Exemple

 

Di pojok ruangan aula LPKA Kutoarjo, tampak boks plastik berukuran tidak terlalu besar. Dari luar, samar-samar bisa dilihat bahwa isinya tak terlalu penuh. Mungkin hanya separuhnya, bisa jadi lebih sedikit.

Beberapa orang yang berada di sekitarnya mungkin tidak akan tahu apa isi boks tersebut. Kecuali mereka mau berpayah membuka tutupnya dan meluangkan waktu untuk melongok sebentar ke dalam boks. Malah, bisa jadi, karena tak pernah disentuh, di atas boks seringkali dijejali beragam benda. Membuatnya semakin terhimpit dan tak terlihat.

Begitulah kadang kondisi boks-boks plastik wadah buku yang sengaja kami tinggal di LPKA, rutan, dan lapas. Buku-buku yang kami tinggal—agar anak di lapas leluasa meminjam dan tertarik meluangkan waktu untuk membaca—butuh waktu lebih lama untuk menemui pembacanya.

Tak selalu berhasil memang, seringkali anak-anak bilang bahwa bukunya tak menarik, membosankan, atau paling sering mereka ogah membaca karena rasa malas kadung menggelayut. Meski demikian, kami tak gentar terus membawa buku-buku baru. Hampir setiap dua minggu sekali, ketika kami berkunjung ke lapas, buku-buku kami ganti dengan judul yang baru. Memutarnya dari satu lapas ke lapas lain. Karenanya, program ini kami beri nama Buku Muter (berputar).

 

Mulanya Penuh Kendala
Putaran buku Kapas tak selalu berjalan mulus. Mulanya, ketika kami membawa buku-buku bacaan ke lapas, para petugas berkeras agar buku-buku dibawa kembali, “Jangan ditinggal, nanti hilang,” kira-kira begitu ucap mereka khawatir. Para petugas hanya tak bisa menjamin bahwa buku-buku yang kami bawa akan tetap utuh, cemas bukunya akan rusak, tak terawat, bahkan raib tak berjejak. Seperti yang sudah-sudah mungkin terjadi di lapas.

Kami tak bisa menyalahkan para petugas atas hal tersebut. Justru kami berterima kasih atas perhatian yang diberikan, tapi tekad kami bulat, buku tidak kami bawa hanya untuk dibawa kembali pulang. Dari awal kami sudah meniatkan diri, buku-buku akan kami tinggal agar anak binaan bisa mendapat alternatif kegiatan dan memiliki akses terhadap buku bacaan.

 

Sesudahnya, dengan beragam cara kami yakinkan para petugas bahwa ketika anak-anak diberi kepercayaan, merawat buku misalnya, mereka bisa bertanggung jawab. Kami berikan tanggung jawab ke anak-anak untuk merawat dan menjaga buku-buku tersebut. Ada yang bertugas mencatat peminjaman, menagih pengembalian, merapikan buku-buku, dan sebagainya. Dengan itu, kami mengajarkan cara bertanggung jawab dan memberikan mereka kesempatan untuk membuktikan diri bahwa mereka bisa diberi tanggung jawab.

Dan ya, tak semudah yang dibayangkan! Ada saja buku-buku yang halamannya robek, dipenuhi corat-coret, bahkan tak bisa dilacak keberadaannya. Kami sepenuhnya paham ini akan terjadi, dan yang kami lakukan adalah sekali lagi menaruh rasa percaya bahwa mereka adalah anak-anak yang bisa diberi tanggung jawab. Setelahnya, buku-buku yang raib kembali dengan sendirinya, buku tak lagi dipenuhi coretan, meski satu dua buku kumal dan koyak di beberapa halaman. Tapi, kami justru bahagia, artinya buku-buku tersebut tak lagi teronggok diam, namun perlahan berputar menemui para pembacanya. Justru, kami terharu, lambat laun dan dengan proses panjang, anak-anak mulai membaca buku-buku yang kami bawa. Setidaknya buku-buku tersebut bisa menemani mereka membunuh waktu.

 

Mengapa membaca
Hari-hari yang anak-anak di penjara jalani tak selalu berwarna. Terkadang, mereka bahkan hanya harus terus melakukan satu hal berulang-ulang. Selain dilanda kebosanan, anak juga pasti diserang kebingungan apa yang harus mereka lakukan untuk merintang-rintang waktu. Padahal, di usia remaja, anak harus terus mengembangkan kemampuan berimaji dan daya kreativitasnya. Anak-anak seharusnya terus mendapat asupan ilmu dan dukungan literasi.

Masa anak-anak dan remaja adalah saat kondisi kognitif serta memori berkembang. Dengan menyediakan akses bacaan, kami berharap dapat menanamkan kebiasaan baru pada anak-anak sehingga nantinya mereka bisa meneruskan kebiasaan tersebut di luar lapas. Syukur-syukur mereka bisa jatuh cinta dengan buku dan menyebarkan virus membaca kepada orang lain. Semoga.

