Anak dan Buku, Pojok Baca Lapas Klaten

 Bagi (sebagian) anak, membaca buku adalah sebuah momok. Malas untuk mengikuti huruf-huruf yang teruntai menjadi kalimat. Namun,  bagi anak-anak di dalam Lapas buku bacan menjadi surga untuk mengenal dunia luar. Peristiwa diluar tembok tinggi penjara. Mengenang kembali pelajaran semasa di bangku sekolah, membangkitkan cita &  motivasi untuk berkarya.

Bagi anak di dalam Lapas, buku bukan barang murah. Untuk mendapatkan bacaan yang anak sukai, mereka harus mengerjakan pesanan sablon dulu. Sebagaian keuntungan dimanfaatkan membeli komik kesukaannya. Menghibur malam menjelang tidur atau sekedar teman di waktu luang.

banyak sekali buku-bukunya
banyak sekali buku-bukunya

Kini, pojok baca mereka dipenuhi tumpukan kardus berisi buku, pasca penayangan #Onjail di KickAndy-Metrotv. Pertama datang dua ratus buku dari KICKANDY FOUNDATION, sebagai bentuk dukungan peningkatan kreatifitas mereka. Kedua datang dari Perpustakaan Nasional di Jakarta 1.000 buku. Berasa masuk ke sebuah pabrik buku, 1.200 buku baru dengan beragam judul ada disana. Mulai dari ensiklopedi lengkap, motivasi, pengetahuan, keagamaan, novel, bahkan dongeng pun ada. Kami (relawan SahabatKapas) pun tak sabar mendaftarkan diri sebagai anggota pojok baca di Lapas Kelas II Klaten.

sampul menyampul :)
sampul menyampul 🙂
Kakak Dedik menemani menyampul buku
Kakak Dedik menemani menyampul buku
Perpustakaan Lapas Klaten-07
Surga Buku 🙂

Awal Desember 2013 lalu, teman-teman dari UMS dan UII Jogja yang tergabung dalam gerakan #GalangBuku dan #BengkelKertas datang membawa berkardus-kardus buku. Beragam bacaan diboyong untuk anak-anak di Lapas. Mereka Donasi buku adalah langkah awal membangun kepedulian mahasiswa kepada adik-adiknya yang berada di dalam sel penjara. Memilah buku, kemudian menyampuli dengan plastik menjadi kegiatan bersama di pojok baca. Sembari bercanda dan bertukar cerita tentang isi buku yang menarik.

#BengkelKertas dan #GalangBuku
foto bersama dengan teman-teman media
Teman-teman #GalangBuku dan #BengkelKertas

Kebiasaan membaca buku harus dibangun secara bertahap. Tak bisa dipaksakan dengan tiba-tiba kepada anak yang sebelumnya tidak pernah bersentuhan dengan buku. Di awali dengan menyampuli buku, membawa buku ke kamar, hingga diskusi tentang buku yang mereka baca. Bahkan Pak Julianto (Ka.Lapas Klaten) menyampaikan rencananya untuk membuat hari buku sekali dalam seminggu untuk seluruh warga Lapas, petugas dan warga binaan. Ide keren!!

pengarahan dari Ka.Lapas Kelas II Klaten
pengarahan dari Ka.Lapas Kelas II Klaten

Yuks mari dukung kegiatan membaca anak-anak di Lapas. Tak hanya di Lapas Klaten saja, Lapas-Lapas lainnya pun ada anak yang (pastinya) membutuhkan bacaan. Mereka perlu dukungan kita untuk menghasilkan karya kreatif dan menggapai masa depan lebih semangat. Kreatifitas tidak jatuh dari langit, tapi dapat hadir lewat bahan bacaan yang berkualitas.

