pak Andy F Noya. Beliau sangat ramah dan paham dengan kegrogian saya, sehingga guyonan terus meluncur. Bagaimana tidak grogi, 5 menit sebelum masuk studio baru dikabari saya masuk segmen pertama. Alamakkkk!!

Yah masuklah saya ke studio yang ternyata sudah penuh dengan penonton. Bukan 150 orang seperti jumlah tas yang saya bawa, tapi 750 orang. WOW! Rasanya sudah campur aduk. Datanglah Mas Hadi yang kemudian mengantarkan saya naik ke panggung dan tralaaaa…..lampu dan kamera serasa menghujani tubuh ini. Blank seketika. Nah, sekarang tahu kan kenapa tingkah saya agak canggung. Selama break, Pak Andy selalu melontarkan dagelannya yang membuat saya lebih rileks.

Perjuangan Dimulai

Banyak yang tak tahu, bahkan keluarga dekat, apa yang telah kami lewati, apa yang telah kami lakukan. Itu adalah hal lumrah. Banyak orang yang melakukan pengorbanan lebih besar dari yang telah kami lakukan. Kenapa lumrah? Karena kami mencintai aktifitas ini. Bukan gaji atau pujian yang kami kejar, tapi melihat anak-anak itu dapat berkarya di tengah keluarga dan masayarakat sudah membuat kami bungah. Sederhana tapi rasa ini membuat candu. Sahabat Kapas dengan relawannya yang ‘militan’.

Tampil di Kick Andy bukan tujuan akhir. Kesempatan emas ini adalah pintu bagi kami untuk berkarya lebih luas lagi. Meluas kreasi karyanya, meluas jangkauan  anak-anak di Lapas /rutan lainnya, meluas jaringan kerja perlindungan anak, dan pastinya meluas berkahnya utuk semua.

Empat tahun belajar dengan anak-anak di balik jeruji besi, memberi banyak inspirasi. Kami harus banyak berbuat dan berpikir. Tidak hanya diam dan melihat apa yang mereka rasakan. Tapi turun langsung dan berdiskusi dengan mereka untuk mencari solusi terbaik untuk mereka. Anak-anak ini bukan aib. Mereka adalah pejuang yang terhormat. Mereka menerima hukumannya (yang tidak sebetar), berjuang menerima keadaan yang 180’ berbeda dengan di rumah. Dan masih semangat menghasilkan karya dengan keterbatasan yang ada.

Akhir tahun 2013, kami terbantu sekali lewat Program Kick Andy. Tidak hanya lewat dukungan buku, tapi kami telah diijinkan mengenal dunia lebih luas. Berkenalan dengan pribadi-pribadi hebat seperti Pak Setiawan Ambardy dari Yay. Kesetiakawanan & Kepedulian Sosial; Mbak Devi Suradji dari WWF-Indonesia; dan Pak Ali Sadikin dari Kick Andy Foundation.

Proses 5 hari itu membawa kami ke proses refleksi akhir tahun 2013. Sahabat Kapas menjadi seperti sekarang dan berkembang karena dukungan para relawan dan mentor yang tiada tara. Imbalan materi tidak mereka terima, tapi berkah Tuhan yang tak berbatas menjadi balasan mereka. Pujian, perhatian, dan dukungan yang mengalir deras, hanya patut diberikan bagi anak-anak yang berada di dalam rumah penahanan. Merekalah guru terbaik bagi kami para pekerja sosial. Kehidupan merekalah sumber inspirasi kami.

Terima kasih anak-anak hebat. Kalian yang (sementara ini) berada di balik terali besi jangan pernah putus asa. Karya besarmu dinanti.

Dian Sasmita

IMG_0718

terimakasih kepada semua pihak yang terkait untuk setiap apresiasi yang telah diberikan kepada kami

IMG_0768

keharuan melingkupi saya, mata berkaca-kaca menahan haru, sekali lagi terimaksih 🙂

Terimakasih sudah diberi kesempatan untuk berjumpa dengan Bapak Setiawan Ambardy

Kesempatan berjumpa dan berfoto bersama dengan Bapak Setiawan Ambardy dari Yayasan Kesetiakawanan & Kepedulian Sosial

IMG_0911

Bersama tutor Sablon yang keren, Mas Ikrom; Pak Andy F Noya. Produk Onjail yang keren Tas dan Kaos 🙂

IMG_0948

Foto bersama teman-teman WWF seusai taping.

Sahabat Kapas adalah organisasi nonpemerintah dan nonprofit, yang berkedudukan di Karanganyar, Jawa Tengah.

Read More →