Dengan membaca buku, kami harap anak-anak terhibur, bisa mendapat inspirasi, dan berpikiran terbuka terhadap berbagai hal. Kami tak bisa terus menemani mereka, aktivitas pendampingan pun hanya kami lakukan dengan waktu terbatas. Tapi, kami harap buku-buku yang ada dapat mewakili kami menemani hari mereka. Meski harus dibatasi dinding lapas, kami harap mereka bisa ‘berkelana kemana saja’ dengan membaca buku. Kami ingat bahwa Bung Hatta pernah berujar, “Aku rela dipenjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.”

 

Terus Berputar

Kami kini terus merentas jalan ini, terus menularkan virus membaca sambil berharap dukungan dari berbagai pihak. Sejak tahun 2014, saat Buku Muter secara resmi terbentuk, begitu banyak dukungan yang diberikan, baik dari dalam maupun luar lapas. Dukungan penuh kepada program literasi Kapas diberikan salah satunya oleh Eko Bekti Susanto, yang kala itu dengan gigih memperjuangkan berdirinya perpustakaan di Lapas Kelas IIB Klaten.

 

Dengan semangat literasi, Pak Eko yang saat itu menjabat sebagai Kalapas menembusi berbagai pihak untuk mendukung gagasannya mendirikan perpustakaan di dalam lapas. Gayung bersambut, gagasan Pak Eko mendapat respons positif, donasi berupa buku pun didapat dari berbagai pihak, termasuk dari masyarakat umum. Kini, para warga binaan di Lapas Kelas IIB Klaten dapat mengisi kegiatannya dengan membaca buku di perpustakaan.

 

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Hukum dan HAM juga memberi sinyal positif mengenai gerakan literasi dari dalam penjara. Kemenkumham tengah menggodok program remisi literasi yang mengadaptasi aturan Brazil tentang pemberian insentif kepada narapidana yang gemar membaca buku. Di Brazil, bagi mereka yang berhasil menyelesaikan membaca sebuah buku akan mendapatkan potongan masa hukuman 4 hari. Dalam setahun, apabila bisa menyelesaikan 12 buku, mereka bisa bebas 48 hari lebih cepat dari masa tahanan.

Uniknya, sistem yang mulai diberlakukan tahun 2012 ini tak sekadar meminta narapidana membaca, tapi juga menulis ulasan buku yang dibaca. Para petugas akan menilai tulisan tersebut untuk memutuskan pengurangan masa hukuman. Program yang diberi tajuk “Redemption Through Reading” tersebut ingin narapidana tak hanya menghabiskan waktu merenungi kesalahannya, melainkan juga membawa kebiasaan baik saat menghirup udara bebas nanti. Peter Murphy yang menulis untuk Reuters.com mewawancarai Andre Kehdi, pengacara yang mengepalai proyek sumbangan buku untuk penjara di Brazil. Kehdi mengatakan, “(Dengan membaca) seseorang akan meninggalkan penjara dengan pencerahan dan pandangan lebih luas terhadap dunia.”

Sistem yang diterapkan Brazil tersebut menjadi cara kreatif menularkan virus membaca, terutama bagi mereka yang terpaksa tinggal di dalam lapas dengan aktivitas yang terbatas. Usaha menumbuhkan kegemaran membaca tersebut tentu membutuhkan proses panjang dan berliku. Proses yang berjalan juga mungkin berputar-putar, seperti buku-buku yang kami putarkan di setiap perjumpaan dengan anak-anak di lapas. Namun, sekali lagi, kami percaya hal baik akan selalu menemui jalannya. Seperti buku-buku kami yang akhirnya bisa menyelinap di antara jeriji bui dan di hati anak-anak.

Alumnus Sastra Indonesia Universitas Negeri Yogyakarta. Saat ini bekerja sebagai editor dan penulis lepas. Penyuka buku dan film.

Read More →
Exemple

Setiap anak dengan kondisi spektrum autisme adalah unik dan cara autisme berdampak pada diri mereka, keluarga, dan lingkungan sekitarnya juga sangat unik. Hingga saat ini, belum ada definisi yang pasti mengenai autisme atau mengapa autisme bisa terjadi pada seorang anak. Hal ini yang membuat kurangnya pemahaman tentang apa arti sebenarnya hidup dengan autisme, tidak hanya bagi mereka yang mengidap autisme, tetapi juga bagi mereka yang merawat dan tinggal bersama dengan anak autisme.

Dikutip dari CNN Indonesia, Badan Dunia untuk Pendidikan dan Kebudayaan (UNESCO) pada 2011 memperkirakan ada 35 juta orang dengan autisme di dunia. Sementara itu, Badan Kesehatan Dunia (WHO) pada 2017 memaparkan bahwa 1 dari 160 anak di dunia hidup dengan autisme. Di Indonesia, meskipun belum ada penelitian resmi, Kementerian Kesehatan menduga ada sekitar 112 ribu anak autis dengan rentang usia 5-19 tahun. Jumlah tersebut diperkirakan terus mengalami peningkatan setiap tahunnya. Sayangnya, hingga saat ini anak dengan autisme masih mendapatkan stigma dan diskriminasi, termasuk dalam layanan kesehatan, pendidikan, dan kesempatan untuk berpartisipasi dalam komunitas sekitarnya.