Selamat membaca buku J

-diansasmita-

Relawan Sahabat Kapas

relawan

Relawan Sahabat Kapas

Dian Sasmita
Dian Sasmita, sejak tahun 2000 tinggal di Solo. Mengenyam pendidikan hukum di Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta dan lulus th.2004. Tahun 2007 telah lulus sertifikasi sebagai pengacara dan mulai berpraktek dengan fokus pada isu perempuan dan anak. Kini, status utamanya sebagai ibu rumah tangga yang hobi mencoba resep makanan dengan sidejob sebagai penggiat hak anak, khususnya anak-anak kondisi khusus dan rentan. Spesialnya anak di dalam rumah penahanan. Sebagai pengisi hari libur, ia sering gowes dengan sepeda lipat kesayangannya. Posisinya di Sahabat Kapas sebagai direktur dan saat ini sedang menempuh studi program magister hukum kebijakan publik di UNS. Silakan kontak dia di @dianmiyoto

          

        

indha
Mbak Indha, sosok keibuan yang mampu memahami anak dalam kondisi khusus dan rentan. Beliau adalah Psikolog andalan Sahabat Kapas. Beliau adalah dosen di salah satu Universitas Swasta di Solo, di sela-sela kesibukannya sebagai dosen dan ibu rumah tangga, beliau masih menyempatkan diri untuk mendampingi anak-anak di dalam penjara. Kontak beliau di Indha Syailan.
mas yoyon
Kartika Bagus Cahyono, berkiprah sebagai pekerja media sejak tahun 1997. Sering bersinggungan dengan isu anak, mengasah kepekaannya. Tahun 2009, mulai mendukung Sahabat Kapas sebagai konsultan bidang publikasi. Memberikan warna dalam proses kegiatan melalui ketrampilannya dalam audio visual dengan memberikan berbagai pelatihan membuat video untuk anak-anak di dalam maupun di luar penjara.

     

evi
Evi Baiturohmah, gadis asal kota Reog ini paling jago cas-cis-cus pakai bahasa Inggris. Dia adalah mata tombak Sahabat Kapas dalam urusan publikasi dan media. Sedang berusaha menyelesaikan masa belajarnya sebagai mahasiswa jurusan Sastra Inggris di Universitas Sebelas Maret. Evi, begitu sapaan akrabnya sudah kurang lebih 1 tahun menjadi volunteer di Sahabat Kapas.
bungsu
Bungsu Ratih Puspito Rini, lahir di Pati yang saat ini sedang menempuh skripsi untuk studi S1nya di UNS jurusan Sastra Jawa. Bungsu, begitu ia sering disapa sudah setahun ini bergabung dengan Sahabat Kapas dan mulai tertarik dengan isu anak. Bertemu dan berinteraksi dengan anak-anak adalah mood booster yang membuat semangatnya bertambah berkali-kali lipat.

 

Indri
Dyah Indria Kusuma Wardani, lahir dan besar di Bogor tapi kini meratau di Surakarta untuk mengenyam pendidikan tinggi di salah satu universitas swasta di Surakarta. Sembari mengisi waktu luang selepas kuliah, Indri (sapaan akrabnya) melakoni beragam kegiatan sosial bersama teman-teman kampusnya. Bergabung dengan Sahabat Kapas menurutnya merupakan pengalaman yang tiada bandingannya. Rutin setiap minggu hadir ke penjara adalah kesenangan tak tertandingi.
dedik
Kakak Dedik, sebutan sayang lelaki bernama lengkap Dedik Setiyawan. Baru saja mendapatkan gelar S.H disela-sela kesibukannya mendampingi anak. Ia bertugas untuk mendampingi anak, dalam proses penyelesaian kasus, pasca penyelesaian kasus maupun anak-anak yang terpaksa berada di dalam penjara. Ia hobi naik gunung dan traveling.

