Exemple

“Leadership is not about titles, positions, or flow charts. It is about one life influencing another”  – John C. Maxwell

 

Sahabat Kapas (diwakili Dian Sasmita) sangat beruntung mendapat kesempatan belajar mengenai Active Citizen for Social Enterprise yang diselenggarakan oleh British Council dan Fakultas Ekonomi UGM pada awal 2018 lalu. Active citizen adalah program pelatihan kepemimpinan sosial yang mempromosikan dialog antarbudaya dan pembangunan sosial, serta diinisiasi oleh masyarakat/komunitas. Program ini telah berjalan lebih dari sembilan tahun di 68 negara (dicuplik dari laman Facebook British Council Indonesia).

Pelatihan selama empat hari tersebut banyak membuka mata tentang esensi dari usaha sosial yang berbeda jauh dengan usaha bisnis murni. Nilai yang berdampak secara sosial dan lingkungan adalah hal yang istimewa Continue reading Tunggu Kehadiran #GerobakKopiOnjail Segera

Read More →
Exemple

Sahabat Kapas bersama Rutgers WPF Indonesia bekerja sama dan Kementerian Hukum dan HAM RI (Kemenkumham RI) menyelenggarakan Pelatihan Psikoedukasi Berbasis Gender untuk Anak Berkonflik dengan Hukum pada 6-9 Agustus 2018 di Kota Tangerang, Banten. Pelatihan ini diikuti oleh tiga anggota Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjen PAS), tiga petugas LPKA Tangerang, tiga petugas LPKA Kutoarjo, dan masing-masing satu orang perwakilan dari Kantor Wilayah Kemenkumham Provinsi Banten, Jawa Tengah dan DKI Jakarta.

Diadakannya pelatihan psikoedukasi ini dilatarbelakangi oleh semakin meningkatnya kasus anak yang berhadapan dengan hukum. Tercatat, per Agustus 2018, terdapat 3.647 orang anak yang terpaksa tinggal di lembaga pembinaan, baik di LPKA, lapas, maupun rumah tahanan. Salah satu kasus yang mendominasi dan terjadi di beberapa daerah adalah kasus kekerasan seksual. Oleh karena itu, dalam pelatihan ini, para peserta diajak mengenali konseling kelompok bagi anak pelaku kekerasan seksual.

Dalam pelatihan ini, peserta mendapat sekilas gambaran mengenai hak anak dan perlindungannya. Peserta juga dikenalkan dengan konsep membangun nilai-nilai dasar menjadi lelaki berdasarkan tokoh idola. Tidak hanya itu, peserta juga diajak mengenal perbedaan seks dan gender dengan metode bermain peran menggunakan media boneka. Seperti yang kita ketahui, bekerja dengan dan untuk anak berbeda dengan bekerja pada umumnya. Bekerja untuk anak mebutuhkan teknik khusus yang disebut playfulness agar seseorang dapat membaur dengan anak. Teknik ini sangat dibutuhkan terutama bagi para petugas lembaga dengan kondisi anak-anak yang memang memerlukan perhatian dan penanganan khusus.

Hal lain yang juga diperhatikan dalam penanganan anak-anak di dalam lembaga adalah masalah kesehatan seksual dan reproduksi. Untuk hal ini, peserta pelatihan diminta untuk menggambar organ seksual dan reproduksi perempuan dan laki-laki, serta hal-hal apa saja yang menyebabkan organ tersebut rusak. Selain itu, peserta juga dikenalkan dengan kekerasan berbasis gender (gender-based violence), yakni istilah yang digunakan untuk merangkum kekerasan yang terjadi akibat ekspetasi peran normatif terkait jenis kelamin dalam masyarakat. Kekerasan berbasis gender sejatinya bisa terjadi pada semua orang, termasuk anak-anak. Pemahaman komprehensif mengenai hal ini tentu dibutuhkan dalam penanganan kasus anak.

Sesi role play konseling./ (Dok. Pribadi)

Hal yang paling ditunggu-tunggu selama pelatihan berlangsung adalah sesi konseling. Dalam sesi ini, fasilitator menjelaskan tentang dasar-dasar konseling. Kemudian, peserta diminta untuk bermain peran (role play). Peserta harus berpasang-pasangan, satu orang sebagai klien dan satu orang sebagai konselor. Selain konseling individu, peserta juga dikenalkan dengan konseling kelompok yang memiliki tantangan lebih besar. Hal ini karena klien yang dihadapi lebih dari satu dan cenderung memiliki pengalaman hidup beragam. Untuk konseling kelompok, peserta dilibatkan dalam sebuah role play yang dipandu oleh fasilitator sebagai konselornya untuk memeragakan teknik konseling kelompok.

Para petugas yang mengikuti pelatihan konseling ini diharapkan dapat melaksanakan kegiatan konseling kelompok di LPKA masing-masing. Sahabat Kapas bersama Rutgers WPF Indonesia akan memberi dukungan di LPKA Kutoarjo dan LPKA Tangerang dalam pelaksanaan kegiatan tersebut. Kegiatan akan dilaksanakan sebanyak 12 kali pertemuan pada 10 anak di masing-masing LPKA dimulai pada September 2018.

Pecinta Anak dan Kopi Arabica. Belajar Hukum di Universitas Sebelas Maret Surakarta dan telah menyelesaikannya. Belajar kehidupan di Dunia namun belum menyelesaikannya.

