Anak di Lapas dan Pendidikan

Hak-hak anak sesuai dengan Konvensi Hak Anak pastilah sudah sangat melekat di benak para aktivis yang memiliki passion di dunia anak. Keempat hak dasar anak tersebut seperti sebuah senjata utama yang digunakan di dalam mengusung perlindungan terhadap anak dalam ranah apapun. Apa sajakah keempat hak dasar tersebut? Ada (1) Hak Hidup, (2) Hak Tumbuh dan Berkembang, (3) Hak Mendapat Perlindungan, dan (4) Hak untuk Ikut Berpartisipasi. Hak-hak tersebut saling berjalan beriringan, tidak boleh dipisah-pisahkan.

Yang menjadi permasalahan yakni, bagaimana dengan pemenuhan hak anak yang menjadi narapidana? Bukankah pencabutan sebagian hak yang dimiliki oleh individu merupakan salah satu dari bentuk pemidanaan? Lalu jika narapidananya adalah anak, apakah hak-hak yang melekat pada diri anak juga ikut dicabut sebagai bentuk dari pemidanaan?

Kita kembali ke hak dasar anak di atas. Bahwasanya hak-hak tersebut tidak bias dipisahkan. Hak dasar memiliki arti bahwa bagaimana pun juga dalam keadaan apapun juga, hak-hak tersebut harus tetap dipenuhi. Sehingga walaupun anak tersebut berada di dalam Lapas maka hak-hak dasar anak harus tetap dipenuhi.

Yang akan kita bahas dalam tulisan ini adalah hak pendidikan anak yang merupakan salah satu hak dasar yang harus mereka dapatkan. Jika anak berada di dalam Lapas, otomatis mereka akan dikeluarkan dari sekolah. Dari pihak sekolah pun akan mengeluarkan anak dengan alas an anak tersebut adalah seorang narapidana yang nanti bias saja menjelekkan almamater sekolah. Hal ini menjadikan anak kehilangan hak untuk mendapatkan pendidikan formalnya. Padahal, pendidikan adalah hal yang sangat penting. Penting tidak hanya untuk saat ini saja, akan tetapi juga untuk masa depan anak. Pendidikan formal bagi anak tidak hanya sebagai pemenuhan hak mereka, namun pendidikan sudah menjadi kebutuhan bagi mereka. Tidak mungkin bukan seorang anak yang adalah “mantan narapidana”, tidak berhak mendapatkan masa depan yang cerah?

Meskipun seorang anak merupakan narapidana atau anak yang ada di Lapas, mereka tetap harus dipenuhi hak pendidikannya. Terlebih adalah pendidikan formal, mengingat persaingan di dunia global saat ini. Anak merupakan generasi penerus bagi yang sudah tua. Anak merupakan pembangun bangsa di kemudian hari. Anak di sini adalah siapapun, tanpa terkecuali. Seorang anak bekas narapidana juga memiliki kewajiban untuk membangun bangsanya agar bias menjadi lebih baik bukan? Mereka bukanlah sampah masyarakat yang kemudian harus dibuang. Jangan lupa bahwa sampah saja bias didaur ulang, dan nilainya bias jadi melangit. Pendidikan formal sangat dibutuhkan bagi anak-anak, terlebih untuk anak di Lapas.

Dari pihak penegak hokum selaku pihak negara, seharusnya memberikan fasilitas pendidikan formal bagi anak-anak yang berada dalam Lapas. Penuhi hak-hak mereka sebagaimana juga memenuhi hak pendidikan anak yang di luar Lapas. Penuhi hak mereka tanpa adanya diskriminasi. Jangan membiarkan anak untuk memilih, mau atau tidak mau sekolah lagi atau ikut kelas Kejar Paket karena mereka masih tergolong anak yang keadaan jiwanya pun masih labil. Setidaknya dari pihak yang berwenang memberikan perintah untuk mengharuskan setiap anak yang ada di Lapas, tetap mengikuti pendidikan formal yang disediakan oleh pihak yang berwenang. Di samping pendidikan formal, pihak yang berwenang perlu juga menyediakan pembekalan keterampilan agar dapat mengasah kreativitas anak dan juga sebagai hiburan agar anak tidak merasa bosan dengan kegiatan yang itu-itu saja. Karena kondisi jiwa anak menuntut untuk masih suka bermain dan bersenang-senang.

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang cerdas, maka jangan membodohkan anak-anaknya sendiri. Mari cerdaskan anak cucu kita agar Indonesia menjadi negara yang semakin maju. Buktikan pada dunia bahwa bangsa kita adalah bangsa yang mempedulikan nasibnya dengan cara mengembangkan potensi anak-anaknya. Semoga bangsa ini kian menjadi bangsa yang besar dengan bangganya kita terhadap anak-anak kita. Sesuatu akan menjadi besar jika dikumpulkan dari sesuatu yang kecil. Ingatlah bahwa dalam pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945, salah satu tujuan negara adalah mencerdaskan kehidupan bangsa.

 

Ditulis oleh N. Yukamujrisa (Relawan Sahabat Kapas)

You Might Also Like

Published by

admin

Sahabat Kapas adalah organisasi nonpemerintah dan nonprofit, yang berkedudukan di Karanganyar, Jawa Tengah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.