Langkah Baru di Ujung 2013

sebuah catatan singkat pengalaman hebat di akhir tahun

Jalan Tuhan

Rasa tak percaya masih hinggap, meski telah lewat 3 minggu sejak pengambilan gambar di Jakarta. Ratusan ucapan selamat dan dukungan hilir mudik lewat telepon, SMS, email, dan status twitter dan facebook . Semua memberikan perhatian, dan saya masih tak kuasa menahan rasa takjub ini. Terlebih setelah penayangan di layar kaca.

Lebih dari tiga tahun saya sekeluarga memutuskan hidup tanpa teve. Namun karena program spesial di jumat malam itu, saya dan suami memutuskan mengungsi ke pos ronda depan rumah. Kebetulan di sana tersedia teve 21” dengan kanal Metrotv yang jernih. Siaran Kick Andy dimulai pukul 21.30 dan ditemani semilir angin malam, pos ronda terasa milik kami saja.

Ya, malam itu kami menikmati kehadiran Sahabat Kapas dan karya #Onjail perdana di layar teve dengan durasi lebih dari dua menit. Berkah yang luar biasa. Ada rasa haru ketika melihat diri sendiri di balik layar kaca. Menangis karena (ternyata) ada yang tertarik dengan karya #Onjail. Benar kata Mbak Anastasia (produser Kick Andy) “Ini semua jalan Tuhan, Mbak”. Kata sederhana yang meluncur pasca saya turun panggung dengan segunung air mata yang tertahan. Tak ada kata yang meluncur dari mulut ini selain Alhamdulillah dan terima kasih.

Banyak pertanyaan bagaimana Sahabat Kapas bisa hadir di program keren Kick Andy_Metrotv. Jawabanya sangat simple. Semua karena karya anak-anak di Lapas , karena #OnJail. Merekalah yang menghantarkan kami dikenal banyak pihak, di sms banyak orang. Semua datang karena kerja keras anak-anak dan relawan Sahabat Kapas.

Panggilan untuk berpartisipasi di acara Kick Andy terbilang singkat. Jumat sore kami di telepon, sabtu siang hingga minggu proses pengambilan gambar. Selasa sudah berangkat ke studio Metrotv di Jakarta. Mulai sabtu hingga selasa, kami jumpalitan dengan berbagai jurus. Mulai dari angkut kain 75meter dari Solo ke Klaten. Lembur potong kain di dalam Lapas ditemani petugas sipir dan napi, hingga lupa makan yang mendatangkan lemas lunglai. Masih berkejaran dengan para penjahit di beberapa tempat. Untuk urusan sablon terselamatkan oleh mentor yang baik hati (Mas Ikrom) dan survivor yang sudah berkarya di masayarakat. Semua ikut lembur, ikut pontang panting. Demi pesanan 150 tas belacu special bagi (sebagian) penonton Kick Andy di studio.

Setiba di gedung Metrotv, semua menyambut dengan ramah. Mulai dari bapak driver, petugas security, catering, hingga semua kru dari Kick Andy. Sejak di lantai dasar, kerumunan anak muda dihibur dengan band menyanyikan lagu-lagu popular. Dada ini mulai berdebar, “wah kok yang nonton banyak juga ya”, bisik saya ke suami yang turut menemani. Di lantai dua, kami diarahkan untuk mengisi perut dengan beragam sajian. Saya bertemu dengan Mbak Cindy (Tim Kick Andy) yang sebelumnya telah melakukan wawancara super duper detil (tiga jam lebih) lewat telepon. Menyapa Mbak Anas, sang produser yang sabar sekali. Bercanda dengan Mas Rojih yang ramah dan usil dengan suami. “Ayo wajib makan, dietnya ditinggalkan saja. Nanti masuk angin, syuting sampai malam soalnya” seloroh Mas Rojih ‘Khan’, hahahaha

Santap sore itu mendekatkan saya dengan dua narasumber lainnya. Mereka ibu-ibu hebat dengan karyanya bersama penyandang disabilitas. Pengabdian puluhan tahunnya menjadi surga belajar saya yang bukan apa-apanya dibanding mereka. Ibu Asti dan Ibu Rosida dari Wonosobo, serta Ibu Titik dari Surabaya. Ah saya kembali jadi ngeper sendiri. Untuk menenangkan hati, saya turut sholat berjamaah dengan Mas Ikrom yang diundang juga oleh Kick Andy.