Read More →
Exemple

Oleh Evi Baiturohmah

(Manajer Program Rehabilitasi AKH Sahabat Kapas)

 

Direktur Sahabat Kapas, Dian Sasmita, dalam acara penguatan kapasitas tentang Buku Panduan Reintegrasi AKH bagi Penyedia Layanan yang diselenggarakan oleh Yayasan BaKti dan UNICEF Indonesia di Makassar. (Evi Baiturohmah)

 

Sahabat Kapas berkesempatan turut serta dalam dua kegiatan terkait isu anak berkonflik dengan hukum (AKH) pada akhir November 2017 di Makassar, Sulawesi Selatan. Mewakili Sahabat Kapas, Dian Sasmita selaku Direktur Sahabat Kapas menjadi salah satu narasumber dalam lokakarya “Pengembangan Layanan Perlindungan Khusus Anak (PKA) Terpadu di Lapas Kelas II Kabupaten Maros” yang diselenggarakan oleh Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinas PPPA) Provinsi Sulawesi Selatan. Selain itu, di Makassar, Sahabat Kapas juga turut menghadiri peningkatan kapasitas tentang Buku Panduan Reintegrasi AKH bagi Penyedia Layanan yang diselenggarakan oleh Yayasan BaKti dan UNICEF Indonesia.

Tak Sekadar Pembekalan Keterampilan

Dalam kesempatan berbicara di depan pemegang kebijakan dan penyedia layanan anak di Makassar, Dian menjelaskan praktik menjanjikan Sahabat Kapas yang sudah dilaksanakan di empat lokasi di rutan/lapas/LPKA di Jawa Tengah. Selama tujuh tahun mendampingi anak yang berhadapan dengan hukum, Dian melihat bahwa tren pendampingan anak yang ada selama ini lebih difokuskan pada pelatihan keterampilan bernilai ekonomis. Hal ini dilakukan dengan harapan anak memiliki bekal keterampilan yang akan membantu untuk proses reintegrasi di masyarakat dan dapat digunakan untuk memperbaiki kualitas ekonomi anak. Akan tetapi, banyak ditemui kasus di mana anak tetap melakukan tindakan residivisme pasca bebas meskipun telah mendapat pembekalan keterampilan.

Dari pengalaman dan observasi lebih mendalam, Sahabat Kapas melihat kurangnya porsi pemulihan psikologis anak di dalam lapas/rutan/LPKA. Mayoritas anak yang melanggar hukum adalah mereka yang mempunyai latar belakang disfungsi keluarga. Banyak dari AKH hidup dan tumbuh di lingkungan yang keras dan minim kasih sayang sehingga mereka akhirnya membuat pilihan yang salah. Kondisi psikologis anak yang terluka inilah yang sebenarnya memicu tindakan anak menyimpang dari norma hukum dan masyarakat. Akan tetapi, dalam konteks rehabilitasi anak, praktik di lapangan menunjukkan bahwa hanya sedikit penyedia layanan yang kemudian memberi intervensi pada masalah luka batin (psikologis) anak. Padahal, anak-anak tersebut telah kehilangan banyak afeksi dari orang terdekat, sehingga anak asing dengan nilai-nilai positif dan norma yang berlaku di masyarakat.

Dengan mempertimbangkan situasi tersebut, sejak akhir tahun 2015, Sahabat Kapas menekankan pendampingan anak melalui pendekatan psikososial, yakni memberi porsi lebih pada pemulihan psikis dan peningkatan keterampilan psikososial anak. Selama dua tahun lebih berjalan, banyak hasil positif yang dapat dilihat pada anak dampingan, seperti perubahan positif perilaku anak dan kesiapan anak kembali ke masyarakat (resiliensi).

Menyentuh Hati dengan Hati

Berinteraksi langsung dengan para penyedia layanan perlindungan anak di Makassar, Dian juga menggarisbawahi pentingnya bekerja dengan prinsip kepentingan terbaik bagi anak dengan mengesampingkan ego sektoral. Penyedia layanan mempunyai peran vital untuk membangun sistem perlindungan anak yang komprehensif. Dengan adanya sistem layanan yang kuat serta buku panduan sebagai pelengkap, diharapkan anak-anak ini bisa pulih dan kembali sebagai anggota masyarakat yang baik. Namun demikian, di atas aspek birokrasi dan prosedural, ada yang lebih penting dan harus dijaga oleh para pendamping anak, yakni kesehatan hati. Dian menyampaikan bahwa kerja perlindungan anak bukan hanya kerja birokrasi melainkan kerja hati.

Untuk mengubah perilaku anak, kita harus menyentuh hati mereka, dan untuk menyentuh hati hanya bisa dilakukan oleh hati.

Selama di Makassar, Dian dan Evi Baiturohmah selaku Manajer Program Rehabilitasi AKH Sahabat Kapas juga berkesempatan bertemu dan berinteraksi langsung dengan anak-anak di Lapas Kelas II Maros sekaligus mengunjungi layanan yang tersedia di sana. Masalah yang ditemui di Lapas Maros tidak jauh berbeda dengan masalah lapas/rutan/LPKA di Jawa Tengah, yakni banyak anak yang jauh dari keluarga. Anak-anak yang terpaksa tinggal di Lapas Maros dan berasal dari daerah yang sangat jauh seringkali tidak mendapat kunjungan orang tua karena satu dan lain hal. Padahal, orang tua adalah faktor vital dalam upaya rehabilitasi anak.

Kondisi anak yang jauh dari orang tua ini menjadi tantangan bagi penyedia layanan baik dari pemerintah atau swasta untuk memberikan intervensi yang tepat. Pendekatan psikososial akan menjadi langkah yang efektif untuk memulihkan beban psikis mereka. Pendekatan psikososial dapat dilakukan dengan memberikan pendampingan melalui konseling rutin maupun aktivitas kelompok kreatif untuk meningkatkan resiliensi anak.

Sahabat Kapas adalah organisasi nonpemerintah dan nonprofit, yang berkedudukan di Karanganyar, Jawa Tengah.

Read More →