Adalah Howard Buten, seorang penulis dan psikolog klinis Amerika Serikat yang mencoba menawarkan perspektif unik terhadap anak-anak dengan autisme dan apa yang bisa kita lakukan untuk membantu mereka. Buten yang juga merupakan pendiri institusi perawatan bagi orang-orang dengan autisme di Paris, Adam Shelton Centre, butuh waktu hampir 30 tahun untuk menuliskan buku yang ia beri judul, Through the Glass Wall: Journeys into the Closed-Off.

Buten kecil selalu berkeinginan menjadi dokter. Keinginannya tersebut mendorong Buten sering menghabiskan liburan musim panasnya dengan menjadi relawan. Pada usia 14 tahun, ia menjadi relawan di laboratorium patologi sebuah rumah sakit tempat kenaIan ayahnya bekerja. Di sana, ia belajar membuat katalog sampel-sampel parafin, membawa tabung-tabung percobaan, serta belajar menggunakan mikroskop. Ini membuat keinginannya menjadi seorang dokter semakin menggebu.

Selain di rumah sakit, Buten juga pernah menghabiskan liburan musim panasnya dengan bekerja sebagai relawan di berbagai perkemahan untuk anak-anak berkebutuhan khusus. Ia juga pernah bekerja dengan anak-anak di daerah kumuh di pusat kota dan anak-anak psikotik dari keluarga yang kurang mampu. Namun, persinggungan pertama dan alasan terbesar Buten menulis buku ini baru terjadi di tahun 1974, tepat pertama kalinya ia bertemu dengan Adam S., seorang anak yang menuntunnya memasuki dunia di balik dinding autisme.

Pemikiran bahwa anak-anak autisme dikelilingi sebuah dinding kaca (tembus pandang) diperoleh Buten dari psikiater Leo Kanner, yang menamai kondisi ini pada 1943. Kanner berpendapat orang dengan autisme memiliki “kesan kesendirian” yang membuat mereka berperilaku seakan-akan mereka benar-benar sendirian di dalam sebuah ruang, meskipun sebenarnya mereka tidak sendiri. Keberadaan dinding tak kasat mata inilah yang membedakan autisme dengan cacat dan patologi lain. Dengan berbagai cara, Buten mencoba untuk masuk dan melangkah lebih jauh bersama anak-anak autistik untuk memahami dan melihat dunia mereka lebih dekat. Ia mulai menciptakan metode-metode yang terkadang berhasil (dan seringkali gagal) ia gunakan pada anak-anak bimbingannya. Bahkan, di akhir buku Buten mengakui bahwa tidak ada penyembuhan atau penjelasan konkret bagaimana kita harus memperlakukan anak-anak dengan autisme.

Dengan berbagai anekdot yang diambil dari perjalanan Buten selama mendampingi anak autis di berbagai lembaga, buku ini menekankan pada terciptanya empati antara terapis dan anak-anak. Buten mencoba untuk merasakan apa yang mereka rasakan, melakukan apa yang mereka lakukan, dan mencoba untuk menerka apa yang mereka pikirkan. Menurut Buten, dengan meniru perilaku mereka, kita dapat membuat sebuah interaksi, hingga pada akhirnya mereka dapat merasakan keberadaan kita.

Selain menawarkan beberapa metode untuk menghadapi anak autis, Buten juga memperkaya buku ini dengan berbagai referensi medis dan teoritis mengenai autisme. Dengan membaca buku ini, kita akan diajak berkenalan dengan Temple Grandin, Sigmund Freud, Jacques Lacan, yang secara langsung maupun tidak, membahasa mengenai spektrum autisme. Di samping kaya akan referensi, kita juga dimanjakan dengan penjelasan medis mengenai autisme yang dipaparkan dengan bahasa sederhana dan menyenangkan. Gambaran pengalaman Buten sebagai terapis juga bisa membantu kita memahami apa yang bisa kita lakukan bagi mereka yang hidup dengan autisme. Buten memberikan contoh bagaimana kita harus bersama-sama menciptakan lingkungan unik bagi anak dengan autisme yang memungkinkan mereka memiliki kepemilikan atas kehidupan dan masa depan.

Yang jelas, Buten tidak hanya berusaha mengetuk dinding kaca di mana anak-anak dengan autisme berada. Ia berusaha keras untuk melangkah masuk dan menerima mereka dengan sepenuh hati. Untuk itulah dalam salah satu fragmen Buten menulis, “Tingkat keganasan anak, lingkup perilakunya yang tidak semestinya, maupun keparahan patologi mereka, tidak boleh digunakan sebagai alasan untuk menolak menerima mereka.”

Alumnus Sastra Indonesia Universitas Negeri Yogyakarta. Saat ini bekerja sebagai editor dan penulis lepas. Penyuka buku dan film.

Read More →