Sebuah produksi program ternyata tak sesimpel yang kita lihat di teve. Saya harus manut di-make up khusus (bocoran: ini make up pertama saya setelah menikah pada tahun 2007 silam) . Hasilnya, banyak teman dan saudara yang pangling, hahaha. Acara berikutnya adalah briefing sebelum pengambilan gambar. Kala itulah pertama kalinya saya berjabat tangan dengan Pak Andy F Noya. Beliau sangat ramah dan paham dengan kegrogian saya, sehingga guyonan terus meluncur. Bagaimana tidak grogi, 5 menit sebelum masuk studio baru dikabari saya masuk segmen pertama. Alamakkkk!!

Yah masuklah saya ke studio yang ternyata sudah penuh dengan penonton. Bukan 150 orang seperti jumlah tas yang saya bawa, tapi 750 orang. WOW! Rasanya sudah campur aduk. Datanglah Mas Hadi yang kemudian mengantarkan saya naik ke panggung dan tralaaaa…..lampu dan kamera serasa menghujani tubuh ini. Blank seketika. Nah, sekarang tahu kan kenapa tingkah saya agak canggung. Selama break, Pak Andy selalu melontarkan dagelannya yang membuat saya lebih rileks.

Perjuangan Dimulai

Banyak yang tak tahu, bahkan keluarga dekat, apa yang telah kami lewati, apa yang telah kami lakukan. Itu adalah hal lumrah. Banyak orang yang melakukan pengorbanan lebih besar dari yang telah kami lakukan. Kenapa lumrah? Karena kami mencintai aktifitas ini. Bukan gaji atau pujian yang kami kejar, tapi melihat anak-anak itu dapat berkarya di tengah keluarga dan masayarakat sudah membuat kami bungah. Sederhana tapi rasa ini membuat candu. Sahabat Kapas dengan relawannya yang ‘militan’.

Tampil di Kick Andy bukan tujuan akhir. Kesempatan emas ini adalah pintu bagi kami untuk berkarya lebih luas lagi. Meluas kreasi karyanya, meluas jangkauan  anak-anak di Lapas /rutan lainnya, meluas jaringan kerja perlindungan anak, dan pastinya meluas berkahnya utuk semua.

Empat tahun belajar dengan anak-anak di balik jeruji besi, memberi banyak inspirasi. Kami harus banyak berbuat dan berpikir. Tidak hanya diam dan melihat apa yang mereka rasakan. Tapi turun langsung dan berdiskusi dengan mereka untuk mencari solusi terbaik untuk mereka. Anak-anak ini bukan aib. Mereka adalah pejuang yang terhormat. Mereka menerima hukumannya (yang tidak sebetar), berjuang menerima keadaan yang 180’ berbeda dengan di rumah. Dan masih semangat menghasilkan karya dengan keterbatasan yang ada.

Akhir tahun 2013, kami terbantu sekali lewat Program Kick Andy. Tidak hanya lewat dukungan buku, tapi kami telah diijinkan mengenal dunia lebih luas. Berkenalan dengan pribadi-pribadi hebat seperti Pak Setiawan Ambardy dari Yay. Kesetiakawanan & Kepedulian Sosial; Mbak Devi Suradji dari WWF-Indonesia; dan Pak Ali Sadikin dari Kick Andy Foundation.

Proses 5 hari itu membawa kami ke proses refleksi akhir tahun 2013. Sahabat Kapas menjadi seperti sekarang dan berkembang karena dukungan para relawan dan mentor yang tiada tara. Imbalan materi tidak mereka terima, tapi berkah Tuhan yang tak berbatas menjadi balasan mereka. Pujian, perhatian, dan dukungan yang mengalir deras, hanya patut diberikan bagi anak-anak yang berada di dalam rumah penahanan. Merekalah guru terbaik bagi kami para pekerja sosial. Kehidupan merekalah sumber inspirasi kami.

Terima kasih anak-anak hebat. Kalian yang (sementara ini) berada di balik terali besi jangan pernah putus asa. Karya besarmu dinanti.

Dian Sasmita

IMG_0718
terimakasih kepada semua pihak yang terkait untuk setiap apresiasi yang telah diberikan kepada kami
IMG_0768
keharuan melingkupi saya, mata berkaca-kaca menahan haru, sekali lagi terimaksih 🙂
Terimakasih sudah diberi kesempatan untuk berjumpa dengan Bapak Setiawan Ambardy
Kesempatan berjumpa dan berfoto bersama dengan Bapak Setiawan Ambardy dari Yayasan Kesetiakawanan & Kepedulian Sosial
IMG_0911
Bersama tutor Sablon yang keren, Mas Ikrom; Pak Andy F Noya. Produk Onjail yang keren Tas dan Kaos 🙂
IMG_0948
Foto bersama teman-teman WWF seusai taping.

Fusce a ante nisl imperdiet. Nunc imperdiet iaculis augue nec porta! Phasellus congue sapien eget libero ornare lobortis. Aliquam sit amet nulla velit, in posuere tellus orci lorem.
John Doe

Asa untuk Anak-Anak Di balik Terali Besi

ASA UNTUK ANAK-ANAK DI BALIK TERALI BESI

A. Situasi ABH dalam Peradilan Pidana

Hampir tiap minggu kita temukan di halaman surat kabar, berita mengenai anak yang melakukan kenakalan dan melanggar hukum. Jumlah mereka memang banyak, bahkan meningkat setiap tahunnya. Menjadi ironi ketika mayoritas kasus anak tersebut berujung pada hukuman penjara untuk anak. Kita semua paham berapa biaya yang harus dikeluarkan negara untuk proses hukum mulai dari tingkat kepolisian hingga putusan. Belum lagi biaya pribadi yang dikeluarkan oleh keluarga / masyarakat. Tetapi permasalahan yang pelik bukanlah hanya sekedar biaya.

Kebiasaan penegak hukum dalam penanganan kasus anak masih berkutat pada pengamanan tersangka anak agar tidak ulangi perbuatan atau melarikan diri. Caranya dengan penahanan badan dan ditempatkan di sel yang tersedia. Mulai dari penyidik di kepolisian, pelimpahan di kejaksaan, bahkan persidangan di pengadilan. Mayoritas menerapakan kebijakan penahanan seperti yang diperuntukan bagi tersangka dewasa.

Mindset yang terbangun masih stagnan bahwa penghukuman bagi pelaku adalah penjara. Pertanggungjawaban pidana baru sebatas normatif seperti yang tertulis dalam undang-undang. Terobosan hukum progresif masih segelintir diberlakukan. Hukuman yang bersifat edukasi dan rehabilitatif menjadi barang langka. Padahal menakar nilai kerugian korban tidak melulu dapat diwakilkan dengan hukuman badan pemenjaraan.

Kasus kriminalitas dengan anak sebagai pelaku masih belum banyak yang diselesaikan dengan jalur diversi, meskipun kewenangan ini melekat di aparat penegak hukum. Undang-undang No.11 tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Anak meneguhkan kembali kewenangan ini dalam beberapa pasalnya. Artinya, diversi ini sangat penting untuk mengurangi jumlah anak terpapar pengaruh negatif dari pemenjaraan. Pelibatan masyarakat dalam upaya diversi menjadi syarat mutlak untuk mewujudkan keadilan restoratif yang menjadi bagian dari prinsip perlindungan anak.

B. Tantangan Penanganan ABH

Lembaga pemasyarakatan khusus anak sangatlah terbatas, tercatat di Indonesia hanya ada 16 Lapas khusus Anak, di Jawa Tengah berada di Kutoarjo untuk dua propinsi yakni Jawa Tengah dan Jogjakarta. Anak lainnya yang tidak terakomodir di lapas khusus anak (terpaksa) berada di lapas umum atau rutan. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi penyedia layanan di dalam lapas / rutan umum yang pada awalnya hanya fokus pada program untuk orang dewasa. Kemenkum HAM sebagai institusi payung untuk lapas/rutan tidak dapat menolak seiring laju tingginya jumlah anak dengan vonis penjara.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional tahun 2010 – 2014 menempatkan anak dalam prioritas pembangunan. Perlindungan anak menjadi salah satu tugas wajib pemerintah sebagai penyelenggaran negara. Anak bukan semata aset negara, tapi merupakan investasi kemajuan sebua bangsa. Pemenuhan hak anak dalam segala situasi menjadi tugas bersama. Merujuk Konvensi Hak Anak dan UU Perlindungan Anak, mereka yang berhadapan dengan hukum (ABH) wajib mendapatkan perlindungan khusus. Kebijakan turunan pun hadir, seperti kesepakatan bersama beberapa kementerian untuk melakukan upaya khusus dan segera memenuhi hak dasar ABH.

Ditingkat pusat, setiap kementerian terkait telah membuat program-program menarik untuk ABH. Misalnya Kemensos dengan Program Kesejakteraan Sosial Anak (PKSA), Kemendikbud dengan Pendidikan Layanan Khusus (PLK), Kemenkes dengan jaminan kesehatan bagi anak di dalam Lapas. Namun kenyataannya pada tataran implementasi di wilayah, program tersebut tidak implementatif. Kuatnya egosektoral dari masing-masing pengampu program mengakibatkan ABH tidak mendapatkan penanganan maksimal. Hambatan birokrasi dan belum tersedianya panduan yang jelas kian menjauhkan program dari penerima manfaat.

Kapasitas lembaga terkait berikut sumber daya manusia dan finansial menjadi kebutuhan vital dalam pelaksanaan di tingkat lokal. ABH dengan vonis pidana penjara membutuhkan pendampingan rehabilitasi perilaku dan mental. Proses ini tidak berhenti disini saja, jaminan dukungan reintegrasi anak harus disiapkan juga. Ketika sumber daya penyedia layanan masih ditemui adanya kesenjangan, maka peningkatan kapasitas dan meningkatkan kerjasama antar institusi harus dibangun segera. Misalnya saja jumlah petugas BAPAS yang mampu melakukan pendampingan masih jauh dari cukup, ditambah jangkauan wilayah yang luas.

Data informasi ABH menjadi kebutuhan dasar ketika akan membuat desain pembinaan untuk mereka. Data di sini masih sebatas data yang bersifat umum dan belum menjangkau informasi perkembangan anak-anak selama di dalam lapas/rutan. Bukan hal tabu terkait fakta ABH tersebut yang masih jauh dari pemenuhan hak dasarnya. Situasi ini berpengaruh pada perilaku anak selama masa penahanan. Melemahnya potensi anak, kejenuhan, hingga muncul konflik diantara mereka adalah dampaknya. Dengan data dan informasi perkembangan anak yang tersaji akurat, diharapkan hal hal negative tersebut dapat diminimalisir terjadi.

C. Rumah Penahanan Ramah Anak

Penanganan ABH tidak dapat dilakukan hanya separsial dan menjadi beban satu pihak saja. Termasuk ABH di dalam lapas / rutan bukan tunggal menjadi tugas Kemenkum HAM. Pemerintah sebagai pengemban amanat perlindungan hak anak terdiri dari banyak institusi dan lembaga. Merekalah yang menjalankan mandat konstitusi dengan mengedepankan prinsip kepentingan terbaik bagi anak.

Permasalahan egosektoral sangat menghambat program rehabilitasi dan reintegrasi sosial bagi anak. Bilamana hal ini dibiarkan berlarut-larut, anak-anak sebagai pemegang hak berpotensi besar mendapatkan diskriminasi – kekerasaan – eksploitasi – perlakuan salah lainnya. Pendekatan berbasis sistem ditawarkan untuk mengatasi kesenjangan dalam ranah kebijakan / normative, struktur pelaksana mandat, hingga proses pelaksanaan.

Harapannya tidak muncul lagi penolakan dari Dinas Pendidikan untuk menyelenggarakan sekolah di dalam Lembaga Pemasyarakatan, pemeriksaan kesehatan oleh Dinkes, dan pendampingan oleh pekerja sosial. Pelibatan lembaga dan masyarakat perlu dilakukan untuk memperkuat program untuk anak.

Menciptakan rumah penahanan yang ramah anak bukan perkara gampang. Perlu komitmen kuat dari pemerintah diikuti semua institusi dibawahnya. Selanjutnya baru penyusunan kebijakan dan program yang terintegrasi serta jelas tupoksi masing-masing penerima mandat.  Misalnya tentang mekanisme percepatan proses pembebasan anak yang terintegrasi dengan program kementeriansosial seperti PKSA. Pada prinsipnya, seseorang dikenai penahanan badan beresiko pada tercerabutnya (hanya) kemerdekaan yang bersangkutan, bukan hak dasar lainnya. Anak-anak di balik terali besi membutuhkan perhatian kita semua untuk membangun masa depannya yang lebih baik dari sekarang.

Dian Sasmita_18 Oktober 2013

* Tulisan ini merupakan pendapat pribadi penulis sebagai refleksi proses interaksi dengan anak-anak di dalam lapas dan rutan sejak tahun 2009 *

HENTIKAN KEKERASAN TERHADAP ANAK!!

Pilu dengan pemberitaan Reza Eka Wardana (16 th) yang meninggal dunia pasca ‘penindakan’ oleh anggota kepolisian Polres Gunung Kidul. Nyawa menjadi taruhannya. Pemukulan hingga berujung koma dan meninggal tak sepadan dengan pelanggaran ringan yang dilakukan Reza. Peristiwa ini bukan untuk yang pertama kalinya terjadi. Anak- anak yang melakukan tindakan kriminal mendapatkan perlakuan kasar dari pihak kepolisian. Tindakan memukul, membentak, bahkan mengancam diri anak adalah tindakan yang sama sekali tidak diperkenankan, terlebih bagi anak yang sedang berhadapan dengan hukum. Anak dilindungi hak-haknya oleh hukum nasional maupun internasional. Konvensi dan hukum- hukum tersebut menentang upaya ancaman atau kekerasaan pada diri anak. Continue reading “HENTIKAN KEKERASAN TERHADAP ANAK!!”

Profil Yayasan Sahabat Kapas

SAHABAT KAPAS adalah organisasi non-pemerintah dan non-profit, yang berkedudukan di Karanganyar – Jawa Tengah, dan dioperasikan di tengah-tengah masyarakat sejak Agustus 2009. Organisasi ini semula bernama KAPAS yang dibangun, dikelola, dan digerakkan oleh pribadi-pribadi yang mempunyai keperdulian dan keprihatinan (care & concern) kepada Anak-anak dalam Kondisi Khusus dan Rentan (AKKR) khususnya anak-anak yang pada saat ini dipenjara dalam Rumah Tahanan Kelas I Surakarta. Pengurus-pengurus dan para pegiat SAHABAT KAPAS terdiri dari orang-orang yang sensitif terhadap kebutuhan anak yang untuk sementara waktu terpaksa menghuni penjara akibat melakukan pelanggaran hukum. Continue reading “Profil Yayasan Sahabat Kapas”